Berani BULLY, Pidana Menanti

Jujur waktu aku mau nulis artikel ini ada sedikit perasaan takut. Tapi kukira, aku akan lebih takut jika RUU ini disahkan nantinya, karena jika itu terjadi sudah bisa dipastikan artikel kecil ini takkan berada dimanapun. Jadi, mumpung kebebasan masih terbuka lebar mari dimanfaatkan sebaik-baiknya. *Please kenapa Jadi Berasa Orde Baru*

Hmmm…. Masa-masa ini mengapa terasa seperti masa peralihan menuju Orde Baru saja. Dan yah, anggap saja jika kita sedang berada di Orde Lama yang sebentar lagi akan digusur oleh hadirnya Orde Baru. Jika aku boleh sedikit alay, masa ini adalah masa yang paling aku takutkan, karena jika RUU ini sampai disahkan apa yang harus aku tulis nantinya. Fiksi? Oh! Shit. Demi Patrick yang nari samba di gurun sahara, aku bahkan ingin mencekik diriku sendiri setiap kali aku membaca tulisan fiksiku itu. Menggelikan. Sungguh sesuatu yang manis itu benar-benar menggelikan. Tentu lain cerita jika orang lain yang menuliskannya. So, ayolah kebebasan ini jangan sampai berlalu.

Okey! kukira introductionnya sudah terlampau panjang. Jadi, sebelum makin nggak jelas. Lets start NOW!!!

Dua bulan terakhir ini Indonesia sedang dihebohkan dengan pemberitaan tentang penghidupan kembali pasal peghinaan presiden. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi di kalangan masyarakat maupun elit politik. Bagaimana tidak, UU yang sempat disahkan pada tahun 1830 dan kemudian dihapuskan pada tahun 2006 itu oleh Mahkamah Konstitusi kembali diajukan oleh Presiden Joko Widodo di tahun 2015 ini. Menurut Masinton anggota komisi III DPR Fraksi PDIP menyatakan bahwa alasan diajukannya kembali RUU itu dikarenakan demi terlindunginya martabat pemimpin bangsa. Karena menurut beliau yang namanya presiden merupakan pemimpin dari suatu bangsa yang sudah sangat jelas harus dilindungi martabatnya dari penghinaan. Selain itu, pak Masinton ini juga memberikan beberapa contoh kegiatan yang termasuk dalam kategori menghina presiden yang bahkan terjadi belum lama ini, sebut saja mengotak atik foto presiden dengan mencoret-coret misalnya dan masih banyak lagi. Tentu jika boleh berburuk sangka pak Masinton ini jelas pasti akan membela mati-matian karena beliau ini sama-sama bersal dari partai politik yang sama. Siapa yang tahu.

Namun, Mahfud MD dan Eggi Sudjana sepertinya menjadi pihak yang kontra dengan diajukannya kembali RUU ini. Menurut Mahfud MD yang paling dikhawatirkan dari RUU ini adalah tentang batas dari penghinaan itu sendiri, takutnya orang yang memberikan pernyataan atau kritik justru malah dikira menghina dan dijatuhi pidana. Karena yang namanya menghina dan mengkritik memiliki perbedaan yang tipis sehingga, akan sangat sulit untuk dibedakan. Dan tentunya kita semua tak ingin hal itu terjadi bukan? Selain itu, beliau juga menyatakan bahwa UU yang sudah dicabut tidak bisa diajukan kembali dengan catatan tergantung materinya apa, dan untuk kasus ini beliau menyatakan bahwa hal itu tidak dibenarkan karena substansinya sudah konstitusi dan juga melangar pasal 28D sehingga sudah sepantasnya MK konsisten dengan keputusan yang sudah diambil dan menolak untuk mengesahkan kembali.

Senada dengan Mahfud MD, Eggi Sudjana juga menyatakan tidak setuju dengan diberlakukannya kembali pasal penghinaan presiden tersebut. Menurutnya hal itu akan sangat mengerikan bagi penegak hukum di Indonesia karena tidak adanya kepastian hukum dalam RUU. Alasan lainnya adalah bahwa sebuah RUU dibentuk berdasarkan nilai Filosofis, Yuridis, Historis, dan sosiologis sehingga menurutnya pak Jokowi ini tidak memahami hal tersebut. Bahkan dengan blak-blakan Eggi menyatakan bahwa alasan dibalik RUU ini hanyalah sebuah manis restorika belaka. Entah saking kesalnya atau apa dengan nada bercanda Eggi menyatakan jika UU penghinaan presiden disahkan maka harus dibentuk juga UU presiden berbohong. Selain itu, Eggi juga menyatakan bahwa pak Jokowi ini sepertinya takut dikritik karena Revolusi mental yang dicetuskannya sendiri. CkCkCk ada-ada aja.

Untuk aku pribadi mungkin bisa dikatakan bahwa aku juga menentang disahkannya RUU ini karena aku takut kita akan kembali ke masa Orde Baru dimana presiden adalah segala-galanya. Jika alasan diberlakukannya RUU ini adalah untuk melindungi martabat presiden dengan menghindarkan presiden dari penghinaan maka sudah sepantasnya dibentuk juga RUU penghinaan untuk rakyat jelata karena kita harus ingat bahwa manusia itu memiliki derajat yang sama dimata tuhan dan kedudukan yang sama dimata hukum. Selain itu, jika memang ada yang menghina presiden maka itu bisa dimasukkan dalam UU pencemaran nama baik misalnya atau bisa juga dengan memakai pasal 310, 311 KUHP. Jadi, seharusnya tidak ada alasan logis untuk menghidupkan kembali pasal ini. Oh ya satu lagi menurut Eggi Sudjana jika RUU disahkan maka Stand Up Comedy bakal gulung tikar. *lirikJui* yang jadi salah satu bintang tamunya. Bagaimana menurut kalian?? Pro or kontra?? Leave a comment please!

Sumber Informasi :    Negeri ½ Demokrasi, TV ONE

Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan, TV ONE

Bye…Bye

shfly

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s