Travelling Itu filosof

cropped-052004-99-1813-hm-3529x2400-305.jpg

Bulan ini adalah salah satu bulan yang membuatku mengenang banyak hal, dimana saat itu di bulan ini, bangsa ini, dengan berani menyatakan kemerdekaannya dan melepaskan diri dari himpitan penjajah. Yah, tepat 70 tahun lalu sang proklamator bangsa menyerukan bahwa bangsa ini bebas, bebas untuk melakukan apapun dan menjadi raja di negerinya sendiri. Padahal saat itu sang proklamator tahu bahwa angka melek huruf sangat rendah dan bisa dihitung jari, belum lagi kemiskinan yang seakan merontokkan keyakinan untuk merdeka tetapi dengan segala konsekuensi yang akan datang, bangsa ini berani bergerak dan menyatakan dirinya merdeka. Jadi, terima kasih untuk para pemimpin bangsa karena berkat kalian, saat ini kami bisa menghirup oksigen dengan nyaman dan aman. Bahkan, kami bisa pergi ke banyak negara dengan sejuta kebanggan. Sekali lagi terima kasih and Happy Independent Day. We always love this country till the end…

Okey! Berbicara tentang perjalanan tentu tak bisa terlepas dari makna perjalanan itu sendiri dan mungkin kita lebih akrab menyebutnya… travelling. Yes, That is one of the best thing in the world. Ada jutaan orang di luar sana yang memiliki mimpi untuk bepergian ke banyak negara di dunia. Dan mungkin aku adalah salah satu dari jutaan orang itu. Tapi tahukah kalian jika dari sekian juta itu hanya ada beberapa saja yang mampu mewujudkannya. Karena itulah travelling begitu istimewa sehingga diperlukan tekad yang sangat besar.

Travelling… banyak yang mengatakan bahwa travelling itu mahal, sehingga banyak dari mereka yang memutuskan bahwa travelling bukan hal yang penting karena kebutuhan hidup menjadi jauh lebih penting. Padahal para traveller menyatakan bahwa travelling itu tidak selalu harus mahal. Trinity misalnya, sang ikon traveller di Indonesia ini menyatakan bahwa dia juga tidak memiliki banyak uang pada awalnya, tetapi tekad dan prioritasnya lah yang menyebabkan dirinya dapat berjalan-jalan ke banyak negara. Bahkan saat masih berkuliah di Universitas Diponegoro, Trinity sudah sukses menginjakkan kakinya di Belanda dengan uangnya sendiri. Jadi, intinya travelling itu bukan seberapa banyak uang yang kamu miliki tetapi seberapa berani kamu meletakkanya dalam daftar prioritas. Saat ini, Trinity telah pergi ke sekitar 70 negara di dunia dan buku-bukunya selalu masuk dalam daftar Bestseller nasional. Bukunya sendiri berjudul The Naked Traveller yang sudah memiliki beberapa seri. Bahkan, ada yang sudah ditulis dalam bahasa inggris.

Nah, udah pada tahu kan bahwa travelling itu tidak selalu harus tentang uang, maka sekarang saatnya masuk ke sesi arti travelling itu sendiri tetapi ini terbatas pada kacamata aku pribadi jadi orang lain bisa saja menilai berbeda.

Menurut aku travelling adalah salah satu kegiatan paling menarik yang pernah ada di planet bumi, dimana kamu bisa pergi ke seluruh penjuru dunia kemudian belajar banyak hal dari padanya. Ingat selalu bahwa setiap negara memiliki budayanya masing-masing dengan sejuta keunikannya. Belum lagi karakter masyarakatnya yang selalu menuai decak kagum atau malah caci maki. Tentu hal yang relatif dimanapun bukan? Nah arti travelling untuk aku sendiri adalah bahwa travelling itu seperti filosof. Tahu nggak kenapa aku bisa mengatakan demikian karena filosof itu tidak mendoktrin seperti Guru. Filosof itu mengajak para muridnya untuk sama-sama berpikir dalam memecahkan suatu permasalahan, sehingga bukan tidak mungkin akan timbul suatu perbedaan seperti yang terjadi pada aristoteles yang akhirnya menyangkal pendapat dari gurunya sendiri yakni socrates. Berbeda sekali dengan guru yang biasanya akan menjejalkan segala sesuatu ke dalam tenggorokan kita dan menganggap dirinya lebih tahu. Travelling tidak begitu tentunya, dia adalah salah satu sosok pengajar yang tidak akan mendoktrin kita sesuka hatinya tetapi justru mengajak kita untuk sama-sama belajar dari semua pengalaman yang kita lalui. Dia juga tidak akan memberikan tugas rumah yang akan membuat waktumu yang sudah sempit menjadi kian sempit. Dia adalah sosok pengajar ideal yang pernah diciptakan tuhan. Maka setiap kamu travelling cobalah untuk lebih peduli pada sekitar dan nggak cuma menyibukkan diri dengan selfi-selfi semata karena dengan selfi kamu akan melewatkan banyak hal yang sesungguhya inti dari travelling itu sendiri. Jadi, bagi kamu yang masih muda ini saatnya kamu memulainya karena semakin tua maka kita akan semakin manja dengan diri kita sendiri. Tetapi disaat kita masih muda apa yang sesungguhnya tidak nyaman pun bisa menjadi nyaman karena keinginan yang menggebu-nggebu. So, Travelling GO!

Quotes By Me

“Ketika seluruh dunia menyetujui bahwa zaman pencerahan adalah zaman ketika revolusi perancis berlangsung maka, aku katakan bahwa bagi aku zaman pencerahan adalah zaman ketika hampir sebagian besar negara eropa menyetujui traktat schengen, bahkan yang tidak termasuk Uni-Eropa sekalipun. #zaman pencerahan untuk dunia travelling di Indonesia yang selalu masuk daftar need visa wherever you are and wherever you go.”

_Han Yong Ra_

Cheerio

shfly

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s