Jadi… Dia…

Hola… Hola…*lambaikanTanganKePenggemar* Ya ampun, ya ampun, ya ampun udah berapa sih lama aku nggak nulis (Baca ala Raditya Dika). Aduh untuk para penggemar maaf banget deh karena updatenya jadi lama banget. (Apa sih lebay!). Okey! Stop! Pokoknya aku mau cerita sesuatu nieh. Jadi beberapa bulan yang lalu aku terus bertemu dengan seseorang tanpa sengaja. Widih! Berasa sinetron banget nieh. Jadi memang tanpa sengaja kukira, dan itu terus berulang lagi, lagi, lagi, dan lagi. Mitosnya orang Indonesia sih kalau ketemu tanpa sengaja… berulang… berarti… ‘Jodoh’. Itukah yang ada dipikiran kalian sekarang. Jika iya, please it just happened on the romance story okey! Dan dengan sangat tidak menyesal kukatakan bahwa kalian udah nggak tertolong lagi. Mau tahu kenapa? Ya iyalah orang se-kampus juga. Udah se-kampus, se-fakultas lagi. Udah se-fakulatas, se-jurusan pula. Tuh… mustahil banget kan kalau sampai kita nggak ketemu, kecuali dia alien yang bisa menghilang seenak kepalanya, itu lain cerita.

Nah, suatu hari entah karena apa, jadwal kuliah mungkin, tugas atau apapun i don’t remember, aku berangkat pagi-pagi banget dan tebak… I meet with him again. And yeah he always busy with his laptop like every I meet with him in the past. Maybe his laptop is his girlfriend. I don’t know. Dan jika kalian masih berminat untuk penasaran maka kukatakan bahwa kami tak menciptakan percakapan apapun layaknya manusia pada umumnya. Mungkin jika Dora melihat kita maka dia pasti akan berpikiran bahwa kami terlihat seperti dua alien dari dua planet berbeda, kemudian tanpa sengaja ketemu di kampus karena sebuah misi tersembunyi with high privasion seperti yang biasa terjadi dalam fiksi-fiksi menggelikan karya manusia di abad ini. Tapi Dora, kukira kamu sudah terindikasi overdosis film. Oleh karena itu, jika boleh aku membantah maka kuberitahu bahwa mungkin saja mereka tidak berbicara satu sama lain bukan karena misi tersembunyi mereka, tetapi karena alien nggak belajar foreigen language dari negara tetangga mereka. So, they can not understand. Atau kemungkinan lainnya adalah memang mereka nggak punya standart of International language seperti bahasa inggris. So, I think, ini bisa jadi masukan sangat bagus untuk para perencana kebijakan negara alien bahwa kalian perlu mengadakan konferensi internasional untuk menyepakati bahasa antar saudara kalian. Dan… demi Tuhan, aku ngomongin apaan sih.

Ya… ya… ya. Pokoknya begitulah. Kemudian karena kita hanya berdua aja waktu itu, akhirnya dia ngajakin aku ngomong juga. Tahu nggak apa yang dia omongin

Eh kamu masih lama nggak disini?”

Wah pasti mau ngajakin ngobrol atau diskusi nieh. Pasti banget. Ya udah deh aku jawab aja “Masih, kenapa memang?”

Aku nitip laptop dulu ya, ada urusan urgent banget nieh.”

GUBRAKKKKKKK! *pasangMukaCengong*

Dan dengan hati dongkol dan senyum setengah mati, eh salah setengah hati maksudnya akhirnya aku jawab aja “Okey!”.

Waktu terus berjalan tetapi aku nggak pernah lihat dia lagi dan I don’t care juga gitu. Sampai suatu ketika atau berbulan-bulan setelah pertemuan terakhir itu, tanpa sengaja aku dan seorang temanku yang lagi ngobrol asik tiba-tiba nyasar jadi ngomongin soal situasi kampus. Dan demi Dora yang akhirnya tahu kalau itu jembatan, itu adalah salah satu hal yang langka se-langka keberadaan komodo di pulau komodo. Kemudian dia bercerita soal penulis dari kampus tempat aku menuntut ilmu. Dimana dia baru aja lulus beberapa waktu lalu dan dia juga udah masuk di situs pencarian google lantaran wawancaranya dengan beberapa media. Selain itu, aku juga sempat nemuin bukunya dia di salah satu toko buku paling top di Indonesia. Tahulah. Nggak usah disebut juga entar dia makin terkenal lagi. Jadi, intinya dia udah cukup tenar, dan waktu aku baca beberapa hal yang termuat di bukunya dia. Wow! Dia cukup berani juga ya untuk menulis se-vulgar itu. But yeah… harus diakui tulisannya emang bagus dan tentu saja penerbit pasti ngelirik juga. Nah, begitu kita berbicara lebih lanjut akhirnya disitulah aku tahu bahwa dari ciri-ciri yang disebutkan teman aku sepertinya udah nggak asing lagi gitu dan… Bingo! pasti udah pada tahu kan lanjutan ceritanya gimana. Tepat, dia adalah makhluk yang sempet nitipin laptopnya ke aku beberapa bulan yang lalu. Dan demi tuhan aku sama sekali nggak tahu kalau dia seorang penulis yang cukup bagus juga. Jujur aku menyesal banget karena nggak sempat berbicara banyak dengan dia dan yang pasti aku nggak sempat mengamati bagaimana dia berpetualang untuk mendapatkan secuil ide untuk kemudian dia imajinasikan menjadi sebuah karya sastra. Dan ini kedua kalinya aku mengalami kejadian serupa, bedanya untuk penulis yang satunya dia udah senior banget dan hampir setiap karyanya selalu masuk jajaran best seller nasional.

Aku bingung juga apa moral value dari tulisan aku ini, tetapi mungkin sedikit kesimpulan bahwa kamu harus lebih cermat dan lebih peduli lagi dengan lingkungan sekitarmu karena mungkin saja disana ada seseorang yang akan sangat bermanfaat untukmu nantinya. Ada suatu teori, teori ini banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri yakni teori OP atau Other People. Jadi, cermatlah karena siapa tahu dia adalah ladang belajarmu. So, Fighting and See you… *lambaiCantikk* (pembaca tutup mata, tutup telinga, bubar).

Ps: Jikalau diantara kalian ada yang ingin tahu siapa dia dan penasaran bukunya apa bisa mention di Twitter aku @HanyongraRa karena aku nggak bisa mendiskripsikan secara gamblang karena takutnya semuanya langsung pada tahu siapa orangnya. Jadi, silahkan mention bagi yang penasaran.

_Yyong_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s