Bukan MEREKA tetapi AKU

Aku Bukan Mereka Cover

Bukan hal mengejutkan lagi bahwa kebiasaan ini selalu menjadi top topic di Indonesia dan tentunya hampir tidak ada solusi yang bisa menyelesaikannya. Mengapa harus setragis itu? Ya, karena kenyataannya memang demikian, ibarat benang maka ini merupakan benang yang sudah sangat kusut dan mungkin kita hanya memiliki dua pilihan paling logis yakni menguraikannya satu persatu dengan kemungkinan 2% atau membuangnya begitu saja seperti sampah. Tetapi sepertinya kemungkinan kedua adalah hal yang paling mungkin untuk dilakukan sekarang.

Keterlambatan…

Entah bagaimana sejarahnya, kebiasaan satu ini bisa begitu dimaklumi di negeri ini, membudaya, dan dengan sangat konyol dijadikan sebuah kebanggaan. Rasa-rasanya kalau berani terlambat itu kelihatan begitu kerennya. Yang paling miris itu jika sesuatu yang disebut dengan keterlambatan ini selalu memerlukan space khusus bahkan di dalam kelas sekalipun. Salah seorang dosenku pernah mengatakan bahwa “Itu adalah pilihan, saya yakin kalian sudah dewasa dan tentunya tahu mana yang baik dan mana yang buruk”. Ya, anggap saja iya. Tetapi sayangnya kedewasaan nyatanya tak bisa mengalahkan kebudayaan dan kebiasaan bukan. Berarti apa, memang diperlukan peraturan khusus untuk mengendalikanya. Itu jika kita masih berharap akan adanya perubahan yang berarti.

Aku tahu aku belum sesempurna itu namun, seterlambatnya aku entah bagaimana prosesnya kebanyakan aku tetap datang lebih dulu dari siapapun. Aku memiliki cerita menarik jadi suatu ketika kami membuat sebuah janji untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk salah seorang sahabatku. Kami menyepakati pukul 9 pagi untuk mengadakan pesta kejutan. Nah, karena mereka sering banget terlambat bahkan pernah sampai satu jam dari perjanjian yang telah disepakati sebelumnya akhirnya aku membuat sebuah keisengan “Bagaimana jika aku yang terlambat. What will happen after that? Let’s see”. Dengan berbekal pikiran itu akhirnya aku benar-benar melakukannya, dan dengan sangat ajaibnya aku bisa telat tepat selama 1 jam and you know what happen after that? Aku dipukulin pakai tas dan mereka ngomel sepanjang sisa hari lantaran kejutannya menjadi gagal total. Dan demi memanaskan suasana yang sudah terbangun dengan sempurna akhirnya aku bilang gini aja

Akhirnya ya sepanjang hidup aku ditungguin juga dan bukan nunggu terus. Ahh jinjja haengbokhaeseyo”.

Njiir ngeselin banget sih”.

Aku cuma mau ngetes aja. Kan biasanya yang telat kalian jadi sekarang kondisinya sedang aku balik dengan aku yang menjadi pihak yang telat, seharusnya nggak ada masalah donk”.

Tentu aja ada, masalahnya adalah kamu telat disaat yang tidak tepat.”

Okey! Aku telat disaat yang tidak tepat, lalu bagaimana dengan kamu yang selalu telat, apa itu yang disebut waktu yang tepat? Kalau begitu katakan padaku dimana letak tepatnya. Aku kan penasaran juga.”

Ahh bodo pokoknya intinya kamu telat disaat yang nggak tepat”.

Dan endingnya mereka kesel sama aku seharian penuh dengan alasan karena aku telat dan sahabat aku kemungkinan besar udah mencium rencana kejutan kita. Tapi, jika boleh jujur sesungguhnya aku sangat menyesal juga… Jika kalian berpikir karena aku telat maka sayang sekali karena aku nggak seperasa itu. Tentu saja aku sangat menyesal karena nggak sempat mengabadikan wajah kesal mereka di depan rumah siang itu. It can be a good memorise right. Jika aku adalah mereka ketika aku telat maka demi tuhan aku mungkin akan menghabiskan waktuku dengan sangat menyedihkan karena terus meributkan alasan telat mereka yang benar-benar menguji kesabaran dengan presentase 99,9% *kenapa jadi mirip iklan anti bakteri saja*. Mungkin aku bisa menjadi sangat pengertian padamu tetapi belum tentu dunia barumu nanti akan memberikan pengertian yang sama seperti yang aku berikan. Jadi, pikirkan lagi karena kamu tidak mendiami dunia ini sendiri melainkan bersama-sama dengan jutaan orang lainnya.

Solusi yang bisa aku terapkan untuk diriku sendiri jika mengalami kondisi semacam itu hanya ada satu, -Bukan ‘mereka’ tetapi ‘aku’- .Ya, jika sesuatu yang kuharapkan berubah belum dapat berubah sesuai harapanku maka akulah yang harus berubah. Walaupun itu berarti akan berseberangan dengan birokrasi yang ada. Karena nyatanya kita akan terus dikendalikan oleh birokrasi yang entah benar ataupun salah akan selalu menempeli kita. Dan bagi aku menanti berubahnya sistem secara keseluruhan hanyalah harapan bodoh yang hampir mustahil untuk terjadi dalam rentang waktu yang kita inginkan. Jadi solusinya, bukan mereka lagi tetapi aku. Ya, aku yang harus berubah. Kuharap ini bisa meginspirasi kalian juga untuk berubah.

Ingat!! “Bukan MEREKA lagi tetapi AKU. Iya AKU, dan mungkin juga KAMU”

So, Good Bye and see you

_Yyong_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s