L’eterevient ~ Chapter 1: Americano

Pria itu… seperti Ice Americano. Gelap, dingin, dan berbahaya. Namun disisi lain begitu menggoda dan membuatmu berfantasi ria tentang betapa nyaman dekapannya.”

Genewa, Swiss, July 11th, 2012

Hari ini semua masih terasa sama. Matahari yang mengerling nakal, langit yang menegaskan dengan kejam bahwa hujan badaipun takkan mampu untuk menggantikan cerahnya hari itu. Mungkin hanya aku… Ya, kukira hanya aku yang terus mengigil kedinginan di tengah hangatnya sinar mentari pagi ini. Aku melongok ke luar jendela apartemenku di salah satu kota besar di Eropa, Genewa di Swiss, mengamati ribuan orang yang berlalu lalang dengan pakaian yang didominasi warna-warna cerah khas musim panas. Tentu saja, mereka akan sangat sibuk mengingat ini adalah awal liburan musim panas. Biasanya, kebanyakan dari penduduk di kota ini memilih menghabiskan waktu liburan musim panas di pantai atau pergi ke beberapa negara di Eropa seperti Italia dan Rumania. Entahlah, mungkin mereka masih berharap untuk berjumpa secara langsung dengan makhluk peminum darah itu. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sesungguhnya menarik dari film Twilight saga yang diperankan oleh Robert Pattison. Benar-benar tak masuk akal. Aku menyesap kembali kopiku yang masih mengepulkan asap dari dalam cangkir mungil bermotif bunga sakura dengan dahan-dahan berwarna coklat tua yang berpadu serasi dengan bunganya yang berwarna pink dan putih. Aku mendapatkannya beberapa tahun lalu ketika mengunjungi ibuku yang menetap di salah satu negara yang terkenal dengan boyband dan girlbandnya, Korea Selatan atau boleh kukatakan itu adalah negara kelahiranku. Entahlah.

MG_8394

Hey Stef! Berhentilah untuk memelototinya sebelum kamu membuat orang-orang di luar sana masuk ke dalam matamu.”

Kalian dengar, suara berisik menyebalkan barusan adalah suara seorang gadis cantik bermata hazel, namanya summer. Aku tak tahu kenapa madam memberinya nama seperti itu, tetapi menurut summer, ibunya memberikan nama itu karena dia lahir saat musim panas tiba. Jika begitu alasannya kukira akan sangat merepotkan jika dia lahir di negara tropis seperti Indonesia yang hanya memiliki dua musim. Mungkin jika kebetulan dia lahir di musim kemarau madam juga akan memberinya nama ‘Kemarau’. Tidakkah itu terdengar semakin konyol.

Kau mengangguku summer”, balasku ketus.

Lihatlah dia sama sekali tak peduli. Benar-benar menyebalkan bukan.

Apa yang ingin kau lakukan hari ini? Kita bisa pergi ke pantai mungkin atau kamu ingin mengunjungi beberapa negara misalnya?” Jawabnya mengabaikan pertanyaanku yang bahkan belum melewati seperempat gendang telinganya.

Entahlah, aku tak memiliki rencana apapun.” Balasku santai sambil memotong pancake yang baru saja selesai di buat summer dengan beberapa irisan buah dan siraman madu khas Perancis.

Mau kusarankan beberapa?” Tawarnya.

Oh. Shit! No. I will choose by my self okey!”

Baiklah, kuharap kau tak akan keberatan jika aku menempelimu nantinya.”

Berhentilah bermimpi jika kau tak bisa menutup mulutmu yang berisik itu,” balasku datar.

Aku mungkin akan membeku sebelum berbicara apapun lantaran berjalan bersama makhluk kutub sepertimu.”

Apa! Dia mengataiku apa barusan… makhluk kutub. Dia pikir aku mau bersudara dengan sepupu masa depannya itu, si pinguin Madagaskar. Aishh dia selalu berhasil membuatku kesal. Aku mengabaikannya dan melanjutkan sarapanku yang sempat tertunda oleh suaranya yang berisik barusan. Memotong pancake di piringku dan memasukkannya dalam ukuran besar-besar ke dalam mulutku. Kulihat dari sudut mataku dia bahkan menatapku dengan wajah geli yang tidak di tahan-tahan lagi. Rasanya aku benar-benar ingin melemparkan piringku yang masih terisi seperempat ini ke wajahnya yang mulai menyebalkan itu. Tapi jagankan melakukannya, mana tega aku membuang pancake buatnya yang seenak buatan cafe-cafe di Perancis ini. Lain kali saja, jika dia masih menyebalkan juga aku benar-benar akan melemparkannya, putusku.

