GARUDA ASIA JUARA!

725446_720

Terakhir kalinya saya nonton Timnas Indonesia itu sekitar tahun 2010 di AFF SUZUKI CUP 2010 bertahun-tahun lalu. Tahu kan era-nya Firman Utina sama Marcus Horizon. Waktu itu mereka kalah agregat gol dari Malaysia di partai final, walau pun sempat tak terkalahkan di pertandingan-pertandingan sebelumnya sejak dari penyisihan grup hingga semifinal.

Nah, sejak kekalahan itu sebenarnya saya masih nonton bola dalam negeri, tapi begitu kasus dualisme kepengurusan PSSI itu makin nggak jelas, itulah awal mula saya males nonton Timnas. Makannya waktu Timnas U-19 menang di tahun 2013 saya udah nggak tahu apa-apa. Baru tahun ini saja saya mulai nonton Timnas lagi, dan itu pun karena kebetulan.

Laga pertama Timnas Indonesia yang saya tonton itu pertandingan ketiga Timnas U-19 di AFF Cup 2018. Saya lupa lawannya siapa. Saya jarang nonton TV dan baca berita dalam negeri soalnya jadi nggak tahu ada perhelatan AFF Cup 2018. Masalahnya berita di situs Indonesia itu suka nggak jelas, misal judulnya “7 Fakta Timnas Indonesia, nomor 4 bikin merinding”. Apa coba? Kan jadi males baca.

Balik ke Timnas ya, kesan saya lihat permainan mereka itu seperti saya udah nggak nonton Timnas selama 100 tahun. Beda sekali dengan era-2010. Mereka mengalami kemajuan yang sangat banyak sekali. Dimulai dari presentase ball position yang tinggi, kemudian akurasi tendangan hingga permainan bola dari kaki ke kaki yang sulit dipatahkan lawan. Kalau nggak percaya coba aja membandinkan permainan Timnas U-19 sama permainan Timnas era-nya Bambang Pamungkas yang tahun 2002, pasti terasa sekali perbedaannya.

Setelah Timnas U-19 kalah dari Malaysia di semifinal AFF Cup 2018 ternyata tidak lama setelahnya gantian Timnas U-16 yang akan berlaga di AFF Cup U-16 2018. Pikir saya pas banget soalnya yang di pertandingan terakhir Timnas U-19 saya salah jadwal, jadi nggak sempat nonton. But…It’s okay! Ada gantinya, Timnas U-16.

Untuk Timnas U-16 sebenarnya saya sama butanya dengan Timnas U-19. Siapa ini, main di posisi apa udah nggak paham. Baru di laga perdana Timnas U-16 melawan Filipina, itu pertama kalinya saya lihat punggwa U-16 dan menghafal nama mereka sama posisinya sampai akhirnya mereka juara di AFF Cup 2018. Mereka memang  layak juara. Setiap pemain memiliki skill yang luar biasa sampai saya nggak bisa memilih pemain favorit karena setiap dari mereka sangat berkontribusi. So, saya pengen sekali menulis lebih detail para punggawa Timnas U-16 ini. Here we go…

  1. Fahhri Hussaini

Kita mulai dari Coach-nya dulu ya. Tim nggak akan solid kalau nggak ada yang mengarahkan. Coach Fakhri ini sepertinya jenis orang yang tenang, leadership-nya kuat, dan down to earth. Kita bisa lihat dari ekspresinya yang tetap tenang meskipun Indonesia berhasil menang besar dari Filipina. Beliau kelihatan tidak berlebih-lebihan.

