Mereka Bilang Aku Salah Jurusan

185257_right-and-wrong-way_663_382
Where will I go?

Kuliah… Kampus… Program study… dan Salah Jurusan… *Lah*

Nggak etis ya? Harusnya kan siklusnya Kuliah – Kampus – Program Study – Kerja. Ini kenapa jadi malah salah jurusan segala… berikut cerita selengkapnya.

Tentu, berbicara tentang kuliah tak bisa terlepas dari kata formalitas dan pamor, atau juga sebagian kecil serius mencari ilmu tanpa embel-embel pamor. Kenapa aku katakan demikian… karena itulah faktanya

Ketika seseorang akan masuk kuliah para orang tua ataupun dari pihak si anak sendiri tanpa disadari selalu ingin mendapatkan jurusan kuliah yang popular. Karena yah, popularitas adalah tuntutan budaya. Padahal ini merupakan sesuatu yang paling disayangkan dari budaya masyarakat Indonesia, yang mana masih dikuasai oleh popularitas gelar. Seakan-akan memiliki gelar tinggi adalah segalanya. Padahal… hello It’s not like what you think. shit.

Nah, ketika aku berpikir tentang diriku sendiri aku menjadi bertanya-tanya “Apa aku salah jurusan juga ya atau malah study formalitas?”. Kupikir tidak. Namun, disisi lain, tanpa aku sadari ketika seseorang bertanya padaku mengenai program studiku, kemudian aku akan menjawab Fakultas *beep* #NyanyiSNSDBeepBeep #Abaikan *SalahFokus*, untuk kemudian mereka memberikan pujian“Wow! Awesome”, ada mungkin sedikit perasaan bahagia, tetapi kukira aku tetaplah bukan bagian dari study formalitas itu. Yah, kuharap dan aku biasa saja akan hal yang kucapai sekarang.

Sejujurnya aku tidak terlalu merasa salah jurusan, *ada dikit donk berarti* #Diem, tapi anehnya banyak sekali di antara teman-teman yang mengatakan aku salah jurusan. Kadang aku berpikir, kok jadi sok tahu banget ya mereka. Yang ngerasin kan aku bukan kamu. Kenapa malah kamu yang pusing coba. Uniknya mereka tidak bilang aku cocok di satu jurusan saja tetapi banyak. Misalnya waktu aku menulis artikel tentang pendidikan mereka bilang harusnya aku di FKIP aja, lalu ketika aku mengkritik tentang sastra dan kepenulisan mereka bilang “Kenapa nggak ambil jurusan sastra aja”. Kemudian ketika aku membaca buku tentang Politik mereka bilang “Kenapa aku nggak ambil FISIP aja. Ketika aku belajar dan membaca buku tentang Hukum mereka bilang “kenapa nggak ke fakultas Hukum aja”. Ketika aku membahas dan membaca banyak literature tentang Travelling dan Pariwisata mereka bilang “Kenapa aku nggak ambil jurusan pariwisata aja. Ketika aku mengajak diskusi tentang ekonomi mereka bilang “Kenapa nggak ambil jurusan Ekonomi aja. Terakhir ketika aku gencar belajar bahasa asing mereka bilang “kenapa aku nggak ambil jurusan bahasa aja, tapi anehnya kalau aku baca buku yang berhubungan dengan prodiku, nggak ada tuh yang bilang “Kenapa kamu nggak ambil jurusan ‘itu’ aja”. Please, iyalah kan aku udah disono *Oh iya lupa*. Lucu kan. Tapi ngomong-ngomong kalau diginiin terus aku kan jadi berpikir “Apa aku se-multitalenta itu ya?” *plakk*. Ih, wajar kan kalau aku mikir gitu. Orang mereka bilang aku cocok di lebih dari setengah lusin jurusan. *ini apa coba, emang sendok apa pakai lusin-lusinan segala* #Abaikan. Atau jangan-jangan aku se-brilian itu *masih narsis aja* *Readers: #GetokPakaiPalu*.

But, whatever that, mau mereka bilang aku salah tempat, salah jalan, atau salah jurusan sekalipun bagiku itu tak berpengaruh, walaupun sempat terpengaruh sedikit sih *Lah* #Forgetit karena seperti yang dikatakan oleh bapak Hadi Susanto dalam bukunya yang berjudul Tuhan Ahli Matematika bahwa walaupun kamu salah jurusan sekalipun, tetap ada jutaan hal yang dapat kamu pelajari darinya. Jangan jadikan salah jurusan sebagai tempatmu untuk terus mengeluh dan menyesalinya karena justru hal itu akan membatmu semakin terpuruk. Pelajari apapun yang ada disana dan buat itu menjadi nilai plusmu.

Moral valuenya adalah jika kamu memilih jurusan maka pastikan kamu mampu untuk meng-handlenya, misal menyesuaikan dengan kemampuan kita. Berhati-hatilah karena terkadang ketika kamu pikir itu passion, bisa jadi itu malah ambisi karena passion dan ambisi memiliki perbedaan yang sangat tipis di pikiran kita. Selain itu, tinjaulah kembali tentang formalitas dan pamor gelar, karena percayalah itu sama sekali tidak penting karena kemampuanmu menjadi jauh lebih penting. Terakhir, ada suatu nasehat yang bagiku cukup untuk membuatku berpikir lagi dan lagi yakni “Utamakan untuk mempelajari apa yang kamu bisa bukan apa yang kamu tidak bisa karena dengan begitu kamu akan memiliki kelebihanmu, sedang sisanya adalah nilai plus dirimu.” So, sukses untuk kalian dan semoga pemaparan yang lebih ke curhat ini bisa memberi banyak pelajaran untukmu. So, good bye and see you…

_Han Yong Ra_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s