Ah… Kukira aku sudah bercerita terlalu banyak tentang sahabatku yang tinggal satu apartemen denganku, tetapi aku bahkan belum memperkenalkan diriku sedikitpun dan kukira ini waktu yang sangat tepat untukku memperkenalkan diri. Hai, namaku Steffany Han. Kebanyakan orang memanggilku Stef. Aku lahir di Seoul 24 tahun silam. Saat ini aku bekerja sebagai Penulis, Editor, dan terkadang Fotografer di salah satu perusahaan penerbitan paling top di Swiss. Aku memiliki hobi yang cukup aneh yakni menghabiskan uang. Eittss… jika ada diantara kalian yang berpikir aku menghabiskan uangku untuk shooping maka kemarilah dan kupastikan kalian akan berakhir sama konyolnya dengan koin-koin menyedihkan di La Fontana di Trevi. Kuberitahu okey, shopping adalah kegiatan paling bodoh yang hanya dilakukan oleh wanita-wanita kurang kerjaan dan tentu saja aku tak sebodoh itu. Aku memang menghabiskan uangku, tetapi aku menggunakannya untuk memenuhi obsesiku berkeliling dunia, mengunjungi banyak negara untuk kemudian menuliskannya dalam bentuk travel story. Selain itu aku adalah salah satu pecinta wine dan juga Kopi. Ahh… kurasa bagian inilah yang mengambil space paling fantastis di dalam rekeningku but well… I don’t care okey! Ya, kira-kira begitulah profil singkatku. Bagaimana, tidakkah aku cukup menarik.

***

YS Group building, Gangnam-gu, Seoul

21445583225_a310d4d04a_b

Gedung bergaya modern dengan kristal-kristal kaca yang mendominasi hampir di setiap bagian dari gedung tersebut merupakan salah satu markas perusahaan terbesar di Asia dan bahkan masuk dalam jajaran perusahaan yang berpengaruh cukup penting di dunia, YS Group. Perusahaan ini sendiri bergerak di bidang perhotelan, property, department store, manufaktur, dan Brand kaca mata ternama Why Style. Perusahaan ini memiliki anak perusahaan yang tersebar di beberapa negara di 4 benua berbeda seperti Jepang, Hongkong, China, Singapore, Italia, Swiss, Jerman, Irlandia, Australia, Kanada, Meksiko dan Kazhakistan, Gedung yang terdiri atas 36 lantai ini dimiliki oleh seorang keluarga konglomerat Korea Selatan, Kim Jong Hwa. Beliau adalah sosok yang sangat dihormati lantaran sikapnya yang ramah dan sederhana dibalik kekayaannya yang bejibun itu. Saat ini beliau telah berusia 58 tahun yang kemudian memaksanya untuk beristirahat total sejak 4 tahun silam, dimana kendali perusahaan diserahkan sepenuhya pada putra pertamanya Kim Jong Woon. Sedang putra keduanya yakni Kim Jong Jin sedang menjalani masa kuliahnya di Edinburgh University, Scotlandia.

1239504_1411042825776571_265122133_n

Dingin, misterius, kaya, berbahaya, wajah tampan dan tinggi 180 cm, itulah kira-kira deskripsi singkat tentang Kim Jong Woon, CEO dari perusahaan terbesar di Asia, YS Group. Ya, Pria kelahiran 24 Agustus 1984 ini menyelesaikan seluruh pendidikannya di Columbia University, Amerika dengan IPK sempurna atau summa cumLaude. Tak ayal ini membuatnya menjadi sosok yang dingin, jarang tersenyum, dan kurang ramah tetapi tegas, bijaksana dan tentu sudah tidak diragukan lagi kemampuannya untuk menjalankan perusahaan sebesar YS Group. Belum lagi wajah tampannya yang dengan sangat membosankan selalu menghiasi headline berita setiap bulannya lantaran prestasinya dalam mengembangkan YS Group atau sekedar pertemuannya dengan beberapa wanita, baik dari kalangan konglomerat ataupun artis yang kemudian disebut-sebut sebagai pacar, calon tunangan, calon pendamping atau sejuta berita murahan yang tak perlu kusebutkan lagi. Namun, disamping image dingin dan sok cassanovanya tersebut sesungguhnya dia memiliki naluri seorang ayah yang sempurna yang tentunya di idam-idakamkan banyak wanita.

Tok…tok…tok

Pintu kayu bercat hitam metalik dengan kesan angkuh yang tak ditutup-tutupi itu terdengar bergaung lantaran seseorang tengah mengetuknya dari balik daun pintunya.

Masuk.” Sahut suara bariton yang diketahui milik CEO dari YS Group, Kim Jong Woon.

Tak lama setelah sahutan itu, terdengarlah bunyi pintu yang dibuka dengan gerakan perlahan dan tampaklah ruangan dengan luas 10×10 meter yang didominasi warna hitam, putih, dan hijau apel.

Home Interior Design

Sisi kanan dari ruangan tersebut dihiasi dengan lukisan abstrak yang tidak bisa dicerna apa maksudnya, sebuah LED layar datar, dan beberapa gucci berwarna hitam dan putih mengkilat yang dapat dipastikan dengan jelas bahwa tak ada satu debupun yang berani menempel atau beresiko meluncur bebas saking licinnya. Kemudian disisi kirinya dipasanglah tembok kaca yang akan memperlihatkan indahnya pemandangan kota seoul di malam hari dan langit biru di siang harinya. Menjorok ke depan sedikit, terlihatlah sebuah sofa berkelas yang lagi-lagi terdiri atas warna hitam dan putih yang ditata dengan sangat artistik, sebuah meja bulat berwarna hijau muda, dan beberapa majalah bisnis yang tergeletak dengan rapi di atasnya. Berjalan ke depan beberapa langkah maka disanalah singasana sang raja berada, sebuah meja hitam metalik, kursi besar khas CEO, laptop, tumpukan dokumen, beberapa buah miniatur pesawat terbang dan tak ketinggalan sebuah plakat nama bertuliskan Kim Jong Woon yang ditulis dengan huruf hangul. Di belakangnya, diletakkan sebuah rak buku yang menyatu dengan dinding berdesain rumit dengan koleksi buku-buku tua maupun keluaran terbaru yang ditata dengan nilai seni yang tinggi. Dipandang dari segi manapun ruangan tersebut memang terlihat mengintimidasi siapapun. Poin plusnya adalah sosok yang sedang duduk di kursi besar itu. Yah, seseorang yang membuat siapapun merinding dan memilih untuk tidak mencari gara-gara atau kau akan mati hanya dengan tatapan matanya yang tajam.

Selamat siang, sajangnim.” Sapa sekertaris kepercayaannya, Lee Hyuk Jae dengan senyum yang mengisyaratkan kenaikan gaji bulanan.

Bukankah sudah kukatakan bahwa aku sangat sibuk monyet. Cepatlah keluar jika bukan hal sangat penting yang akan kau sampaikan.” Balas Jong Woon datar masih dengan tangan yang sibuk membolak-balik dokumen yang sedang diperiksanya dan sesekali mengecek laptopnya untuk memastikan kondisi pasar saham.

Aishh! Berhentilah memanggilku monyet hyung. Aku hanya ingin mengingatkan jika malam ini anda memiliki jadwal penerbangan ke Italia untuk menghadiri perhelatan festival musim panas di Verona sekaligus jamuan makan malam bersama Presdir dari Produsen Navigasi ternama Pablo Marelli yang gencar ingin membangun kerjasama dengan YS Group sejak beberapa bulan terakhir.”

Arra, aku ini memiliki otak yang cemerlang jadi kau tak perlu repot-repot untuk mengingatkan hal sepele seperti itu, dan satu lagi, ini masih jam kantor monyet jadi berhentilah untuk memanggilku hyung atau kupotong gajimu sebesar 10% untuk setiap panggilan.”

Sudah kubilang berhentilah memanggilku monyet atau kau akan menemukan surat pengunduran diriku besok pagi di mejamu. Aku ini sekertaris langka yang tak akan kau temukan dimanapun sajangnim.”

Oh! Tentu saja, aku bahkan harus berpetualang jauh-jauh ke hutan Arizona untuk menemukanmu. Belum lagi waktu yang harus aku luangkan untuk mencari seseorang yang mau sedikit bersusah payah untuk menurunkanmu dari salah satu dahan pohon di hutan Arizona. Huh… Benar-benar langka.” Jawab Jong Woon cuek masih dengan wajah datarnya.

Terserah hyung lah. Aku permisi dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Balas Hyuk Jae merajuk sambil membungkukkan badan dengan bibir yang mengerucut lucu untuk kemudian berlalu menggapai pintu. Namun, belum juga menyentuh ganggang pintu sebuah suara membuatnya mengurungkan niat untuk melangkah.

