When Your Life’s Feel Like Fanfiction

Hola…Hola…Hola…

Gimana Kabarnya? I hope you all always get the best condition everyday.

Berhubung masih dalam suasana lebaran, jadi…. Selamat Hari Raya Idhul Fitri Teman-teman. Ja’anallahu Minal Aidzin Wal Faidzin. Semoga di Hari kemenangan ini Amal kita bisa diterima disisi allah SWT. Amin

Ehmm… karena sesuatu hal aku mau bahas tentang khayalanku yang tiba-tiba muncul gitu aja. Apa itu??? Look at the description here…

Pernahkah kalian berpikir bagaimana jika kita hidup dalam sebuah story, fanfiction mungkin??

Hari ini entah karena apa tiba-tiba aku berpikir seandainya kita hidup dalam sebuah fanfction tidakkah itu terdengar cukup menarik. Kita bisa memilih kita ingin hidup dengan siapa, berteman dengan siapa, menghabiskan waktu dengan siapa, hidup dengan genre apa entah angst, romance, comedy, triller atau apapun. Kemudian kamu juga bisa memilih jalan hidupmu akan berjalan bagaimana happy endingkah atau malah sad ending. Selain itu kamu juga bisa memilih ingin tinggal di negara mana, bekerja sebagai apa dan melakukan apapun yang kamu inginkan.Tidakkah itu terdengar luar biasa.

Jika saja ada dunia semacam itu kukira aku akan memilihnya tanpa harus berpikir 2 kali. Menciptakan kondisi yang kita inginkan akan benar-benar menyenangkan bukan?

Okey mari berimajinasi…

Jika saja hal demikian bisa terjadi maka hal pertama yang akan aku lakukan adalah Travelling around the world. Mengunjungi banyak negara kemudian menuliskannya menjadi travel story. Kemudian mendapatkan beberapa teman yang menyenangkan. Mungkin juga tidak hanya sekedar travelling tapi tinggal menetap di salah satu negara misalnya. Wahh… it can be the best life right? Tapi setiap kali aku berpikir tentang ini, nyatanya aku tak tega juga meninggalkan negara kelahiranku begitu saja. Mau sebagus apa negara-negara di Eropa sana, swiss misalnya yang digadang-gadang sebagai surga dunia nyatanya masih tak bisa mengalahkan rasa cintaku pada Indonesia. Mau sebobrok apapun negeri ini aku tak bisa untuk tidak mencintainya. Bahkan kurasa cintaku terus bertambah setiap detiknya seperti tak ada hari esok. Terdengar gombal memang tapi kalian harus tahu bahwa negeri ini memiliki jutaan magnet yang akan membuatmu tak bisa mengalihkan pandangan dan perasaan untuk tidak berada disini. Ketika kamu memutuskan untuk pergi pasti ada perasaan bahwa kamu telah menghianati sesuatu. Ah bahkan dari cerita teman-teman yang pernah travelling ke banyak negara “apa yang paling dirindukan dari indonesia?” salah satu dari mereka pernah menjawab bis ngetem. Tahu donk kalau orang luar negeri itu tepat waktu banget jadi kita yang terbiasa santai-santai ini jelas pasti kena culture shock. Tidak hanya itu dinasti nyonya yang terbiasa dilayani juga menjadi tantangan tersendiri. Di Irlandia misalnya mbak altji pernah cerita bahwa di Irlandia segalanya harus dilakukan sendiri bahkan saat kita memasukkan barang belanjaan di supermarket setelah kita membayar di kasir. Selain itu di Irlandia jarang ada penjual makanan yang berkeliaran di depan rumah. Jangankan orang jualan keliling, makanan pesan antar aja jarang ada disana. Kalaupun ada harganya akan membuatmu bangkrut dalam sebulan jika terus melakukannya. Coba bandingkan dengan di Indonesia ketika kita kelaparan di tengah malam, kita hanya harus berjalan ke depan rumah maka semuanya sudah tersedia dan tinggal milih aja, harganya pun juga nggak mahal. Mungkin benar juga kata turis-turis yang pernah datang ke Indonesia bahwa segalanya terasa murah di Indonesia tapi kualitasnya nggak kalah bagus dengan yang di luar negeri dengan harga yang berkali lipat lebih mahal. Itulah salah satu alasan kenapa turis asing suka banget dengan Indonesia disamping alamnya yang luar biasa tentunya. Gimana masih nggak cinta juga? Kalau gitu siap-siap aja kehilangan pelayanan murah meriah dan jadi mandiri dimana semua harus dilakukan sendiri.

Kedua aku ingin belajar di Universitas dengan sistem pendidikan terbaik dan pendidik terbaik juga tentunya. Bagaimana tidak, hal yang membuatku selalu prihatin setiap detiknya adalah tentang bagaimana mirisnya pendidikan di negeri ini. Aku tahu aku bagian dari mereka yang beruntung bisa menapaki tangga universitas. Aku tahu seharusnya aku bersyukur akan hal ini. Hanya saja aku akan lebih bersyukur jika aku tak perlu meluangkan waktu untuk hal yang sia-sia seperti sekarang ini. Sungguh belajar di negeri ini benar-benar seperti penyia-nyiaan bakat saja. Tak heran jika banyak dari mereka yang berduit memilih untuk melanjutkan pendidikan di negeri orang. Selain dari segi sistem pendidikan, orang tua dan masyarakat memiliki andil yang cukup besar juga. Kalian tahu bagaimana rasanya hidup dibawah doktrin orang lain. Memuakkan bukan. Kak Seto pernah menyatakan bahwa kelemahan orang tua dalam mengetahui kelebihan anak adalah mereka selalu membanding-bandingkan dengan kemampuan anak lain. Tahu pepatah rumput tetangga lebih tinggi kan. Yah, semacam itulah. Mereka menuntut kita untuk bisa melakukan hal yang bisa dilakukan oleh anak lain. Kemudian dengan entengnya mendoktrin bodoh jika kita tak bisa melakukannya. Kalian pasti tahu bahwa hal demikianlah yang menjatuhkan self-esteem kita. Tidak hanya orang tua, masyarakat, guru, dan siapapun mereka selalu melakukan hal semacam ini. Jika sudah seperti ini maka hal yang pasti aku lakukan adalah menulikan telinga, menutup mata, dan fokus pada diri sendiri tanpa mau pusing-pusing memikirkan hal lain. Biarlah mereka berpikir sesuka hati mereka, selama itu nggak menganggu. I don’t care.

Benar memang I don’t care tapi setiap kali aku melihat anak-anak yang hidup di daerah pedalaman seperti tempat kelahiranku ini aku selalu saja terusik. Melihat binar mata penuh impian mereka membuatku ingin menangis. Dengan fasilitas sekolah yang tak seberapa itu tapi mereka masih terlihat bersemangat untuk meraih mimpi. Benar-benar tamparan untuk aku pribadi. Tidak hanya itu fasilitas jalan yang bisa membuatmu merengang nyawa kapan saja juga menjadi bagian yang paling kusesali. Kenapa mereka harus terlahir dengan kondisi semacam ini. Ah mungkin lebih tepatnya ‘kami’ karena kupikir aku juga pernah mengalami hal yang sama. Andai ini fanfiction tentu aku tak akan memilih kondisi semacam ini, sayangnya ini adalah realita. Namun apapun itu satu hal yang kuyakini “Jika aku bisa berubah seperti sekarang, maka ini pasti juga bisa”. Mungkin memang perlu beberapa waktu tapi aku yakin saat itu akan benar-benar ada. Tetap semangat para penerus bangsa.

Ketiga mungkin ini terasa nggak penting untuk kalian tapi sangat penting untuk aku pribadi. Idol, terkadang mereka bisa memberikan jutaan motivasi bukan. Begitu juga denganku. Tahun ini adalah tahun keempatku bersama Super Junior. Yah, the king of hallyu ini memang menakjubkan bukan? Dan sekali lagi untuk hal yang satu ini aku juga akan menutup mata, menulikan telinga, dan terserah kalian mau berpendapat apa. I don’t care. Intinya selama itu berpengaruh positive untukku aku akan tetap melakukannya walaupun terlihat buruk dimata orang lain. Hah memikirkan mereka membuatku ingin berjumpa secara langsung saja. Yah malaikatku ini memiliki peran yang sangat besar untukku. Jika bukan karena mereka kupikir aku belum akan bangun dan membuka mataku seperti sekarang. Oppadeul Kamsahamnida. Kamsahamnida karena telah membawaku menapaki pelangi itu. Aku akan sangat menyesal jika sampai melupakannya. Kebersamaan ini kuharap bisa selamanya walau apapun itu. Alright. Jeongmal Gumabgu saranghanda…

Dan sekian dulu. Bye…Bye…

See you on the next post

shfly

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s