  1. David Maulana 6 (C)

Kapten kesebelasan Timnas U-16. Ini dia pemain yang berhasil mencuri perhatian saya. Tendangan kaki kiri David dan akurasinya sangat luar biasa. Dia salah satu yang berkontribusi dalam pengaturan tempo permainan di lapangan tengah. Selain itu seperti yang Coach Fakhri bilang permainannya sangat dewasa meski pun usianya masih belia. Kalian yang nonton Timans U-16 kemarin pasti merasakan juga. Aura leadership-nya David ini terlihat jelas sekali. Satu hal lagi yang menarik dari David itu tentang bagaimana dia menampilkan citra dirinya yang sopan, sederhana, dan cara berbicaranya yang jelas juga runut. Saya memang nggak bisa memlih pemain favorit sih, tapi saya nggak bisa nglewatin David, anak millenial yang nggak keranjingan sosmed―seperti saya― sebagai pemain favorit saya di Timnas U-16. David ikut menyumbang satu gol dan ikut menjadi salah satu eksekutor pinalti di final kemarin. Sebelumnya di turnamen Jenesys David terpilih sebagai pemain terbaik.

david-maulana-timnas-indonesia-u-16_2t1eotb0vgdh1qaun84dnrggw

  1. Ernando Ari Sutaryadi 21 (GK)

Penjaga gawang utama Timnas U-16 yang menjadi pahlawan kemenangan Indonesia di final kemarin karena berhasil menepis 2 tendangan pemain Thailand di momen adu pinalti. Nando ini kayaknya calon penjaga gawang terbaik Indonesia deh. Skill-nya sangat mumpuni sekali. Kalau dia yang jadi penjaga gawang rasanya nggak spot jantung banget gitu. Dia juga sangat tenang dan percaya diri. Satu lagi yang menarik dari Nando selain kalau ngomong Indonesia medok Jawa khas Jawa Tengah, nggak penting sih, tapi followers IG-nya dia naik dari 24.5k sebelum final menjadi 322k (masih bakal berubah angkanya) setelah final AFF. Sampai-sampai waktu saya buka akunnya tadi pagi bingung saya, ini bener akunnya Nando apa bukan?

123

  1. Ahludz Dzikri Fikri 1 (GK)

Ahludz, sama seperti Nando, dia berposisi sebagai penjaga gawang kedua Timnas U-16. Dia hanya main sekali di AFF ini. Kalau skill memang di bawahnya Nando ya. Waktu dia di mainkan di laga terakhir penyisihan grup lawan Kamboja, rasanya jantung saya mau copot karena dia suka teledor gitu. Kadang suka takut kalau bola jadi nggak sengaja masuk atau gimana.

  1. Muhammd Rizky Sudirman 23 (GK)

Kalau yang ini penjaga gawang ketiga Timnas U-16. Sama seperti Ahludz, dia juga dimainkan sekali di laga lawan kamboja. Kalau Ahludz di babak satu, dia dimainkan di babak kedua. Menurut saya skill-nya nggak jauh beda dari Ahludz cuma dia nggak bikin spot jantung aja.

  1. Mochamad Yudha Febrian 3

Kalau ini berposisi sebagai pemain bertahan. Dia luar biasa, spartan, nggak pernah capek dan disiplin.

  1. Fadilah Nur Rahman 5

Sama seperti Yudha dia juga berposisi sebagai pemain bertahan yang sama luar biasanya.

  1. Amiruddin Bagas Kaffa Arizqi 2

Ini sama, pemain bertahan Timnas yang sering juga ikut menyerang dan sempat membuat beberapa gol keluarga bersama saudara kembarnya Bagus. Di final kemarin Bagas ini sempat berbenturan dengan Komang kalau nggak salah sampai pelipisnya robek. Saya kira dia pingsan atau gimana soalnya waktu di tandu ke tepi lapangan dia nggak bergerak sama sekali, untungya nggak terlalu parah. Di menit entah keberapa dia sempat diingatkan juga oleh wasit karena pelipisnya yang robek dan di plester berdarah lagi. Sempat juga di cek sama Coach Fakhri dan akhirnya di perban baru lanjut main. You did well Bagas.

  1. Muhammad Reza Fauzan 14

Sama-sama pemain belakang tapi jarang dimainkan.

  1. Muhammad Salman

Salman bermain sebagai pemain bertahan. Untuk performa saya gagal paham. Dia nggak terlalu sering main juga.

  1. Kartika Vedhayanto 26

Pemain bertahan lainnya. Vedha sempat dimainkan 2 kali kalau nggak salah di laga Timor Leste sebagai pengganti dan Laga lawan Kamboja full time.