Chakaman! Ahh… Aku menunggu surat penggunduran dirimu sepupu.” Kata Jong Woon sambil menatap Hyuk Jae dengan tatapan matanya yang tajam dan smirk di sudut bibirnya.

Ow, tentu saja aku tidak serius.” Balas Hyuk Jae dengan gummy smilenya yang akan membuat siapapun setuju jika Jong Woon memanggilnya monyet.

***

Fiumicino Airport, Roma, Italia

rome-fiumicino-airport-transfers

Rapped jeans dengan logo Hermes berwarna abu-abu dipadu dengan kemeja putih karya Christian Dior, kaca mata hitam berlabel Why Style dan tas ransel berwarna putih yang tersampir manis di punggung kecilnya. Untuk menyempurnakan penampilannya sebuah sepatu kets berwarna biru dongker dengan sedikit aksen warna putih membalut kaki jenjangnya dengan sangat pas. Kemudian sebuah kamera bermerek Canon yang sekali lagi memiliki warna dominan putih juga terlihat menggantung di leher cantiknya. Wanita yang di ketahui bernama stef itu kemudian menarik sebuah koper biru beraksen bendera inggris berukuran sedang dan berjalan beriringan dengan teman satu apartemennya, Summer di sebuah lobi kedatangan terminal C bandara Fiumicino, Roma, Italia yang terkesan lanjut usia.

Te Adoro Italiano!!” Seru summer begitu sampai di halaman depan dari bandara Fiumicino. Tak berapa lama setelah itu semua mata hampir terfokus pada mereka berdua lantaran teriakan noraknya yang cukup kencang tadi.

Oh, Girl! Kamu membuat orang-orang memandangi kita dengan tatapan geli yang berlebihan kau tahu. Dan jika kau tak ingin menjadi solo traveller sekarang juga maka tinggalkan sifat norakmu itu disini atau aku benar-benar akan meninggalkanmu.” Ancamku dengan mata yang memandang tak tentu arah memastikan orang-orang tak lagi memandangi kami lataran sikap Summer yang sedikit berlebihan itu.

Santailah sedikit stef jika kau tak ingin menjadi nenek-nenek tua sebelum waktunya.” Balas Summer dengan tawa ringannya.

Sialan! I don’t care okey. Just shut up your mouth.” Balasku sambil membuka pintu taksi yang akan membawa kami ke sebuah hotel yang telah kami pesan sebelumnya.

Dengan sangat tidak rela. Yeah, I will.” Jawabnya sambil tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Aku memilih mengabaikannya untuk kemudian memejamkan mata sejenak demi menetralisir jet lag setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu beberapa jam dari Swiss ke Italia.

***

La Fontana di Trevi, Roma, Italia

tttt

Pagi ini dengan terburu-buru, dibawah cantiknya langit Roma kami pergi ke La Fontana di Trevi dan beberapa bangunan tua di pusat kota Roma. Setelah menunggu Summer selama beberapa saat untuk melakoni ritual lempar koin di La fontana di Trevi kami langsung menuju stasiun kereta Roma Termini yang terlihat lebih modern dan artistik ketimbang bandara Fiumicino yang memiliki arsitektur kuno dan lanjut usia, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Verona, salah satu kota wisata cantik di Italia.

This.” Summer menyodorkan sebuah sandwich dan segelas minuman yang tak kutahu apa isinya. Semoga saja dia tidak meracuniku lantaran membuatnya salah melempar koin di La Fontana di Trevi karena harus mengejar waktu keberangkatan. Ah perlu kujelaskan bahwa di La Fontana di Trevi ada 3 jenis pelemparan koin. Jika kamu melempar sebuah koin maka kamu akan kembali ke Roma. Jika kamu melempar dua koin maka kamu akan menemukan cinta, dan jika kamu melempar tiga koin maka kamu akan segera menikah. Begitulah kira-kira mitos bodoh yang dipercayai jutaan makhluk di seluruh dunia, dan celakannya aku telah membuat summer salah melempar koin yang bisa saja berarti kesialan. Andai saja melempar koin bisa menghilangkan penyakit cerewet seseorang dan bukan mendapatkan jodoh, maka dengan senang hati aku akan menemaninya seharian di La Fontana di Trevi.

Grazie.” Jawabku sambil mengambil makanan tersebut dari tangannya.

That’s okey.”

