Lupa atau sekedar Ingat harus ‘ber-retorika’

Hari-Pahlawan

https://warnasaridesign.wordpress.com/gallery/

When I ask you? You know, what the date today??? I hope that you remember something important on this day. But most of you have remember it, right? Ya, hari pahlawan. Mungkin banyak yang masih ingat bahwa hari ini, tanggal 10 November adalah hari dimana bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan mereka. Iyalah, kan ada medsos. Baca status orang, abis itu bikin status sendiri deh, status kepahlawanan. Right or wrong?? It’s your opinion. Akan tetapi, disini aku tidak akan membahas tentang sejarah dari hari pahlawan itu sendiri atau sesuatu semacamnya karena aku yakin bahwa sudah banyak yang menulis tentang hal itu. Jadi, mari melihatnya dari angel yang berbeda. Namun, sebelum lebih jauh “Apa itu pahlawan?”

Secara etimologi kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta “phala”, yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia. Ya, begitulah kira-kira definisi dari kata pahlawan. Nah, sekarang yang menjadi center point adalah bagaimana kita bisa menjadi bagian dari itu dan bagaimana kita akan menempatkan diri. Ketika kita mengingat lagi tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia maka bisa kukatakan bahwa itu adalah kontribusi mereka saat itu, tentang bagaimana mereka mengorbankan diri demi sebuah tujuan kebangsaan. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan kita. Akankah iya kita cukup dengan mengenangnya saja? Tentu saja tidak. Bukan berarti kita melupakannya. Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”, yang menjadi problematika adalah bagaimana cara ‘menghargai’ itu. Banyak orang yang bisa mengatakan tentang kita harus menghargai, akan tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara menghargai itu bukan? Sadar atau tidak sesungguhnya itu benar adanya.

Okey! Aku ingin bertanya “masihkah kalian ingat dengan Korea Selatan?”. Please, Ingat lah kan lagi booming boybandnya *plakk*. Nggak salah kok, tapi bukan itu, yang aku maksudkan disini adalah masihkah kita ingat bahwa Korea Selatan pernah menjadi negara termiskin di Asia? It’s not important if you don’t remember it, yang paling penting adalah saat ini kamu tahu. Tapi, Hello! Lihat mereka sekarang, tidakkah mereka berubah sangat-sangat banyak. Ya, dan kalian tahu mengapa bisa demikian, it’s a simple answer, karena mereka sudah tahu bagaimana cara ‘menghargai’ jasa pahlawan mereka. Jika kita mengingat lagi, saat itu yang menjadi langkah awal majunya negara Korea Selatan hanya ada satu hal yakni mereka paham bahwa untuk menjadi negara yang maju Korea Selatan harus memiliki pabrik manufacture. Akan tetapi, saat itu untuk bahan-bahan yang membutuhkan pengecoran logam mereka masih harus mengimpor dari negara tetangga mereka yang jauh lebih maju yakni Jepang. Nah, dari situlah salah satu orang yang mereka sebut pahlawan itu tahu bahwa yang dibutuhkan Korea Selatan saat itu bukan pabrik manufacture dulu akan tetapi pabrik pengecoran logam. Akhirnya dengan segala lika-liku rintangan mereka berhasil membangun pabrik pengecoran logam sendiri untuk kemudian diaplikasikan pada pabrik manufacture mereka bangun kemudian dan beginilah mereka sekarang. Tetapi, tidak hanya itu saja, yang menjadi poin plus adalah bahwa mereka tahu bagaimana cara menanamkan rasa cinta pada negara mereka sendiri sehingga, dengan sendirinya masyarakat akan melakukan apapun untuk kemajuan negaranya. Lalu, bagaimana dengan negara kita, sekali lagi satu, kita hanya harus tahu langkah apa yang harus kita lakukan untuk ‘menghargai’ itu, dan menurut pendapatku salah satu caranya adalah dengan memperbaiki hal yang paling mendasar yakni sistem pendidikan kita agar kedepannya pendidikan di negeri ini tidak lagi salah fokus dan membodohi. Selain itu, membuat perundangan yang tegas dengan sedikit pemaksaan juga bisa menjadi alternatif. Jika kita terus lembek kapan kita akan menjadi kuat. Ayolah jangan sampai kita di perbudak di negeri kita sendiri. Tidak harus besar dulu, kita bisa mencobanya dengan mengubah hal-hal kecil misalnya tentang biaya visa. Ketika orang Indonesia bepergian ke Timor Timur kita akan di charge dengan harga 30 Dolar akan tetapi sebaliknya ketika orang Timor Timur masuk Indonesia mereka hanya di Charge 25 Dolar. Solusinya mungkin kita bisa mencontek kebijakan dari negara Brazil yang membebankan biaya visa yang sama kepada orang Amerika yang masuk ke Brazil dengan orang Brazil yang masuk ke negara Amerika dan bahkan dengan lucunya mereka memberikan alasan yang jika diterjemahkan kira-kira begini “Saya membebankan biaya sekian kepadamu karena negaramu juga membebankan biaya yang sama ketika kami masuk negaramu”. Nah, coba kita melakukan hal serupa dengan membebankan biaya visa yang sama ketika orang Timor Timur masuk Indonesia. Itu sudah bagian dari ketegasan bukan. Jadi, kesimpulannya adalah saat ini kita harus bisa menerjemahkan terlebih dahulu bagaimana ‘menghargai’ itu untuk kemudian menemukan langkah untuk melakukannya. Selamat mencoba and let’s founded it togeather.

#Ayo berpikir

#speak your mind here…

See You, dan Selamat Hari Pahlawan.

_Yyong_

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s