‘Doktrin’

Doktrin. Entah sejak kapan doktrin telah merajai segala aspek pikiran manusia di indonesia. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa doktrin telah menjadi parameter utama dalam segala aspek kehidupan manusia di indonesia ,bahkan hal sepele sekalipun. Sebut saja nilai, entah kenapa semua orang harus mendapat nilai terbaik, entah kenapa semua orang harus rangking satu, entah kenapa semua orang harus melewati perguruan tinggi dan entah kenapa semua orang harus mendapat IPK 4. Jujur aku gg ngerti dengan jalan pikiran manusia di indonesia. Kenapa orang harus rangking satu, apa itu jaminan bakal masuk surga? Apa kalau gg rangking satu kita bagian dari orang yang bodoh dan gg akan berarti apa-apa untuk negara. Heran, bener-bener heran dan untuk lebih jelasnya aku bakal bercerita sedikit tentang pengalamanku saat di High school dulu.

Saat masih di SMA dulu aku selalu menghindari pertemanan dengan anak-anak yang memperoleh rangking teratas kenapa? Karena, okey ini hanya berdasarkan pengamatanku saja dan hal tersebut bisa saja berbeda .Biasanya anak dengan otak cemerlang seperti mereka memiliki sikap yang menyebalkan, menang sendiri, pelit,menganggap remeh orang lain dan point yang paling utama adalah membosankan. Dan yang paling menyebalkan lagi mereka biasanya akan menatap sebelah mata siapapun yang tak memperoleh rangking bahkan mereka bisa memperlakukan lebih buruk dari pada itu. Sebut saja, saat disuruh menunjuk siapa yang harus mengerjakan suatu soal di depan kelas biasanya mereka akan menunjuk mereka yang terlihat lemah dalam bidang akademi. Tidak hanya itu saja mereka bahkan (khusus di sekolahku) pernah membuat sebuah system pengelompokan manusia berdasarkan kepandaian .

System pengelompokannya adalah mereka yang pandai-pandai akan duduk dalam satu baris. Baris berisi orang pandai ini mereka namai ‘Produk Sukses’. Kemudian siswa/siswi dengan otak sedang akan menempati suatu baris yang disebut ‘produk’ yang masih dalam kategori sukses. Lalu bagaimana dengan siswa/siswi selain kedua kelompok tersebut, biasanya mereka tak punya pilihan kecuali duduk berkelompok dengan sisa orang yang ada dan mereka disebut sebagai ‘Produk gagal’. Okey… luar biasa bukan. Mungkin banyak dari kalian tidak percaya tapi yang memang seperti itulah kenyataannya.

Selain di SMA aku juga punya pengalaman menarik tentang hal yang kurang lebih sama saat masih duduk di bangku SMP dan inilah ceritanya. Dulu aku punya seorang teman sebut saja ‘A’ dan dia termasuk biasa aja di kelas. Suatu ketika kami mendapat sebuah tugas matematika yang harus dikumpulkan hari itu juga. Nah si ‘A’ ini nggak bisa mengerjakan soal tersebut. Akhirnya dia mencari jawaban keliling kelas. Kebetulan teman sebangkuku adalah anak yang sangat pandai dalam bidang tersebut tapi walaupun begitu dia hanya mendapat rangking 5. Tak sengaja ketika berkeliling si ‘A’ ini melihat bahwa teman sebangkukuku sebut saja ‘B’ telah selesai dan bahkan anak-anak lain mulai menyalin pekerjaannya. Tak berapa lama si ‘A’ mendekat dan bertanya…

“ Hey kamu udah selesai, Tanya si ‘A’ “

“ iya, jawab si ‘B’ “

“ Boleh aku lihat gg? “

“ Oh boleh , jawab si ‘B’ sambil menyodorkan kertas jawabnnya”

“ jadi gini ya cara jawabnya, kata si ‘A’ “

“ hmm.. menurutku sih gitu, kalau jawaban kamu gimana? Tanya ‘B’ penasaran”

“ aku belum ngerjain gg ngerti caranya, Oh aku boleh nyalin gg?”

“ terserah tapi kalau salah gg tahu ya”

“ eh tapi kamu rangking berapa dulu?”

“ 5, jawab si ‘A’ “

“ 5, ah gg jadi deh mending nyalin yang anak rangking satu, kata ‘A’ sambil berlalu pergi”

Gimana? Terdengar seperti cerita fiksi bukan. Tapi percaya atau enggak itu bener-bener pernah terjadi di lingkungn sekolahku. Kalau aku bertanya apa pendapat kalian setelah baca cerita diatas? Sadis gg sih, tidakkah hal tersebut benar benar keterlaluan. Kalau boleh jujur itu jauh lebih dari sekedar keterlaluan. Tapi mau gimana lagi orang pendidikan kita mengajarkan hal itu koq. Kalau fisika punya ketetapan bahwa “massa berbanding lurus dengan kecepatan” maka aku punya ketetapan sendiri bahwa “ derajat seseorang berbanding lurus dengan rangking yang diperoleh”. Miris memang tapi mau gimana lagi hal tersebut udah terpatri dengan kuat di otak kita karena pada dasarnya segala jenjang pendidikan di indonesia memang secara tidak langsung mengajarkan hal tersebut. Kalau saja tuhan memberi sebuah pertanyaan “apakah aku bangga dengan negeriku?” aku akan menjawab “ aku sangat bangga lahir dan menjadi bagian dari negeri berlian ini tapi sekaligus kecewa” . Tapi tak ada gunanya untuk kita menghujat negeri sendiri karena apa sejelek-jeleknya sistem di indonesia pada akhirnya kita harus mengakui negeri bobrok ini memiliki segala hal yang bahkan membuat negara lain meneteskan air liur iri. Jadi apa, marilah teman-teman kita ubah paradigma di negeri kita ini, jangan sampai kita lebih menyesal lagi nantinya. Untuk itu mari kita mulai berbenah dimulai dari diri kita sendiri..

SELAMAT BERJUANG GENERASI MUDA INDONESIA!

Quotes: “Aku Sangat Sedih Jika Melihat Manusia Dikotak-Kotakkan Berdasarkan hal-Hal Yang Hanya Terlihat Secara Kasatmata”

-Merry Riana-

-shfly-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s