  1. Dandi Maulana 12

Dandi juga pemain bertahan dan hanya dimainkan sekali di laga lawan kamboja di babak kedua.

  1. Komang Teguh Trisnanda 16

Pemain tengah yang sempat berbenturan dengan Bagus kalau saya nggak salah ingat. Dia masuk di skuad tim utama. Komang ini sangat luar biasa sekali. Salah satu pengatur tempo di lapangan tengah.

  1. Muhamad Talaohu 19

Pemain tengah lainnya dari Timnas U-16. Dia sempat dimainkan beberapa kali cuma saya nggak terlalu memerhatikan dia soalnya masih suka bingung mana dia mana Hamza Lestaluhu.

  1. Hamza Lestaluhu

Sama-sama pemain tengah dari Timnas, tapi seperti yang sudah saya bilang, saya nggak bisa bedain dia dengan Talaohu.

  1. Andre Oktaviansyah 8

Sama-sama pemain tengah seperti Hamza. Penampilannya sangat luar biasa dan sempat mencetak gol keempat Indonesia waktu lawan Vietnam sampai-sampai Coach Fakhri yang biasanya cool langsung loncat-loncat.

  1. Brylian Negiehta Dwiki Aldama 18

Kalau ini pemain tengah Timnas U-16 yang jago ngrebut bola. Entah gimana dia itu ada aja caranya ngrebut bola dari lawan. Udah mirip copet gitu. Selain itu Brylian ini asli Surabaya. Kemarin waktu Indonesia juara dia nggak bisa berhenti nangis. Kalau menurut wawancara itu dikarenakan dia inget ibunya yang sudah meninggal Januari tahun ini. Dia bilang dulu waktu ibunya masih hidup kalau dia lagi latihan di Gelora Delta Sidoarjo ibunya suka nemenin di pinggrir lapangan. Dan sekarang begitu dia berhasil membawa Indonesia juara ibunya malah nggak bisa menyaksikan. Be strong Brylian. You did well. Your mother must be proud of you there.

  1. Rendy Juliansyah 10

Pemain tengah favorit netizen kayaknya. Paling bening gitu katanya (bukan saya loh yang bilang tapi netizen). Memang sih walau pun panas-panasan Rendy tetep aja putih dan mukannya bersih. Dia jago perawatan kayaknya. Rendy punya skill yang sangat bagus juga. Dia menjadi penentu kemenangan Timnas U-16 Indonesia di partai final Jenesys. Rendy juga menjadi salah satu penendang di momen adu pinalti di final kemarin. Wajahnya datar apa pun situasinya. Kalau kata bung komentator ekspresinya dingin. Saya baru lihat muka dia nggak dingin itu waktu dia nangis saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, sisanya ya datar aja ekspresinya. Selain itu, dia menjadi salah satu pemain yang mengalami lonjakan followers dari 200-an ribu menjadi 526k. Rendy ini kalau saya nggak salah lihat followers-nya paling banyak di Timnas U-16. Di AFF Rendy ikut menyumbang gol cuma saya lupa angkanya.

122

  1. Mochamad Supriadi 11

Penyerang Timnas U-16 yang larinya seperti copet. Cepet banget sampai kadang-kadang bolanya suka ketinggalan saking cepetnya dia lari. Menurut saya Supri ini pemain Timnas U-16 yang paling sering di tekling. Dikit-dikit udah di tekling aja sampai dia mengalami cedera yang lumayan. Supri juga nggak ada capeknya, lari terus, disiplin juga, dan berhasil mencetak dua gol. Sebenarnya ada tiga gol tapi yang satu ternyata udah offside. You did well Supri. Pemain favorit saya lainnya ini. #uhuk

  1. Muhammad Fajar Fathur Rahman 22

Penyerang Timnas U-16 lainnya. Fajar ini satu-satunya pencetak gol di waktu normal di laga final kemarin. Dia juga luar biasa.

  1. Yadi Mulyadi 13

Penyerang timnas yang kalau ngomong logatnya Jawa banget. Kadang dia suka ngomong f jadi p. Kalau nggak percaya lihat video Challenge Timnas U-16. Dia nggak selalu main sih tapi juga luar biasa.

  1. