Gambar

Fight Unfair for Child

Ben_fight_Unfair_001
Fight Unfair

Do you know what miracles means? For me, miracle is when I was able to deal with small children. In my life I hate children so much until someone told like “Why did you hate child? You know they are really cute Widya. Please, I don’t know what will happen to your children if you have them later”. And I will answer like “You think I also know”. I just think if they are very annoying and I hate distraction more than anything. So, that why I don’t like them. I have a reasonable cause okay. But this year, I don’t know what happened suddenly I love them so much more than I hate them. I just feel something with them. Should I call that “Love”. Maybe…

This year war was everywhere. The world is really crazy today. Look to Palestine, Pakistan, Yemen, Syirian, etc. There are so many children. They don’t know anything, but because of the war, they experienced terrible suffering in their lives. Do you think it’s true? NO! I’ve even run out of words to comment. You may hear about Malala Yousafzai. Yeah, she was one of those who suffered the effects of the cruel war. But now, she had a good life and she got the Nobel peace at a very young age. She was even a year younger than me. I feel embarrassed with her because at a very young age she is already doing a lot of things to the world, but I’m not doing anything. If you want to ask me what the reason that why I was fascinated with her. I just have two answer. The first, she said that education is the right of all people. This is the reason that why she did not reply to the letter sent by the Taliban when she was hospitalized at Queen Elizabeth in England. And I also think that education is the right of all people. There is no reason for anyone to restrict our education because it is the right of every person. Second, is because her counsel that says “One child, one teacher, one book, one pen can change the world”. Yeah, it’s true because the things that can change the world is KNOWLEDGE. That why education is very important for everyone.

So, how can I bear to see them cornered in the area of fear a conflict with splattered blood and tears that kept flowing. I am still a human. I have a feel. Then, look at so many children in desolate place who are trying hard to get an education. I can’t bear to see it. I want them to get a good education as well as me. So, for everyone, let’s fight unfair because small children are the foundation of a country and to build a strong foundation we need a strong material anyway. And the foundation is Good Education. So, let’s help them as much as possible. Since they are entitled to a good education. Fighting!

HYN

Iklan
Gambar

TITIK 2: Connecting The DOTS

Connect the Dots

6 bulan yang lalu seseorang pernah menanyakan suatu hal padaku. Dia menanyakan tentang bagaimana aku bisa tahan untuk membaca buku dimanapun aku berada. Bahkan saking fleksiblenya seseorang yang lain pernah berkata demikian “Kamu nggak mau baca juga di bioskop?” Jangan bodoh! Aku memiliki kans besar untuk mendepak seseorang. Kemudian, dia juga bercerita bahwa setiap dia akan mulai untuk membaca maka rasa kantuk akan mendera beberapa menit setelahnya. Saat itu aku pun juga bingung harus menjawab dengan jawaban seperti apa. Dan justru aku juga baru memikirkannya setelah seseorang melontarkan pertanyaan tersebut. Akhirnya aku hanya mengatakan aku tidak bisa memberikan jawaban yang cukup menarik sekarang.

Waktu berlalu. Kamu berpikir aku melupakannya? Jangan salah, aku seperti dihantui oleh rasa penasaranku sendiri. Terkadang terlintas di pikiranku untuk melakukan suatu penelitian dari berbagai disiplin ilmu yang salah satunya adalah psikologi. Tetapi sayangnya sampai hari ini aku belum menemukan jawaban yang kiranya relevan. Hingga suatu hari aku mencari info tentang TOEFL preparation dan disanalah aku menemukan sesuatu yang setidaknya bisa memberikan jawaban yang cukup menarik. Dan kukira memang itulah jawabnnya. Kamu penasaran? Kukira kau akan mengataiku klise setelahnya. Tetapi aku akan memberikan jawaban itu, Dan jawabnnya berasal dari pidato yang disampaikan oleh Steve Jobs di Stanford University pada 12 Juni 2005. Dimana saat itu dia mengatakan tentang “Connecting the Dots”. It’s mean that everything are interrelated. And I think I did it because the dots are interconnected become a network. You know what I mean, right?