Kemudian kami saling diam dan sibuk dengan makanan masing masing hingga tanpa disadari kereta yang kami tumpangi telah sampai di Verona. Ah sial baru kali ini aku merasa bersalah padanya.

Yak! Kau tak sedang merajuk kan? Baiklah, demi rasa bersalahku yang tak seberapa ini aku akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi di Verona.” Dan demi Wine Burgudy paling perfect di dunia, aku tak sedang merayu seseorang bukan. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan otakku, mungkin setelah ini aku harus segera pergi menemui Stefano, temanku yang berprofesi sebagai psikolog di Swiss.

Are you sure? Okey! You are mine today. Just Follow me and… No protest”

Dan lihat dia telah mencengkeram tanganku dengan kuat, takut-takut kalau aku akan menelan kembali ucapanku. Dan disinilah akhirnya kami berada. Sebuah tempat yang akan membuatmu membutuhkan obat anti muntah dengan dosis tertinggi, Casa di Giuletta.

Ya, ya, ya, kau tak berniat melakukan sesuatu yang bodoh bukan?” tanyaku dengan tatapan horor pada orang-orang yang memeluk patung juliet sambil menangis tersedu-sedu. Belum lagi ratusan orang lainnya yang sibuk menulis surat cinta untuk Juliet di sisi kanan Casa di Giuletta. Totally Idiot.

huslafu

Jika yang kau maksud memeluk Juliet dan menulis surat cinta…. maka ya, aku akan membuatmu sangat kecewa.”

Okey! I have to go.”

Oh, No Girl. No, you have promise to me okey. Don’t forget it.”

Persetan dengan itu. I don’t care. Pertama aku masih ingin berjalan dengan sepatu di kedua kakiku dan kedua aku masih terlalu sayang untuk membiarkan sepatu ini mendarat di tempat yang tidak seharusnya. Jadi biarkan aku pergi sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

Berhentilah berharap karena kau akan tetap disini.”

Okey, aku akan menunggumu tapi tidak disini, biarkan aku menunggumu di salah satu cafe di ujung jalan sana karena aku tak ingin membuat sarapan pagiku berakhir sia-sia.”

Belgium 105

Tidak buruk. You can.” Balas Summer sambil tersenyum manis dan melambaikan tangannya kemudian meninggalkanku untuk memulai ritual bodohnya.

Aku hanya menatapnya sekilas dan buru-buru pergi dari hadapannya.

***

Sant’Eustachio il Caffe, Verona, Italia

tumblr_mgvevho72U1qblxs2o1_500

Setelah memesan segelas Ice Americano dan satu porsi Veal Marsala, aku mendudukkan diriku di salah satu kursi yang terletak di luar ruangan dengan payung berwarna hijau besar dan bunga yang bermekaran. Dari sini aku dapat memandang orang-orang yang berlalu lalang dengan gerakan kaki yang mengalun ringan, langit yang membiru, dan hembusan angin di musim panas yang hangat. Aku menghabiskan makananku sambil membaca sebuah buku karya penulis zaman Romantisisme yang cukup terkenal, Novalis.

itali4

Namun belum juga menelan makananku, mataku justru terpaku pada sosok yang baru saja memasuki cafe dengan kemeja lengan pendek beraksen abstrak yang dipadukan dengan celana kain hitam dan sebuah kaca mata gelap berlebel Why style yang semakin menambah kesan mempesona dari laki-laki yang kuperkirakan memiliki tinggi sekitar 180 cm tersebut, Hidungnya yang lancip dan rambut hitamnya yang ditata acak-acakan menambah kesan sexy yang tak terbantahkan. Tampan… hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkannya.

10507981_1443928855880878_562985964_n

Dilihat dari wajahnya pria ini jelas bukan pria Mediteranian, dia seorang Asia, mungkin Korea. Jika kalian penasaran bagaimana aku tahu maka kukatakan bahwa aku juga masih keturunan Korea dan bahkan aku baru saja mengunjungi negara itu sekitar 6 bulan yang lalu, tentu saja aku dapat mengenalinya.

Hey! Melamun lagi oh. Benar-benar. Bukankah pernah kukatakan berhenti menatap dengan pandangan seperti itu atau kau akan membuat pria tampan itu masuk ke dalam matamu.”

Summer, tentu saja aku tahu. Tapi tunggu, bagaimana dia tahu bahwa aku sedang memandangi pria itu.

Kau pasti penasaran bagaimana aku bisa mengetahuinya bukan. Tentu saja siapapun juga akan tahu bahwa kau sedang memandang pria itu seakan ingin memakannya, dan aku pastikan kau bahkan tidak menyadari kehadiranku ketika aku memasuki cafe ini untuk memesan makanan beberapa saat yang lalu.”

