Happy Education Day

2 Mei entah bagaimana aku selalu mengingatnya di atas hari-hari penting yang lain. Namun sebelum lupa aku ingin mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk para akademisi di Indonesia. Teruslah berjuang karena bangsa ini menanti kontribusi kita di masa depan nanti. Nah karena hari ini begitu special maka aku ingin berbagi banyak hal atau mungkin bukan berbagi tapi lebih ke mengungkapkan apa yang selalu aku pikirkan beberapa tahun belakangan ini.

Pertama aku ingin bercerita sedikit tentang masa-masa sekolahku. Aku ingat betul hari itu matahari bersinar dengan cerahnya, sinarnya yang bekilau sama sekali tak mengusikku untuk tetap bergelung dengan tidur nyamanku. Tapi suara lembut ibuku pagi itu justru begitu menggangguku sampai-sampai aku tak bisa memejamkan mataku lagi. Yah hari itu adalah hari pertama aku memasuki sekolah dasar. Saat itu aku begitu bahagia karena akhirnya aku bisa bersekolah juga di sekolah yang sesungguhnya. Aku bahkan tak bisa berhenti tersenyum saat menatap pantulan diriku di cermin dengan setelan seragam sekolahku . Setelahnya aku berangkat dengan antusiasnya juga sebuah senyum bahagia di wajah. Dan hal itu terus terulang hingga hari-hari terakhirku di sekolah dasar. Setelah itu aku melanjutkan pendidikanku di sebuah sekolah menengah pertama paling favorit di kotaku. Awalnya aku biasa saja karena memang tak ada yang perlu dicemaskan, tetapi semakin lama aku bersekolah semakin aku menyadari banyak hal yang terasa janggal. Tapi aku tak memiliki analisis apapun karena aku tak benar-benar mengerti, tapi di akhir studiku di SMP aku menyadari jurang itu. Jurang yang semakin nyata itu masih saja kuabaikan karena bisa saja aku yang sok tahu.

Tapi begitu aku memasuki SMA aku menyadari jurang itu entah bagaimana terasa begitu nyata terbentang di depan mataku. Mungkin tak banyak yang menyadarinya tapi aku merasakannya dengan jelas. Merasakan sesuatu yang salah dengan sistem pendidikan di negeri ini. Semakin lama aku disana semakin aku menyadari bahwa ini bukan sekedar prasangka semata tapi aku melihatnya dengan jelas di depan mataku. Melihat betapa tidak kompetennya guru-guru ketika mengajar di dalam kelas. Aku bahkan benar-benar tak mengerti apa sebenarnya fungsi seorang guru dan bagaimana dia seharusnya bertindak. Mereka seharusnya bisa memberikan contoh yang baik, mengapa? ya karena mereka seorang guru. Tapi jangankan memberikan contoh yang baik dikritik ketika mereka salah saja mereka mengacam akan memberikan remidi *ini pengalaman pribadi penulis*. Terkadang aku bertanya-tanya pantaskah itu dilakukan oleh seorang guru. Yang lebih miris lagi adalah mereka para guru yang tidak pernah mencoba untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Seorang guru seharusnya bisa memahami situasi didalam kelasnya , tentang bagaimana kondisi psikologi murid-muridnya di dalam kelas dan bagaimana dia seharusnya bertindak. Tapi sejauh pengamatanku hanya sebagian kecil guru yang bisa melakukan itu. Kebanyakan dari mereka memang tidak memiliki passion untuk mengajar, mengapa aku menyimpulkan demikian. Karena seorang guru seharusnya melihat situasi dari kacamata murid maksudnya seperti apa, ya semisal mereka sedang menyampaikan suatu materi maka mereka seharusnya menempatkan diri diposisi seorang murid. Tapi justru kebanyakan guru menetapkan standar pemahaman dari level mereka bahwa saya mengerti dengan cara ini maka murid saya pasti mengerti juga. Dalam situasi ini terkadang aku bertanya-tanya “apakah murid-murid di dalam kelas ini yang terlalu bodoh atau memang guru saja yang tak bisa menyampaikan apa yang dipahaminya” akupun tak mengerti jawabannya. Tetapi jika satu kelas tak ada yang benar-benar mengerti apakah iya muridnya yang bodoh, kupikir kalian bisa menyimpulkan sendiri dan satu pesanku ada begitu banyak orang pintar di dunia ini tapi hanya sedikit yang bisa menyampaikannya ke orang lain. Dan merekalah guru yang sesungguhnya.

Setelah membahas dari sisi guru maka aku ingin membahas dari sisi pelajarnya . Pembahasannya aku mulai dari tingkat kedisiplinan para pelajar. Kebanyakan pelajar indonesia bangga jika mereka melanggar aturan. Merasa diri mereka begitu hebat dari pada yang lain karena berani melanggar aturan. Yang lebih lucu lagi mereka akan tersenyum cerah ketika mereka memasuki kelas dengan terlambat. Bahkan aku sangat heran dimana sebenarnya mereka meninggalkan rasa malu itu. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin saja rasa malu itu sudah menguap gegara sebelum masuk kelas mereka biasanya dihukum nyabutin rumput di halaman sekolah, yah…mungkin saja kan.

Yang kedua tentang betapa tidak sehatnya persaingan di dalam kelas. Seluruh murid di dalam kelas akan menghalalkan segala cara untuk mencapai yang terbaik walaupun harus menginjak kepala orang lain, luar biasa bukan? Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka sampai sedemikian luar biasanya, jawabannya pun sangat mudah karena memang itu yang diajarkan sistem pendidikan kita berorientasi pada nilai. Memang masih ada gitu guru yang memberikan penghargaan pada mereka yang jujur tetapi nilainya jelek. Tentu saja nggak ada, karena guru akan memuji dan menyayangi muridnya yang mendapat nilai baik dan bagi mereka yang tidak biasanya akan dianggap bodoh. Iya kan??

Yang ketiga tentang kasta dalam kelas. Mereka yang pandai akan sangat dihormati dan dianggap selalu benar walaupun sebenarnya salah juga. Dan mereka yang kurang pandai dalam bidang akademik akan dijadikan bulan-bulanan di dalam kelas,bahkan ironisnya lagi mereka mendapat sebutan produk gagal. Lihatlah betapa keterlaluannya itu. Mungkin kalian tak akan percaya tapi itu memang pernah terjadi.

Keempat tentang pencitraan diri bangsa. Kalian tentu telah banyak mendengar berita yang menyebutkan bahwa pelajar-pelajar indonesia itu begitu hebat karena memenangkan lomba fisika internasional, juara 1 lomba cipta robot internasional dengan mengalahkan sekian ratus negara termasuk Amerika, juara catur internasional dan jutaan prestasi membanggakan lainnya. Tapi apa memang seperti itu? Mari kita kaji. Namun sebelum itu aku akan mengatakan bahwa aku juga bangga mendengar berita itu, hanya saja benarkah demikian. Menurut analisisku ini bukan sesuatu yang sungguh-sungguh dilakukan. Malah ini hanya terlihat seperti pencitraan diri saja. Sebuah upaya yang dilakukan pemerintah untuk menutupi betapa bobroknya pendidikan di indonesia dan jutaan kepentingan dibaliknya.

Dan yang membuatku paling sedih adalah ternyata hal-hal yang aku sebutin di atas masih juga terjadi di tingkat perguruan tinggi. Hmmm… sayang sekali padahal aku berharap jika aku memasuki perguruan tinggi aku akan melihat sesuatu yang berbeda tapi ternyata….. I Don’t Understand really!

Dan sebagai penutup aku ingin mengucapkan Selamat Hari pendidikan Nasional untuk yang kedua kalinya. Semoga di hari ini ada banyak orang yang masih bisa membuka matanya dan rasa pedulinya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan fatal yang terjadi di sistem pendidikan Indonesia. Karena seperti yang dikatakan di dalam undang-undang pasal 28c ayat 1 bahwa salah satu hak dan kewajiban warga Negara indonesia adalah mendapatkan pendidikan yang layak. Oleh karena itu mari kita sama-sama memperbaiki kesalahan-kesalahan di dalam sistem pendidikan ini. Mungkin tidak banyak yang bisa dilakukan sekarang tapi kuharap suatu saat akan ada sebuah reformasi pendidikan di Indonesia yang tentunya dilakukan oleh kita generasi-generasi muda yang masih peduli dan akan peduli. Amin.

Shfly

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s