L’eterevient Chapter 2: Wine

Pria itu nyaris seperti Americano. Tetapi mengenalnya justru membuatnya terasa seperti Wine yang membuatmu ingin dan ingin lagi, bersamanya, memilikinya.”

Le Relais Des Halles Hotel, Verona, Italia

Millwood House, Inverness.

Millwood House, Inverness.

Aku menghempaskan tubuhku ke sebuah ranjang disalah satu hotel tempat dimana aku menginap selama aku melakukan perjalananku di kota cantik ini, Verona. Aku merasa kakiku tertinggal entah dimana setelah seharian ini menghabiskan waktuku untuk mengelilingi kota yang terkenal dengan Romeo dan Julietnya ini. Beberapa menit setelahnya aku mulai memejamkan mataku menikmati empuknya bed yang sedang aku tiduri sekarang. Namun, sebelum mataku terpejam sempurna sebuah panggilan menghentakkan kesadaranku kembali. Terukutuklah siapapun yang membuat telepon genggamku berdering disaat-saat seperti ini.

“Hallo, Who is this? you know what time it is?” kataku ketus.

“Hey, Stef, that so the way you answer the boss

Director , unfortunately I don’t give a shit okey!”

Oh, sorry for disturbing your rest time, but you have to remember I’m still your boss stef and I could fire you because of this attitude.” Balasnya sambil terkekeh pelan.

Stop threatening me and tell me what to do boss because I could barely open my eyes now.”

Okey. I got an invitation to attend the summer festival in Verona but I already have another appointment that day. So, can you cover for me to attend the event?

You have to raise my salary boss, because it has been disturbing my vacation.”

Really a girl who knows what to do? As you wish and make sure you attend baby.”

it’s an easy thing.”

Okey! Gute Nacht. hoffentlich ein schöner Traum Baby.”

Sie auch.”

Aku melemparkan ponselku begitu saja setelah menyelesaikan panggilan teleponku untuk kemudian memejamkan mataku yang nyaris tak bisa terbuka lagi.

***

Verona Opera, Arena, Italia

verona-arena-opera

Seorang laki-laki dengan setelan jas hitam Armani dan empat orang pengawal berbadan kekar serta seorang pria yang lumayan tampan yang kemudian diketahui sebagai sekertarisnya tengah berjalan dengan gagahnya di atas red carpet sebuah gedung opera di Verona, Italia. Pria yang diketahui bernama Kim Jong Woon atau Jeremy Kim ini disambut dengan meriahanya lantaran dia termasuk jajaran orang-orang ternama yang diundang ke festival musim panas yang digelar setiap tahunnya ini. Wajahnya yang tampan membuat banyak wanita menatapnya dengan kekaguman yang tidak ditutup-tutupi lagi. Sedangkan Jong Woon memilih tidak peduli dan memasang wajah dinginnya dengan sedikit keramahan di wajahnya.

Welcome in Verona Sir. It’s a pleasure for us because you are willing to come.” Sambut Alejandro sang penanggung jawab acara sambil membungkukkan badan yang diikuti oleh beberapa orang penting lainnya yang turut menyambutnya.

Thank You.” Balas Jong Woon singkat sambil sedikit membungkukkan badan membalas sapaan ramah dari orang-orang yang menyambutnya tersebut.

Please sir, I‘ll show you seat.”

Alejandro berjalan terlebih dahulu kemudian diikuti Jong Woon dan empat pengawalnya serta seorang sekertarisnya. Tatapan kagum tak lepas dari ribuan mata yang memandangnya sejak dia berjalan menuju kursi yang telah disediakan untuknya hingga kemudian dia duduk dengan nyaman di kursi tersebut.

Jong Woon mengedarkan pandagannya ke seluruh penjuru ruangan, meresapi keramaian yang mendominasi gedung besar tersebut. Saat tengah asik memperhatikan sekelilingnya matanya tanpa sengaja menangkap bayangan seorang gadis cantik dengan gaun malam sederhana berwarna hitam.

Elegant_Women_s_Black_Chiffon_Lace_Long

Gadis itu terlihat berbeda dari kebanyakan gadis yang hadir di pesta malam itu. Gaun hitam panjangnya terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Namun, sesuatu terasa janggal, entah mengapa Jong Woon merasa pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya. Otaknya terus bekerja menggali ingatannya dan pria itu akhirnya dapat mengingatnya. Ya, tidak salah lagi, gadis itu adalah gadis yang ditemuinya di sebuah cafe beberapa waktu lalu. Gadis yang memandanginya sejak ia memasuki sebuah cafe di Verona. Jong Woon terus memperhatikan gadis yang terlihat kurang nyaman dengan suasana ramai di dalam gedung besar itu dan tanpa disadarinya kakinya terus bergerak menghampiri gadis bergaun hitam itu.