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa ada suatu hal yang selalu aku lakukan dahulu hingga itu menjadikanku seperti sekarang. Tidak ada sesuatu hal pun yang terjadi begitu saja bukan? Aku tahu abad ini adalah abad boks mie instan. Tapi berhentilah berpikir instan juga karena itu benar-benar menggelikan.

Tetapi jika di ingat kembali kalau tidak salah aku memiliki kebiasaan unik saat belajar khususnya Bahasa Indonesia atau bahkan di pelajaran matematika sekalipun yakni membaca cerita pendek yang ada di buku tersebut. Aku akan bercerita sedikit, tapi ini benar-benar buruk. Sepertinya aku melakukannya untuk mengelabuhi ibuku karena dengan begitu ibu akan berpikir aku sedang belajar mengerjakan soal-soal yang ada dibuku. Kamu tentu tahu saat kita masih di sekolah dasar biasanya kita akan diberikan buku yang disebut LKS, yang mana materi dan soal-soal latihan berada dalam satu buku yang sama. Dan sepertinya aku memanfaatkan hal tersebut untuk menutupi rasa malas belajarku. Astaga! Jadi aku benar-benar melakukannya? Kupikir aku layak disebut durhaka. Eomma Mianhae. Jinjja Sarangahe.

The last, untuk kalian yang mau membaca maka pastikan dahulu berapa persen hatimu menginginkannya, dan bayar itu dengan mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat meningkatkan keinginanmu untuk membaca. There is no free lunch. All Clear! Fighting!

HYN

Gambar

TITIK 1: Wajah Terkejut itu Aku Menyukainya…

2016…

Aku tak bisa mengatakan banyak hal. Hanya saja segalanya menjadi begitu menariknya hari ini… tahun ini. Sesungguhnya jika dipikir kembali aku mengawali tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumya. Apa aku perlu memberitahumu? Bukan hal besar, hanya sesuatu yang ingin selalu dirayakan oleh banyak orang, menanti ucapan selamat yang entah bernilai apa, dan sebuah kejutan. Terkadang beberapa orang terlampau menginginkannya hingga memberikan kode-kode amatir yang bagiku menggelikan. Oh ayolah! Aku takkan pernah melakukannya jika saja menghargai orang lain tidaklah diperlukan. Jangan berprasangka buruk padaku! Tetapi aku juga tidak peduli terlalu banyak jikalau kalian berniat melakukannya.

Seseorang pernah mencoba menilaiku dengan mengatakan “Kamu adalah salah satu orang yang berani melepas zona nyamanmu”. Kamu bertanya apa aku mengerti? Entahlah, jika hal-hal semacam mematikan telepon selama beberapa hari dan menguburnya dikolong tempat tidur karena menghindari gangguan adalah bukan salah satunya… maka, ya. Sangat mungkin kecuali jika bukan. Aku tahu, aku tak berhasil membuat suasana menjadi lucu. Tetapi sungguh aku tak mengetahui bagian mana dari diriku yang melakukannya hingga seseorang menilaiku demikian. Kupikir aku peduli saja…

Beberapa waktu lalu aku memulai segala rutinitas hidupku. Tentu saja aku berharap ini berbeda dari biasanya, terlalu membosankan jika tak ada satu hal pun yang berniat untuk berubah. Tapi ya, apa aku baru saja kecewa? Itu hal biasa di negaraku. Tak perlu berharap banyak. Kemudian waktu menunjukkan saatnya. Seseorang terlihat memasuki sebuah ruangan. Keriput di wajahnya dan cara berjalannya yang lamban memastikan penilaian setiap orang. Tua… ah, apa hanya aku saja yang membenci usia yang beranjak. Beliau terlihat masih cukup bahagia dengan hidup dan produk ‘antikumannya’. Jangan tanya apa maksudnya, aku tak berniat sedikitpun untuk memberitahumu. Memulai ceramah panjangnya dengan petuah-petuah yang bagiku sama saja dengan yang diucapkan siapapun hingga kemudian telunjuknya terlihat mengarah padaku yang diikuti sebaris pertanyaan yang teramat membosankannya bagiku.

“Berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk dunia mayamu?”.

“1 % saja”, jawabku sekenannya.

“Bagaimana dengan buku, berapa banyak kau bersedia membuang uangmu?” tanya beliau santai tetapi kali ini diikuti tatapan meremehkan. Seakan sudah dapat memastikan saja jawaban yang akan aku lontarkan. Mata itu menatapku intens, tapi sayang itu membuatku membaca terlalu banyak dari seharusnya.

“Sangat fleksibel, Sampai uang didalam rekening tak akan cukup lagi hanya untuk sekedar membeli koran edisi diskon di awal tahun”, tambahku dalam hati. Hey! Tentu saja aku tak mengatakannya.

Lihatlah! Ekspresi macam apa itu. Kenapa seorang akademisi begitu terkejutnya hanya karena budget buku yang sebenarnya tak seberapa. Atau lebih tepat dikatakan bahwa beliau menantikan jawaban lain yang tentunya tidak relevan denganku. Jika boleh menebak, pasti beliau sudah menyiapkan petuah ‘manis’ dibalik tatapan mata terkejut itu. Sebuah ejekan yang membosankan. Namun sayangnya aku sedang tidak berminat untuk menyenangkan orang lain. Kemudian drama menghibur itu berkahir dengan kalimat tercepat yang mungkin dipikirkan oleh orang yang terlalu terkejut “Lanjutkan”, katanya dengan tersenyum yang aku tak peduli lagi akan maksud dibaliknya. Tetapi jika aku boleh memberikan jawaban maka “Anda tak perlu melakukannya. Aku tahu batas sadarku tetapi terima kasih, ini hiburan yang cukup menarik. Mungkin aku akan mencoba melucu di lain waktu”.

HYN

Gambar

Produk Antikuman LEBAY!

Huh? 이거 뭐하냐?? *Deman satoori Busan sama Daegu-nya Min Suga* Oh may god! Hello abad ke-21!! Sebenarnya, aku merasa sedikit aneh untuk menuliskan artikel ini. Karena ya, akhir-akhir ini aku sedikit sensitif dengan kata ‘salah jurusan’ jadi takutnya aku dibilang salah jurusan lagi dan disarankan untuk masuk di fakultas MIPA, secara gitu, sampai hari ini belum ada yang nyaranin aku masuk fakultas MIPA. #fellMultitalentAgain. Forget it. Okey!

Pernahkah kalian merasa bahwa di abad ke-21 ini sesungguhnya kita mengalami pelemahan yang cukup singnifikan dibanding 20 tahun sebelumnya. Lucunya adalah entah sadar atau tidak kemajuan teknologi kitalah yang melakukannya. Kalian tentu menginginkan bukti bukan? Aku tak melupakanya.

Ide menulis artikel ini pertama kali muncul setelah tanpa sengaja masuk ke dalam sebuah situs milik seseorang saat sedang mencari info tentang TOEFL Preparation, aku menyebutnya daddy-daddy Nyentrik karena ya, penulisnya udah daddy-daddy tapi… lebay jiwa ABG-nya masih top-lah. Contoh pertamanya adalah tentang hubungan meningkatnya penggunaan produk-produk “antikuman” dengan kasus alergi dan asma. Di abad ke-21 ini rasanya manusia itu semkain manja saja, misal alergi. Penjelasan sederhananya sih kalau menurut daddy-daddy Nyentrik, imunitas yang LEBAY. Gimana nggak disebut lebay coba, kalau cuma gara-gara serbuk bunga, boneka berbulu seseorang bisa menderita alergi akut. Akhirnya apa, sesuatu yang sebenarnya Harmless bisa jadi berbahaya. Duh-duh nggak bisa menikmati lembutnya hidup tuh.

