Secuil Demokrasi di Pelosok Negeri. Begitukah??

Hello, Guten Tag…

Ehmm… hari ini aku akan membahas tentang sesuatu yang cukup penting tapi yahh… sedikit menggelikan kukira. Ya. Ya. Ya. Hal semacam itulah.

Bulan-bulan ini entah mengapa aku merasa bahwa rakyat Indonesia sedang hobi-hobinya untuk protes. Tapi sepertinya aku harus berterima kasih pada mereka karena berkat mereka aku belajar banyak hal, mulai dari pura-pura jadi wartawan demi uji nyali sampai mengkritisi tuntutan para pendemo dan tentunya merasakan suasana mencekam yang disisi lain justru terasa seru. Selain itu, aku juga sangat berterima kasih karena untuk pertama kalinya aku bisa menyaksikan demo secara live. WOW! *LedakinBom* #TiupLilin. Dan nggak ada hubungannya please!

Okey! Forget it. Sebelum ini semakin panjang jadi langsung ke inti beritanya aja. Ekhmm… *mendadakSerak*.

Jadi, kemarin tepatnya tanggal 7 Agustus 2015 aku dan seorang teman pergi ke pusat kota karena suatu urusan, dan tanpa sengaja ditengah kota sedang berlangsung demo didepan gedung DPRD Pacitan yang menuntut penolakan penundaan pilkada serentak di kabupaten Pacitan. Demo ini sendiri dihadiri sekitar 100 orang yang berasal dari Forum Aliansi Demokrasi Pacitan. Ya, dengan memakai pengeras suara mereka meneriakkan tuntutan-tuntutan mereka di depan gedung DPRD. Bahkan sempat terlontar ancaman bahwa mereka akan menduduki gedung DPRD jika tidak ditanggapi. Hal itu dikarenakan mereka sudah melayangkan pemberitahuan bahwa pada hari itu tanggal 7 Agustus 2015 mereka akan melakukan orasi tetapi justru pada tangal itu gedung DPRD kosong sehingga mereka menganggap bahwa anggota DPRD itu pecundang. Kemudian tak berapa lama karena terus diteriaki akhirnya sang Sekertaris Daerah muncul dan menjelaskan alasan kosongnya gedung DPRD hari itu bahwasannya para anggota DPRD sedang melakukan rapat di Surabaya terkait solusi Pilkada Serentak yang menurut kabar yang beredar akan ditunda hingga 2017 karena hanya memiliki calon tunggal. Tapi, dari wajah-wajahnya mereka terlihat tidak percaya akan pernyataan tersebut. Dan menurut analisaku sesungguhnya Demo itu sendiri juga terasa janggal dan berikut kejanggalannya.

Pertama tentang jumlah masa yang tak seberapa itu. Memang demo tak harus berjumlah banyak hanya saja memang ada kejanggalan tersendiri di situ.

Kedua tentang komposisi masa, ya untuk yang dipanggung yang sedang meriakkan orasi memang terlihat cukup meyakinkan dan mungkin saja mereka memang paham dengan apa yang sedang mereka lakukan hari itu. Tetapi untuk masa yang berada di barisan belakang menurut aku hanya terlihat seperti pajangan dan penambah volume aja. Bahkan jika kita mau bertaruh dengan analisa psikologi, dari raut wajah mereka saja sudah bisa dinilai bahwa mereka tidak tahu apa-apa alias ikut-ikutan aja. Entah memang benar demikian atau tidak. *Molla*

Ketiga mengenai tuntutan. Kalau dipikir-pikir lagi tuntutan mereka memang masuk akal hanya saja kalau mereka mau berpikir kritis lagi mereka seharusnya tahu bahwa alasan tidak adanya yang mencalonkan kemungkianan karena mahar politik yang sangat mahal. Jika mereka tak memiliki modal yang banyak maka akan sangat sulit untuk bersaing, tapi sepertinya hal ini luput dari kajian mereka begitu. Dan jika kita mau berpikir logis tapi kekanankan dari pada mereka berteriak-teriak seperti itu mengapa bukan mereka saja yang mencalonkan. Lagian di UU terbaru kan sudah diperbolehkan calon Independen berpartisipasi dalam pemilu. Sah –sah saja kan kalau mereka nyalon juga, tapi kenapa enggak ada yang mau bergerak dan lebih memilih menghabiskan energi untuk berorasi. Jika alasannya mencalonkan diri tidak semudah itu, lah itu tahu. Baru sadar??? Nggak gampang kan??

Jujur aku juga cukup kecewa dengan ditundanya Pilkada Serentak di Kabupaten Pacitan ini karena sesungguhnya tahun ini adalah tahun pertama dimana aku dapat berpartisipasi dalam pemilu. Jadi, aku sangat kecewa karena harus tertunda 2 tahun lagi *berasaWajibMiliter*. Walaupun tahun 2014 kemarin seharusnya aku sudah bisa memilih tetapi saat itu aku belum terdaftar di DPT atau daftar pemilih tetap, tetapi saat itu aku sempat datang ke Tempat Pemilihan Umum hanya saja aku memilih pulang sebelum melakukan pemilihan atau dengan kata lain Golput. Okey! Mungkin itu tidak bisa dijadikan pembenaran atas tindakakanku tetapi birokrasinya itu loh. Rasanya pengen lempar petugasnya ke rawa-rawa saking kesalnya. Tapi apapun itu aku tahu bahwa aku salah dan seharusnya aku tidak mengulanginya lagi nanti. Jadi, bagi kalian yang mungkin memiliki masalah serupa denganku, jangan sampai kalian meniru tindakan aku karena itu merupakan suatu kesalahan. Dan jika boleh memberikan sedikit nasehat mau serumit apa birokrasinya cobalah untuk menahan diri sehingga kalian tetap bisa menggunakan hak pilih yang kalian miliki.

News Update: Pacitan Memilih. Tarik rasa kecewa.

And….. Time is up. So, See you on the next post with a different topic yang tentunya lebih seru dan menarik. Bye-bye…

IMG_20150806_104331

IMG_20150806_104407

IMG_20150806_104147

IMG_20150806_103921

IMG_20150806_103625

IMG_20150806_103610

IMG_20150806_103343

Photos By Me and Wahyu Nisaul Mufidah Mualif

shfly

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s