Produk Antikuman LEBAY!

Huh? 이거 뭐하냐?? *Deman satoori Busan sama Daegu-nya Min Suga* Oh may god! Hello abad ke-21!! Sebenarnya, aku merasa sedikit aneh untuk menuliskan artikel ini. Karena ya, akhir-akhir ini aku sedikit sensitif dengan kata ‘salah jurusan’ jadi takutnya aku dibilang salah jurusan lagi dan disarankan untuk masuk di fakultas MIPA, secara gitu, sampai hari ini belum ada yang nyaranin aku masuk fakultas MIPA. #fellMultitalentAgain. Forget it. Okey!

Pernahkah kalian merasa bahwa di abad ke-21 ini sesungguhnya kita mengalami pelemahan yang cukup singnifikan dibanding 20 tahun sebelumnya. Lucunya adalah entah sadar atau tidak kemajuan teknologi kitalah yang melakukannya. Kalian tentu menginginkan bukti bukan? Aku tak melupakanya.

Ide menulis artikel ini pertama kali muncul setelah tanpa sengaja masuk ke dalam sebuah situs milik seseorang saat sedang mencari info tentang TOEFL Preparation, aku menyebutnya daddy-daddy Nyentrik karena ya, penulisnya udah daddy-daddy tapi… lebay jiwa ABG-nya masih top-lah. Contoh pertamanya adalah tentang hubungan meningkatnya penggunaan produk-produk “antikuman” dengan kasus alergi dan asma. Di abad ke-21 ini rasanya manusia itu semkain manja saja, misal alergi. Penjelasan sederhananya sih kalau menurut daddy-daddy Nyentrik, imunitas yang LEBAY. Gimana nggak disebut lebay coba, kalau cuma gara-gara serbuk bunga, boneka berbulu seseorang bisa menderita alergi akut. Akhirnya apa, sesuatu yang sebenarnya Harmless bisa jadi berbahaya. Duh-duh nggak bisa menikmati lembutnya hidup tuh.

Sekarang apa hubungan si alergi LEBAY ini dengan produk antikuman, seperti sabun antikuman, tisu antikuman, gel antikuman, dan sejuta produk antikuman lainnya?? *ggSebutMerkLohYa*

Sudah sejak lama para Ilmuwan menduga bahwa kasus meningkatnya alergi pada anak-anak di negara maju adalah dikarenakan tingginya penggunaan produk antikuman dalam rumah tangga. Teori ini disebut “The Hygiene Hypothesis”: semakin higienis dan steril tempat anak bertumbuh, maka semakin besar resiko sistem imunitas si anak menjadi lebay, dan akhirnya makin rentan alergi. Duh jadi keinget dosen baru di kampus yang sterilnya minta ampun. *maafPakNggakNgatainLoh*.

Sistem imunitas manusia tidak serta merta menyediakan paket komplit semacam paket internet ya. Sama seperti manusia, dia juga perlu untuk ‘BELAJAR’ sehingga nantinya dia menjadi tahu dan mahir. Secara sederhana, The Hygiene Hypothesis ingin menyampaikan bahwa lingkungan anak yang terlalu steril membuat sistem imunitasnya tidak “berkenalan” dengan macam-macam mikroorganisme. Produk antikuman akan membunuh mikroba yang buruk maupuan yang baik. Akibatnya ketika bertemu dengan hal-hal yang sesungguhnya Harmless semacam serbuk bunga dan boneka berbulu sistem imun anak mendadak NORAK dan bereaksi lebay.

Bandingkan dengan anak-anak pada zaman nenek dan kakek kita dahulu, tidak ada yang se-NORAK sekarang, karena apa? Sistem imun mereka dilatih untuk “BELAJAR” mengenali jenis-jenis mikroba disekitar kita saat mereka bermain di luar rumah seperti bermain bola, menyentuh binatang dan lain sebagainya. Alhasil sistem imun mereka menjadi lebih ‘diligent’ dan nggak NORAK seperti sekarang.

Tentunya The Hygiene Hypothesis tidak berarti anak harus kotor-kotoran terus tetapi lebih ke mengajak sistem imun anak untuk mengenali mikroba-mikroba disekitar mereka sehingga tidak timbul alergi LEBAY nan NORAK nanti dimasa depan mereka karena dia menjadi lebih kebal. Rasa-rasanya setuju deh sama salah satu iklan detergen yang bilang ‘Berani Kotor Itu Baik’.

Sama seperti daddy-daddy Nyentrik, aku juga jadi berpikir apa mungkin teori biologi diatas bisa diaplikasikan untuk menganalisis krisis mental yang sedang kita hadapi sekarang. Apakah karena lingkungan yang terlalu ‘steril’ inilah yang meyebabkan anak-anak di abad ke-21 ini menjadi lembek, lost power, tidak berpendirian, dan gampang dipupuskan. Apakah sekarang generasi kita sedang menciptakan ‘imunitas mental’ yang NORAK dan LEBAY?

Mari kita ambil kasus yang sederhana yakni Bullying. Sejujurnya aku tidak bisa berkomentar banyak untuk ini tetapi mungkin jika dianalisis kasus bullying itu memiliki tingkatan mulai dari yang sederhana misal sekedar mencemooh sampai pada kasus yang sangat serius yang berujung kematian. Jika kalian bertanya apakah aku pernah di bully? Entahlah, tetapi dari beberapa tingkatan kupikir… ya bisa disebut demikian. Tidak bisa dipungkiri bahwa yag namanya mengalami bullying adalah kondisi yang cukup menyulitkan, akan tetapi jika kita melihatnya dari hikmah yang posittif semacam produk antikuman tadi maka mungkin itu bisa dijadikan pelajaran untuk hidup kita kedepannya karena mental kita telah di tempa melalui kasus bullying. Aku tentunya tidak membenarkan adanya bullying karena itu juga menyangkut kriminalitas, akan tetapi, jika kita sudah terlanjur mengalaminya maka ya, ambil saja hikmahnya seperti kasus produk antikuman tadi sehingga kedepannya kamu menjadi lebih kuat. Selain itu, kasus bullying juga bisa kamu jadikan motivasimu untuk menunjukkan pada mereka bahwa kamu more precious than them.

Mungkin sampai disini dulu readers. Semoga kalian bisa banyak belajar dari artikel ini, dan tentu aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian mau untuk sedikit meluangkan waktu kalian untuk berselancar disini. Tentu aku menyadari bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dari tulisan-tulisan yang telah aku terbitkan. Aku mencoba yang terbaik, aku juga belajar banyak seperti kasus produk antikuman. Hanya saja aku tidak akan pernah bisa untuk menjadi sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Oleh karena itu, jika berkenan sempatkanlah untuk mengkritik dan memberi saran untuk tulisan-tulisanku, sehingga kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi.

Good Bye and See you. Kiss-kiss…

HYN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s