Sekarang apa hubungan si alergi LEBAY ini dengan produk antikuman, seperti sabun antikuman, tisu antikuman, gel antikuman, dan sejuta produk antikuman lainnya?? *ggSebutMerkLohYa*

Sudah sejak lama para Ilmuwan menduga bahwa kasus meningkatnya alergi pada anak-anak di negara maju adalah dikarenakan tingginya penggunaan produk antikuman dalam rumah tangga. Teori ini disebut “The Hygiene Hypothesis”: semakin higienis dan steril tempat anak bertumbuh, maka semakin besar resiko sistem imunitas si anak menjadi lebay, dan akhirnya makin rentan alergi. Duh jadi keinget dosen baru di kampus yang sterilnya minta ampun. *maafPakNggakNgatainLoh*.

Sistem imunitas manusia tidak serta merta menyediakan paket komplit semacam paket internet ya. Sama seperti manusia, dia juga perlu untuk ‘BELAJAR’ sehingga nantinya dia menjadi tahu dan mahir. Secara sederhana, The Hygiene Hypothesis ingin menyampaikan bahwa lingkungan anak yang terlalu steril membuat sistem imunitasnya tidak “berkenalan” dengan macam-macam mikroorganisme. Produk antikuman akan membunuh mikroba yang buruk maupuan yang baik. Akibatnya ketika bertemu dengan hal-hal yang sesungguhnya Harmless semacam serbuk bunga dan boneka berbulu sistem imun anak mendadak NORAK dan bereaksi lebay.

Bandingkan dengan anak-anak pada zaman nenek dan kakek kita dahulu, tidak ada yang se-NORAK sekarang, karena apa? Sistem imun mereka dilatih untuk “BELAJAR” mengenali jenis-jenis mikroba disekitar kita saat mereka bermain di luar rumah seperti bermain bola, menyentuh binatang dan lain sebagainya. Alhasil sistem imun mereka menjadi lebih ‘diligent’ dan nggak NORAK seperti sekarang.

Tentunya The Hygiene Hypothesis tidak berarti anak harus kotor-kotoran terus tetapi lebih ke mengajak sistem imun anak untuk mengenali mikroba-mikroba disekitar mereka sehingga tidak timbul alergi LEBAY nan NORAK nanti dimasa depan mereka karena dia menjadi lebih kebal. Rasa-rasanya setuju deh sama salah satu iklan detergen yang bilang ‘Berani Kotor Itu Baik’.

Sama seperti daddy-daddy Nyentrik, aku juga jadi berpikir apa mungkin teori biologi diatas bisa diaplikasikan untuk menganalisis krisis mental yang sedang kita hadapi sekarang. Apakah karena lingkungan yang terlalu ‘steril’ inilah yang meyebabkan anak-anak di abad ke-21 ini menjadi lembek, lost power, tidak berpendirian, dan gampang dipupuskan. Apakah sekarang generasi kita sedang menciptakan ‘imunitas mental’ yang NORAK dan LEBAY?

Mari kita ambil kasus yang sederhana yakni Bullying. Sejujurnya aku tidak bisa berkomentar banyak untuk ini tetapi mungkin jika dianalisis kasus bullying itu memiliki tingkatan mulai dari yang sederhana misal sekedar mencemooh sampai pada kasus yang sangat serius yang berujung kematian. Jika kalian bertanya apakah aku pernah di bully? Entahlah, tetapi dari beberapa tingkatan kupikir… ya bisa disebut demikian. Tidak bisa dipungkiri bahwa yag namanya mengalami bullying adalah kondisi yang cukup menyulitkan, akan tetapi jika kita melihatnya dari hikmah yang posittif semacam produk antikuman tadi maka mungkin itu bisa dijadikan pelajaran untuk hidup kita kedepannya karena mental kita telah di tempa melalui kasus bullying. Aku tentunya tidak membenarkan adanya bullying karena itu juga menyangkut kriminalitas, akan tetapi, jika kita sudah terlanjur mengalaminya maka ya, ambil saja hikmahnya seperti kasus produk antikuman tadi sehingga kedepannya kamu menjadi lebih kuat. Selain itu, kasus bullying juga bisa kamu jadikan motivasimu untuk menunjukkan pada mereka bahwa kamu more precious than them.