Ya, Hyung mau pergi kemana oh, acaranya akan segera dimulai.” Tegur Hyuk Jae sekertarisnya yang duduk disebelah pria tersebut.

Aku memiliki urusan sebentar.” Jawab Jong Woon pelan.

Baiklah, pastikan kau tak akan kabur dari acara ini dan menyusahkanku.”

Hmmm.” Balas Jong Woon dengan mata yang tak lepas memandangi gadis bergaun hitam itu.

***

Mataku memandang ke segala arah dengan perasaan kurang nyaman. Bos sialan itu benar-benar menyusahkan. Aku bahkan tidak mengenal siapapun disini dan dia memintaku untuk menggantikannya. Eoh… Aku benar-benar akan mencabuti rambutnya di detik pertama begitu aku bertemu dengannya.

Aku memainkan ponselku sambil mengutuk siapapun yang menyelenggarakan acara menyebalkan ini dan berdoa pada tuhan agar acara sialan ini cepat selesai. Namun, ditengah rasa bosan yang terus menuju tingkatan maksimun ini tiba-tiba seorang pria menghampiriku. Aku mendongakkan kepalaku untuk memastikan bahwa tebakanku benar dan…. astaga pria ini adalah pria Americano itu. Pria yang menguras habis perhatianku di pertemuan pertama kami di sebuah cafe di Verona beberapa waktu lalu. Jika kau bertanya tentang bagaimana dia maka bayangkan saja wajah tampan CEO seperti dalam drama-drama romantis korea atau mungkin juga sejuta model pria sexy pemanis majalah fashion terkemuka di paris dan kau… Yah kukira kau akan tahu jawabannya.

You want to drink?” sapa Jong Woon sambil mengangsurkan segelas white wine.

Oh! Sure.” Balasku sedikit gugup sambil mengambil gelas wine dari tangan pria itu.

Kau datang sendirian? Kau terlihat bosan.”

Apa aku harus menjawabnya?.”

Ehmm… Jika kau tidak keberatan”

Yeah, like your prediction.” Jawab stefany sambil memutar-mutar gelas ditangannya.

Kau mengingatku?” tanya Jong Woon santai setelah sempat terjadi hening untuk beberapa saat.”

Huh!”

Sant’Eustachio il Caffe,”

Oh! Can we forget it.”

How can? Seorang wanita cantik terus memandangiku, bagaimana aku harus melupakannya?”

Jong Woon memandangiku dengan sebuah smrik di sudut bibirnya yang membuatnya berkali lipat lebih berbahaya.

Hmmm… Just think that is an accident.”

Accident or because I look more handsome.”

Kau harus segera mengurangi kadar percaya dirimu bung.”

Well… Itu permintaan sulit” jawabnya dengan nada bercanda.

Menyingkirlah kalau begitu.” balas Stef tak kalah bercanda.

Tak berapa lama terdengar suara MC dengan nada berwibawa yang bagiku tak lebih dari dengungan lalat-lalat pengganggu yang memberitahukan bahwa acara ini akan dimulai tak lama lagi. Huh, akan lebih baik jika itu adalah sambutan penutup dan bukan pembuka karena artinya aku akan terlepas dari segalanya sekarang juga.

Tuan Jeremy Kim, dengan hormat kami mempersilahkan anda untuk berkenan memberikan beberapa kata sambutan.” Dan pria yang sedang duduk disampingku ini terlihat sedikit membetulkan jasnya untuk kemudian berjalan ke atas panggung untuk memberikan sedikit sambutan.

Oh may god! Jadi pria ini, pria yang baru saja duduk disampingku, dialah pria dengan kekayaan bejibun itu. Okey… mungkin kalian bingung tentang siapa pria ini. Kau tahu, mungkin aku bisa mengatakan siapa yang tidak mengenalnya. Pria yang namanya selalu menjadi perbincangan paling menarik di banyak negara di dunia karena ketampanannya yang membuat banyak wanita tak ingin berkedip dan kekayaan yang menggunung. Pria yang dengan sekali memandnag saja akan membuatmu tak ingin melihat pria yang lainnya. Yah… Nyaris seperti itu dan aku menyesal baru mengetahuinya sekarang karena itu artinya aku terlambat untuk tidak jatuh terpesona lebih dalam. Aku terus memperhatikannya yang sedang memberikan sambutan di atas panggung dan kau tahu, dia memang sempurna.