Bangg!! Semua yang dikatakannya memang 100% benar. Sejak tadi aku juga bertanya-tanya dari mana datangnya segelas Cappucino di hadapan Summer, ternyata memang aku yang terlalu lama melamun, ah lebih tepatnya memandangi pria di sudut cafe itu.

Ekhmm… Kau sudah selesai dengan kegiatan bodohmu itu?” tanyaku santai. Berusaha menyembunyikan wajah gugupku lantaran ketahuan memandangi seorang pria yang berjarak 2 meja dari tempatku berada sekarang dan aku hampir yakin bahwa pria itu menyadari kegiatan bodohku yang terus memandanginya sejak pertama kali memasuki tempat ini. Benar-benar memalukan.

Berhentilah mengatainya bodoh jika kau tidak ingin dibully oleh orang-orang yang rela menghabiskan ratusan Euro hanya untuk datang bertemu Juliet”.

Mereka memang bodoh. Kau tahu, balkon yang disebut-sebut sebagai tempat pertemuan pertama Romeo dan Juliet itu bahkan baru dibangun tahun 1936 oleh pemerintah Italia atau beberapa ratus tahun setelah kematian Juliet demi meningkatkan kunjungan wisatawan ke Verona dan semua orang mengetahui fakta itu. Jadi, kalau bukan bodoh aku harus menyebutnya apa lagi.”

Tetap saja kau tak boleh mengungkapkannya. Anggap saja kau sedang menyelamatkan pariwisata Italia. Dan kau tahu, kau baru saja mengataiku bodoh Stef.” Balas Summer sambil memandangku kesal.

Aku hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua bahuku kemudian melanjutkan makanku yang sempat terinterupsi lantaran kehadiran pria tampan yang tak kutahu siapa namanya.

Stef, Entah bagaimana, kurasa pria itu sedang memandangimu.”

Oh! Tentu, karena aku baru saja mempermalukan diriku sendiri lantaran memandanginya sejak dia memasuki cafe ini.

Mungkin.” Jawabku tak yakin sambil memastikan pernyataan Summer dan Hell… pria itu memang sedang memandang ke arahku sekarang.

Cepat habiskan makananmu kemudian segera pergi dari sini.” Kataku sambil memakan makananku dengan gerakan cepat.

Aishh kau mulai menyebalkan lagi.”

***

          Hari ini aku sedang sangat bosan setelah seharian menghabiskan waktu untuk beramah-tamah dengan kolega aboeji yang kebanyakan merupakan penjilat kelas atas. Huh… memuakkan. Itulah alasan mengapa aku bisa berada di sini, disebuah cafe bergaya victoria dengan payung-payung besar berwarna hijau dan beberapa bunga yang bermekaran dengan cantiknya. Tersenyum seakan menarik siapapun untuk sekedar singgah. Setelah memesan secangkir kopi dan 1 porsi waffle dengan toping buah dan lelehan coklat aku mendudukkan diriku disalah satu meja outdoor yang memperlihatkan cantiknya langit Verona sore itu. Setidaknya ini cukup menghibur.

Namun, entah mengapa sejak tadi aku merasa punggungku berdesir seakan ada yang memandangiku. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru cafe dan… lihat benar kan apa kataku, seseorang memang tengah memandangiku sejak aku menginjakkan kaki di cafe ini. Ya, seorang gadis berwajah Asia bercampur Eropa yang kuakui cukup lumayan. Dia duduk bersama seorang gadis berwajah oriental Eropa. Cantik, tetapi gadis itu nyatanya jauh lebih cantik. Mata kami sempat bertemu beberapa saat sebelum gadis itu memalingkan wajah gugupnya. Menarik… Batinku dengan smirk di sudut bibirku. Let’s see. Maybe, we can meet again later girl.

TBC

Guten Tag. I hope that you always have a good day, good life, good mood, and good choice. Ah again. I don’t know why, but in this week I always think about choice, choice, choice, and choice. Maybe I need to choose something. I don’t know. Just forget it now because I want to tell you the good thing than it. What is that?

This…

Next Post ~L’eterevient~
Chapter 1: Americano

This is my first project and I don’t know it’s good to read or not. I just try so hard and I need 4 days to finish it. I hope that you can give a lot of criticism for me or If you want you can criticize my english too.
Yeah, I know I am not fluent.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s