TITIK 1: Wajah Terkejut itu Aku Menyukainya…

2016…

Aku tak bisa mengatakan banyak hal. Hanya saja segalanya menjadi begitu menariknya hari ini… tahun ini. Sesungguhnya jika dipikir kembali aku mengawali tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumya. Apa aku perlu memberitahumu? Bukan hal besar, hanya sesuatu yang ingin selalu dirayakan oleh banyak orang, menanti ucapan selamat yang entah bernilai apa, dan sebuah kejutan. Terkadang beberapa orang terlampau menginginkannya hingga memberikan kode-kode amatir yang bagiku menggelikan. Oh ayolah! Aku takkan pernah melakukannya jika saja menghargai orang lain tidaklah diperlukan. Jangan berprasangka buruk padaku! Tetapi aku juga tidak peduli terlalu banyak jikalau kalian berniat melakukannya.

Seseorang pernah mencoba menilaiku dengan mengatakan “Kamu adalah salah satu orang yang berani melepas zona nyamanmu”. Kamu bertanya apa aku mengerti? Entahlah, jika hal-hal semacam mematikan telepon selama beberapa hari dan menguburnya dikolong tempat tidur karena menghindari gangguan adalah bukan salah satunya… maka, ya. Sangat mungkin kecuali jika bukan. Aku tahu, aku tak berhasil membuat suasana menjadi lucu. Tetapi sungguh aku tak mengetahui bagian mana dari diriku yang melakukannya hingga seseorang menilaiku demikian. Kupikir aku peduli saja…

Beberapa waktu lalu aku memulai segala rutinitas hidupku. Tentu saja aku berharap ini berbeda dari biasanya, terlalu membosankan jika tak ada satu hal pun yang berniat untuk berubah. Tapi ya, apa aku baru saja kecewa? Itu hal biasa di negaraku. Tak perlu berharap banyak. Kemudian waktu menunjukkan saatnya. Seseorang terlihat memasuki sebuah ruangan. Keriput di wajahnya dan cara berjalannya yang lamban memastikan penilaian setiap orang. Tua… ah, apa hanya aku saja yang membenci usia yang beranjak. Beliau terlihat masih cukup bahagia dengan hidup dan produk ‘antikumannya’. Jangan tanya apa maksudnya, aku tak berniat sedikitpun untuk memberitahumu. Memulai ceramah panjangnya dengan petuah-petuah yang bagiku sama saja dengan yang diucapkan siapapun hingga kemudian telunjuknya terlihat mengarah padaku yang diikuti sebaris pertanyaan yang teramat membosankannya bagiku.

“Berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk dunia mayamu?”.

“1 % saja”, jawabku sekenannya.

“Bagaimana dengan buku, berapa banyak kau bersedia membuang uangmu?” tanya beliau santai tetapi kali ini diikuti tatapan meremehkan. Seakan sudah dapat memastikan saja jawaban yang akan aku lontarkan. Mata itu menatapku intens, tapi sayang itu membuatku membaca terlalu banyak dari seharusnya.

“Sangat fleksibel, Sampai uang didalam rekening tak akan cukup lagi hanya untuk sekedar membeli koran edisi diskon di awal tahun”, tambahku dalam hati. Hey! Tentu saja aku tak mengatakannya.

Lihatlah! Ekspresi macam apa itu. Kenapa seorang akademisi begitu terkejutnya hanya karena budget buku yang sebenarnya tak seberapa. Atau lebih tepat dikatakan bahwa beliau menantikan jawaban lain yang tentunya tidak relevan denganku. Jika boleh menebak, pasti beliau sudah menyiapkan petuah ‘manis’ dibalik tatapan mata terkejut itu. Sebuah ejekan yang membosankan. Namun sayangnya aku sedang tidak berminat untuk menyenangkan orang lain. Kemudian drama menghibur itu berkahir dengan kalimat tercepat yang mungkin dipikirkan oleh orang yang terlalu terkejut “Lanjutkan”, katanya dengan tersenyum yang aku tak peduli lagi akan maksud dibaliknya. Tetapi jika aku boleh memberikan jawaban maka “Anda tak perlu melakukannya. Aku tahu batas sadarku tetapi terima kasih, ini hiburan yang cukup menarik. Mungkin aku akan mencoba melucu di lain waktu”.

HYN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s