Le Relais Des Halles Hotel, Verona, Italia

Millwood House, Inverness.

Millwood House, Inverness.

Sebuah mobil sport terlihat berhenti di depan sebuah hotel bergaya Eropa klasik dengan dinding bata dan tata ruang yang akan membawamu kembali ke abad perengahan. Cantik, Klasik, dan mengagumkan. Hmm… Kau akn jatuh cinta, Kupastikan itu.

“Terima kasih sudah mengantarku. Kurasa ini benar-benar merepotkan”

“That’s ok! Ehmm… kurasa kita belum berkenalan. Jeremy Kim.”

“Stefany Han. Nice to meet you and night.”

“ Hmm… Night”

***

Aku baru saja akan mulai menulis ketika terdengar suara ketukan di pintu dan kemudian muncul sesosok kepala yang sudah dapat dipastikan siapa. Ah… tentu saja itu si lebah penganggu.

“Hey Stef. Kurasa seorang pangeran telah mengantarmu.”

“Hadiah manis. Kau tahu hal semacam itu”

“Oh May God! Katakan siapa itu?”

“Kau akan terkejut. Ingat pria yang kita jumpai di Sant’Eustachio il Caffe.”

“Him… Perfecto”

“Dan dia adalah CEO YS Group. Si keluarga terkaya di dunia.”

“Double perfecto”

“Surely dan akan sangat sempurna jika kau bersedia untuk keluar sekarang juga summer karena aku benar-benar butuh ketenangan.”

“Well… kembali menjadi dirimu yang menyebalkan.”

“Sayang sekali itu paket yang sempurna.” jawabku sambil menggedikkan bahu.

***

Pagi yang cerah dan aku terbangun karena dering telepon terkutuk pagi tadi. Jika kau bertanya siapa terkutuk yang membuat kekecauan itu maka kuapstikan kau akan menyesal mengatainya demikian. Yah… kau dapat menebaknya, siapa lagi kalau hukan CEO sialan Kim Jong Woon, manusia tekaya di dunia dan disinilah aku sekarang, di sebuah restoran bergaya abad pertengahan dengan kurs-kursi yang disusun berderet, atap terbuka dan pemandangan pegunungan yang menyejukkan. Kau bahkan bisa menyaksikan cantiknya mentari yang muncul dengan malu-malu dari balik awan putih dan langit yang membiru dari tempat ini. Menggagumkan memang. Dan jangan tanyakan berapa harga yang harus kau bayar untuk ini karena kupastikan kau akan segera terbaring manis di kursi operasi karena serangan jantung mematikan.

“Menyenangkan bukan disini? Kau dapat menyaksikan segala hal yang sulit dinikmati lagi di abad ini. Ketenangan, pemandangan yang manis, aroma roti yang baru keluar dari pangganggan, dan secangkir Cappucino yang menenangkan.”

“Tak salah memang tetapi akan lebih menyenangkan jika kau tak perlu repot-repot untuk menghancurkan waktu tidurku yang menyenangkan. Tapi, sesungguhnya aku jauh lebih penasaran dari mana kau mendapatkan nomor teleponku”

“Kau tahu aku bisa melakukan banyak hal”

“Ya ya ya… berhentilah untuk menyombong dan haruskah aku mengatakan terima kasih… Sa-jang-nim” kataku dengan nada mengejek.

“Itu tata krama yang mendasar kukira”

“Yeah… Dan berhenti berharap karena aku tak akan pernah melakukannya”

Ada jeda selama beberapa saat karena kami sama-sama sibuk menikmati sarapan pagi… ah bukan, lebih tepat disebut sarapan di subuh buta. Hanya dentingan pisau dan garpu yang beradu dengan piring yang menciptakan melodi diantara keheningan pagi yang kuakui terasa romantis.

“Jadi, kau akan kembali ke Swiss hari ini.”

“Eoh… Banyak hal yang harus ku kerjakan segera dan bos sialan itu benar-benar tak akan melepaskanku bahkan saat liburan sekalipun.”

“Kalau begitu berhentilah bekerja dan menikahlah denganku.”

“Kau benar-benar belum bangun bung.”

“Aku tidak bercanda jika kau mau tahu.”

“Well… terdengar menyenangkan. Tapi sayangnya aku tak pernah benar-benar terpikir untuk menikah.”

“Aku pastikan kau akan mengubah penyataanmu segera.”

“Aku menantikannya.” Jawabku sambil tersenyum menatapnya dan pria itu balas menatapku dengan tatapan intens yang tak kumengerti hingga wajah itu kian mendekat… mendekat…dan…

TBC

_Yyong_

 

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s