Bersatu Tidak Menjamin Itu Pilihan Terbaik Bukan (?)

selamanya-bersatu

Hari ini sesuatu membuatku banyak berpikir tentang kriteria seperti apa sesungguhnya yang membuat sesuatu hal itu dikatakan pilihan terbaik, menjadi baik, dan tepat. Semuanya menjadi sangat kabur bukan. Ya, mungkin ketika kita menyatakan kesatuan, hal yang paling kita ingat adalah ketika negara ini memutuskan untuk bersatu dan menghadapi para bedebah penjajah bersama-sama, karena ya, saat itu para pemimpin kita melakukan evaluasi dan menemukan entah itu fakta atau sekedar subjectifitas belaka bahwa ketika kerajaan-kerajaan di negara ini tidak bersatu maka selamanya kita akan terus seperti ini, ditindas dan kalah dalam hal perlawanan karena sesuatu yang digadang-gadang terjadi karena kurangnya persatuan. Mungkin ya, saat itu memang demikian adanya tapi bukan berarti bisa di generalisasikan bukan? Karena tidak setiap kondisi dapat terselesaikan dengan persatuan. Ada saatnya kita perlu sendiri dalam melakukan suatu hal dan ada kalanya kita memang perlu bersatu. Semua orang mungkin bisa menjadi bersama-sama tapi tidak semua orang berani berjalan sendiri.

Jujur saat ini aku sangat kecewa dengan sebuah wacana, atau mungkin lebih tepat kusebut ‘keputusan’ yang sudah 80% final. Kalau seandainya ada yang bertanya kenapa aku harus sekecewa itu, aku pikir aku juga hampir tidak tahu jawabannya. Bahkan aku sendiri pun bingung sebenarnya ikatan apa yang ada antara aku dengan ‘hal’ ini. Kami bukan saudara atau sesuatu yang bisa dikatakan memiliki ikatan latar belakang yang sangat kuat. Aku hanya seorang pendatang baru yang mencoba untuk mempelajari sesutau hal dari sini dan tentu ini tidak bisa dijadikan alasan juga kan. Namun, entah bagaimana ketika ‘wacana’ ini dibahas, dengan sangat memalukan kukatakan bahwa aku menangisinya. Aku hanya merasa sesuatu menggoresku sangat dalam sampai membuatku sesak untuk sekedar menghela napas, kecewa hingga membuat kepalaku nyaris meledak, dan sakit hingga aku sendiri bingung kenapa. Hanya saja ini terlalu menyakitkan. Ketika kunyatakan dalam angka berapa % aku setuju maka aku akan membuat penggagas ide ini sangat kecewa, 2% dan 98% aku menolak. Kita mungkin terlihat diberikan kebebasan untuk memilih karena keputusan masih belum final, akan tetapi jika kita mau sedikit kritis saja sesungguhnya dari susunan kata yang digunakan kita bisa menilai bahwa dia meminta kita untuk setuju tanpa memberikan sedikit pilihan pada kita untuk menolak. Seakan-akan kesempatan memilih ini hanya sekedar retorika aja atau formalitas forum. Entahlah, mencoba berprasangka baik mungkin bisa menjadi pilihan bijak karena keyakinan yang aku anut mengajarkan untuk selalu berprasangka baik karena mungkin saja aku terlalu terbawa emosi untuk sekarang hingga aku sendiri sulit untuk memutuskan dimana dan bagaimana aku harus menempatkan diri. Sehingga dengan berpikir lebih matang dan dengan kepala dingin mungkin saja aku lebih bisa memutuskan mana yang terbaik.

Moral Valuenya mungkin ketika kita akan mengambil sebuah keputusan dengan membawa serta forum dan orang banyak ada baiknya kita berpikir pelan-pelan dengan pertimbangan yang matang karena kita tidak sendiri, kita membawa serta orang banyak. Jikalaupun nantinya kita harus mengalah maka ya mungkin memang itu adalah yang terbaik diantara yang terbaik. Jadi, kita harus mengikhlaskannya dan selamat belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sampai Jumpa.

Ketika kukatakan aku tidak bisa maka mungkin sesungguhnya aku bisa.”

_Yyong_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s