Mungkin sampai disini dulu readers. Semoga kalian bisa banyak belajar dari artikel ini, dan tentu aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian mau untuk sedikit meluangkan waktu kalian untuk berselancar disini. Tentu aku menyadari bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dari tulisan-tulisan yang telah aku terbitkan. Aku mencoba yang terbaik, aku juga belajar banyak seperti kasus produk antikuman. Hanya saja aku tidak akan pernah bisa untuk menjadi sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Oleh karena itu, jika berkenan sempatkanlah untuk mengkritik dan memberi saran untuk tulisan-tulisanku, sehingga kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi.

Good Bye and See you. Kiss-kiss…

HYN

Galeri

NZ

CbP8bE7UYAQbn8W
Eunhyuk Oppa and His Mom

Ada yang tahu apa itu NZ? Ini bukan singkatan dari Nazi-nya Adlof Hitler loh atau juga zona perbatasan antara negara Korea Utara dan Korea Selatan *please itu DMZ* Oh ya, abis mirip kan siapa tahu ada yang hangover sampai ketuker-tuker, M sama N kan deketan *alesan*. Bukan ya, intinya aku tu nggak lagi gagal fokus atau apapun cuma sukses start tapi gagal finish aja. *iniapacoba* #Abaikan.

Jadi, sudah penasaran kah kalian? Okey, intinya NZ itu nggak serumit yang kalian pikirkan. NZ hanya sebuah panggilan sayang dari para travellers untuk salah satu negara yang berada di Oceania. *Percaya deh itu cuma alesan doank, padahal males nulis panjang aja sebenarnya*.

Pernah denger lagunya Taeyeon SNSD yang “I”. Kalau K-Popers pasti tahu donk dimana video klip itu diambil. Majayo, NZ alias New Zealand. Kenapa tiba-tiba aku jadi bahas New Zealand, padahal kan rencana awalnya mau kasih pencerahan *Eaa… pencerahan* soal Irlandia. Karena… tiba-tiba si monkeynya Super Junior upload foto yang mirip-mirip di New Zealand. Pas pertama lihat tu foto langsung kepikiran “serius aku nggak asing sama ini tempat, dan dia nggak di tempat yang aku pikirkan kan. Please enggak kan” but he said he is in New Zealand now. Itu dunia kayak runtuh tahu nggak sih *lebay*. Pokoknya aku sampai syok banget gitu. Kalau dia nggak lagi wajib militer sih nggak papa, serah ajalah dia mau ngapain. Masalahnya dia lagi Wajib Militer. Dulu sempat dibahas mengenai aturan di Militer dimana ketika seorang Warga Negara Korea sukses melakukan pendaftaran untuk Wajib Militer maka haram hukumnya untuk bepergian ke luar negeri. Sampai-sampai karena aturan ini Yesung nggak bisa join di SS5 yang di gelar di 5 negara di Amerika Latin. Padahal saat itu masih ada waktu sekitar 3 bulanan sebelum dia resmi melaksanakan Wajib Militer. Nanggung banget nggak sih. Tapi ini, si Eunhyuk oppa tiba-tiba udah di New Zealand aja. Kan surprise banget. Nah, karena curiga akhirnya aku memutuskan untuk melakukan investigasi *JanganPercaya*. Ih, bisa aja kan dia kabur-kaburan dari militer, secara ya monkey kan hidupnya di alam bebas #Eh *EunhyukDeathGalre*. Mendadak hening.

Pokoknya setelah melakukan investigasi secara mendetail ala Sherlock Holmes, ternyata eh ternyata si dancing machiennya Suju ini udah mengajukan permohonan untuk liburan beberapa bulan sebelumnya. Jadi, nggak ada larangan bagi siapapun yang sedang melaksanakan Wajib Militer untuk Traveling, karena seorang tentara sekali lagi bisa mengajukan dokumen permintaan untuk liburan dan sebagainya beberapa bulan sebelum keberangkatan.

