Limerence

12360266_1027379393990928_3259158738082390739_n
Limerence Cover

Sejujurnya aku bahkan sudah lupa dengan apa yang ingin aku katakan, tetapi mungkin kita bisa membicarakan hal-hal yang menarik.

‘Limerence’

Jika kamu bertanya-tanya tentang apa itu limerence, aku tidak tahu pasti tetapi itu merupakan sebuah judul buku milik Yuli Pritania. Mungkin kalian sudah tidak asing dengan penulis yang satu ini. Sebelumnya aku juga pernah menulis sedikit tentang bukunya yang berjudul ‘Calla Sun’. Aku tidak akan menyebut itu sebuah review karena kupikir dari segi sistematika pun itu tidak memenuhi kriteria sebuah review. Dan lagi aku bahkan sudah lupa bagaimana manulis sebuah review itu. Bagiku akan lebih menarik jika aku menetapkan sistematikaku sendiri. Yeah, I am. Okey! Forget it and let’s talk about ‘Limerence’. Sebenarnya apa itu limerence?

Menurut Dorothy Tennov dalam bukunya Limerence Experienced, limerence adalah hasrat yang sangat kuat, mengganggu dan bahkan ini lebih parah dari sekedar obessi atau nafsu kepada sang korban. Istilah kerennya, limerence adalah kondisi “terjebak” dengan cinta. Dan rasanya belum cukup penderitaan disitu saja, terdakwa limerence dikatakan bisa mengganggu orang selama 3 bulan atau bahkan bertahun-tahun!! Huh! Serem juga ternyata. Ya, sesuai penjelasan di atas dalam novel barunya ini Yuli memang menceritakan tentang seseorang yang terjebak dengan cinta yang tak terduga dan penuh obsessi. *Aku tak percaya bisa menuliskannya*. Tetapi bukan itu yang ingin aku tuliskan. Aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa aku tidak sedang menulis review. Jadi, jika ada diantara kalian yang ingin tahu lebih lanjut tentang novel ini silahkan beli dan baca sendiri. Yang ingin aku tuliskan disini adalah tentang salah satu percakapan yang menurutku cukup menarik dalam novel itu dan karenanya aku banyak berpikir ulang. Aku bukan orang yang mudah terpengaruh. Bagiku tidak ada kata ‘harus’ yang ada adalah ‘ingin’. Aku ingin pergi bukan aku harus pergi. Yah, sesuatu semacam itu tetapi disini kata-kata ini memang layak untuk dipertanyakan dan oleh karena itulah aku menutuskan untuk menyelaminya juga.

Just Be Your Self”

Are you sure with this word? Look at this…

***

“ Kau tahu kalimat paling menjijikkan di dunia ini, tapi malah dipercyai semua orang.?” tanya Jung-Joo setelah mengosongkan mulutnya dengan soju.

Apa?”

Just be yourself”, ucap wanita itu mengejutkan.

Yeon-Seok terdiam sesaat sebelum menemukan pita suaranya kembali. “Kenapa?”

“Jadilah dirimu sendiri. Apa menurutmu itu mungkin dilakukan? Entah manusia lainnya yang bodoh atau mereka memang dengan mudah memercayai hal-hal omong kososng semacam itu.”

Wanita itu melipat tangan diatas meja, memusatkan pandangan pada Yeon-Seok.

“Aku selalu menjadi diriku sendiri, tidak mendengarkan pendapat orang lain. Aku berpacaran dengan banyak pria, lalu mencampakkan mereka begitu saja. Kenapa? Karena aku ingin melakukannya. Karena aku bosan pada mereka. Tapi apa yang dikatakan orang tentangku? Aku wanita murahan.

“Aku suka belanja, menghambur-hamburkan uang untuk membeli sepatu, tas, apa pun yang kau inginkan. Berapa wanita yang mungkin iri padaku, bahkan ada yang menjadikanku role model mereka. Para pria juga pasti senang bukan melihat wanita cantik? Tapi kau tahu apa kata ibuku? Aku dibilang tidak punya otak. Kenapa? Itu kan bukan uangnya. Dia tidak berhak ikut campur dengan apa yang aku kerjakan.”

Jung-Joo tertawa sumbang. “ Aku hanya berbicara jika aku mau dan aku mengatakan apa pun yang aku pikirkan. Dan orang-orang menganggapku sombong. Arogan. Membenciku untuk alasan yang tidak jelas. Apa kau tahu? Aku benci sekali orang-orang yang tidak aku kenal dan mereka juga tidak mengenalku, tapi berani berkomentar seenaknya tentangku.

“ Saat kau menjadi dirimu sendiri, bukan jaminan kau disukai orang. Ukuran manusia yang baik berbeda-beda untuk setiap kelompok…. Kau didikte untuk menjadi apa yang orang lain inginkan dan saat kau meminta pendapat mereka, kau tahu apa yang mereka katakan? Jadilah dirimu sendiri. Benar-benar omong kosong!

(Limerence: 50-52)

***

어떡해 [eotteokhae]- [Bagaimana] ?

Aku peringatkan dulu bahwa aku tidak membenarkan segala yang tertulis di atas. Cukup fokuskan dirimu dengan kata “Just be your self”. Apa menurutmu itu juga mungkin. Kupikir tidak, bagaimana kita akan menjadi diri kita sendiri. Bahkan mungkin tidak ada orang yang benar-benar bisa melakukannya. Karena apa? Karena kita hidup bersosial yang itu berarti kamu harus berhubungan dengan orang lain. Selalu ada saat dimana kamu ingin diterima oleh duniamu dan berarti kamu tidak dapat memaksakan untuk menjadi dirimu sendiri karena kamu harus memenuhi kriteria mereka untuk dapat diterima, bukan begitu? Pastikan itu sekali lagi karena bukankah faktanya memang demikian. Bukankah kalian lebih banyak mengatakan ‘harus’ daripada ‘ingin’? Sempat beberapa waktu lalu aku terlibat sebuah percakapan yang bagiku tidak ada menarik-menariknya sama sekali. Yah, membosankan seperti biasanya. Saat itu tanpa sengaja kita membicarakan tentang sebuah prinsip dan kau tahu apa yang mereka katakan “Mereka susah diatur, beda banget dengan zaman kita, satu ikut semuanya pada ikutan” atau mungkin lebih tepat dikatakan ‘ikut-ikutan’. Satu hal yang paling kusyukuri adalah bahwa aku berhasil menahan diriku untuk tidak menampar mereka saking gelinya. Sesungguhnya apa menariknya sebuah kekompakan yang nyatanya membuatmu tak berprinsip. Huh! Omong kosong! Pikirkan lagi dan jika bagimu perlu, perbaikilah. Ah, aku terlampau serius. Mungkin sampai disini dulu. Good bye and see you again… *Kiss*.

_Yyong_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s