Kejujuran Bukan Masalah Sepele

Baru-baru ini saya mengalami suatu kejadian yang sangat memprihatinkan. Siang itu saya mendapat kabar mendadak bahwa kelas pertama di semester dua perkuliahan yang mulanya akan digelar pukul satu siang, dimajukan menjadi pukul 11 siang. Padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10:39, itu tidak akan menjadi masalah bagi saya yang karena sesuatu hal memang sudah berada di kampus sejak pukul 9 pagi. Tapi tidak bagi teman-teman yang berada di posisi yang tidak memungkinkan untuk segera pergi ke kampus. Dan pada akhirnya banyak diantara kami yang tidak menghadiri kelas.

Melihat permasalahan diatas memang terdengar sepele. Tapi bagi saya itu bukan sekedar hal yang bisa dilihat dengan sebelah mata. Okey! memang dosen memiliki hak mutlak untuk menentukan apa yang ingin dia kerjakan dan tidak ingin dia kerjakan, tapi setidaknya beliau harus bersikap bijak dan mempertimbangkan dari sisi mahasiawa dan bukan dirinya saja. Memang di pertemuan pertama ini beliau menjelaskan tentang aturan perkuliahan versi beliau yang pada salah satu poinnya menyatakan bahwa “ Mahasiswa boleh tidak mengikuti seluruh perkuliahan asalkan mahasiswa itu bisa datang pada saat UKD berlangsung dan mahasiawa diperbolehkan mengikuti kelas walaupun satu menit sebelum jam berakhir ,masalah presensi itu bisa diatur nanti”.

Yah terlihat mudah memang, tapi ini bukan sekedar boleh atau tidaknya mengikuti kelas. Ini bahkan lebih dari itu mengapa? Karena selain universitas memberlakukan aturan minimal 75% kehadiran sebagai syarat perolehan IP, hal sederhana itu juga menyangkut sebuah kedisiplinan, kebiasaan dan kejujuran. Seperti kita tahu kejujuran itu memiliki nilai yang sangat tinggi. Bagaimana telinga tidak berasap saat dengan entengnya beliau mengatakan “ yah masalah presensi bisa di atur nanti lah”. Saya yakin begitu kalian membaca kalimat diatas tanpa perlu kalian kuliah pun kalian pasti tahu bahwa itu merupakan tindakan ketidakjujuran. Sepele memang kalau itu dibahas sekarang, tapi tidak di masa depan. Mengapa? Karena pada akhirnya hal yang dianggap sepele ini tanpa kita sadari ikut berperan serta mencetak dan menyuburkan kader-kader bangsa yang bobrok dan tak bermoral. Yang membuat saya semakin prihatin adalah hal itu dilakukan oleh seorang dosen yang menurut kabar yang beredar merupakan lulusan salah satu universitas di Jerman. Padahal kita tahu bahwa orang-orang di Jerman sangat menjunjung tinggi kedisiplinan dan juga kejujuran. Bukankah seharusnya sebagai seseorang yang pernah mencicipi pendidikan disana beliau bisa lebih tahu dan juga lebih mengerti tentang bagaimana seharusnya bersikap. Tapi mengapa harus seperti ini.

Melihat indonesia yang sekarang tidakkah kondisinya sudah sangat memprihatinkan, mengapa hal itu harus diperjelas lagi. Tidakkah telinga ini bosan setiap hari mendengar pemberitaan tentang kasus korupsi, suap, lobi-melobi, saling jatuh menjatuhkan dan seribu permasalahan serupa. Apakah tidak cukup juga segala prestasi bobrok yang sudah kita raih. Apakah hal itu masih kurang. Kalau saja prestasi bobrok ini disertai pemberian piala maka saya yakin piala itu telah bertumpuk di Istana Negara.

Tahukah teman- teman Negara kita ini sangat terkenal di dunia. Ingin tahu alasannya mengapa, hal itu dikarenakan sistem di negara kita yang sudah sangat bobrok. Sekarang saya ingin bertanya “Apakah temen-teman pernah mendengar nama Cartagena?”. Jika kalian melihat berita tentang Nazaruddin kalian pasti tahu tentang tempat yang satu ini. Ya, kota pelabuhan cantik ini terletak di utara Negara Kolombia persis di tepi Laut Karibia, di Benua Amerika selatan. Kalau sebagian besar orang didunia mengenal Cartagena sebagai kota pelabuhan yang memiliki pantai yang cantik, justru kita mengenal kota ini karena disanalah sang koruptor Nazaruddin ditangkap. Bukankah itu sangat lucu sekaligus langka. Tapi sekali lagi apakah itu pantas dibanggakan. Jawabannya tentulah tidak.

Oleh karena itu, setidaknya ayolah para generasi muda kita bantu para wartawan kita untuk membuat berita yang lebih inovatif, bermanfaat dan tidak monoton lagi membosankan. Dan ingat selalu satu hal teman-teman “ Sesuatu yang besar berasal dari sesuatu yang kecil dan sesuatu yang indah datang dari sesuatu yang terkendali”. Ketika kita terbiasa membenarkan sesuatu yang salah maka lambat laun hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan, dan ketika hal itu telah menjadi sebuah kebiasaan maka akan semakin sulit untuk dikendalikan. Jadi teman-teman ayo kita bersama-sama memperbaiki kebobrokan bangsa ini, jangan sampai pendidikan kita ini berorientasi pada hal-hal yang pada akhirnya akan menghancurkan bangsa kita sendiri.

#SALAM PERUBAHAN

(Shfly)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s