Ketika Nilai Salah menilai

Penddidikan di indonesia memang sangat luar biasa. Apa yang ingin dilakukan pemerintah adalah membuat indonesia ke arah yang lebih baik melalui pendidikannya. Tapi apa yang mereka lakukan hanyalah sekedar konsep tanpa ada pemerataan terlebih dahulu. Mereka ingin pendidikan kita maju tetapi tidak dibarengi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Sekolah yang berada di pedalaman dengan atap langit otentik disamakan dengan sekolah yang berada di ibukota yang memiliki desain interior yang luar biasa mewah. Artinya apa?sarana dan prasarana harusnya di ratakan terlebih dahulu baru pembaharuan dari sisi kurikulumnya dan bukan sebaliknya. Tapi yang terjadi di negara kita justru sebaliknya , pembaharuan dari sisi kurikulum lebih diutamakan dibanding perbaikan sarana dan prasarana.

Kedua,pola pikir masyarakat indonesia tentang tujuan pendidikan yang tak lebih dari sekedar mendapatkan nilai. Nilai,yah segala hal di indonesia memang didasarkan atas nilai padahal tidak semua bisa diukur melalui nilai. Ketika ada seorang siswa yang mendapat nilai buruk apa yang akan terpikirkan di benak kalian untuk pertama kali? Ya jawabnnya tak lain dan tak bukan adalah bahwa anak itu ‘bodoh’ . Kita lihat contohnya ibu menteri perikanan kita, beliau bahkan hanya lulusan smp tapi apa, beliau sangat sukses dan berperan sangat baik untuk keamanan laut indonesia. Jadi apa kesimpulannya ‘hanya orang bodoh yang mengukur segalanya dari selembar nilai di atas kertas’. Karena apa, nilai merupakan suatu hal yang klise, penuh fatamorgana dan tidak bisa dipercaya apalagi dijadikan tolok ukur atau parameter.

Tetapi justru pendidikan di negeri kita ini menjadikan nilai sebagai parameter kualitas seseorang dan bukan kemampuan yang dimiliki. Nilai seakan menjadi tuhan ,tujuan sekolah bukan lagi mendidik tapi mendapatkan nilai sebaik mungkin dengan cara sepicik mungkin. Hal itu tidak bisa dipungkiri lagi karena memang masyarakat kita di doktrin untuk “berdiri setinggi mungkin, walaupun harus berdiri di atas kepala orang lain”. Dengan doktrin diatas maka pendidikan kita bukan lagi mendidik kearah yang baik tetapi justru kearah yang tidak bermoral. Jadi apa yang kita lihat sekarang di pemerintahan tidak lain dan tidak bukan adalah hasil dari pendidikan kita sendiri.

Jika dianalisis kembali pendidikan di negara kita itu seperti 2 mata tombak, disatu sisi seakan-akan itu adalah pilihan terbaik tetapi di lapangan hal tersebut tak lebih dari sekedar monopoli kekuasaan . Jadi revolusi yang sesungguhnya bukan terletak pada kurikulum kita tetapi sistem pendidikan kitalah yang harus dirombak, itupun jika kita masih ingin pendidikan kita bisa bersaing di tingkat internasional dan juga menghasilkan manusia-manusia yang tidak hanya pintar tapi juga bermoral.

-shfly-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s