Kesimpulannya adalah si Monkey ini nggak kabur dari penagkaran atau apa chingu tetapi memang mendapat izin dari atasan di militer untuk jalan-jalan. Sampai hari ini, udah banyak negara yang dikunjungi sama Eunhyuk oppa, beberapa diantaranya adalah German, dimana dia jalan bareng 3 member Suju lainnya yakni Ryeowook, Kyuhyun, dan pasangan beda alamnya Dongahe. Kemudian ada Hamburg, Inggris, dan Belanda bersama keluarganya, Swiss bareng Leeteuk dan Dongahe di tahun 2014 yang kemudian menjadi acara dokumenter One Fine Day, Italia, ini hanya berjarak beberapa bulan sebelum dia resmi masuk militer, dan yang terbaru tentunya New Zealand. Dari semuanya tentu New Zealand lah yang paling sweet karena dia jalan berdua aja sama eommanya. Suwer aku juga pengen bisa ngajakin bunda jalan-jalan beginian. *envious*. Nah, untuk destinasi sendiri Eunhyuk oppa dan Eomonim, panggilnya Eomonim sekalian kan calon mertua nantinya *Plakk*. Okey! Forget it, jadi mereka memilih untuk mengunjungi movie set-nya The Hobbit atau yang biasa disebut Hobbiton. Yang udah nonton film-nya pasti tahu tempatnya, ya bukit-bukit hijau dengan rumah-rumah mungil itulah yang disebut hobbiton. Menurut berita yang beredar tempat tersebut nyaris saja dihancurkan setelah selesainya syuting Trilogi The Hobbit. Akan tetapi hal itu urung dilakukan karena tanpa diduga tempat tersebut mampu menarik jutaan wisatawan untuk berkunjung. Tentu pemerintah exited banget karena dengan begitu akan ada banyak pemasukan dari sektor pariwisata mereka. Wah, a very appropriate choice for the government of New Zealand. Jjang. Good luck and Have fun Eunhyuk oppa, Eomonim. Enjoy ELF…

Annyeong *KedipCantik*

 

_Han Yong Ra_

Galeri

Diantara Gadget, Dosen, dan Mahasiswa

Snap 2014-11-26 at 16.27.34
College life

Dosen BBM-an di tengah responsi. Ya, fenomena yang satu ini sepertinya sudah bukan hal yang mengejutkan lagi, bahkan hal tersebut sepertinya telah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa disalah satu perguruan tinggi di Indonesia. Tapi bagi aku tentu ini menjadi hal yang ‘sangat’ mengganggu. Bukan apa-apa, hanya saja aku pikir sebebas-bebasnya dosen setidaknya dia harus paham tentang etika dalam pendidikan. Tapi disini aku akan mencoba untuk berpikiran positif terlebih dahulu karena mungkin saja ada alasan yang cukup logis dibalik tindakan itu. Berikut beberapa kemungkinan yang melatar belakangi hal itu.

Pertama, mungkin saja beliau sangat sibuk dengan suatu hal sehingga tidak bisa ditunda barang sebentar saja sehingga harus sampai melakukan hal itu.

Kedua, mungkin juga beliau punya suatu usaha yang harus terus dipantau walau apapun juga.

Ketiga, mungkin sesuatu terjadi dengan keluarganya sehingga beliau harus memastikan keadaan tanpa terkecuali dan kemungkinan-keungkinan yang lain.

Jadi, akan sangat bijak jika kita berpikir ke arah yang positif terlebih dahulu, walaupun kebenarannya juga entah. Gara-gara kejadian ini aku sampai penasaran kalau di luar negeri dosen melakukan kegiatan macam itu nggak ya? Dan lagi itu menyalahi etika atau tidak? Yang punya cerita serupa share ya terutama yang pernah kuliah di luar negeri. See You…

_Han Yong Ra_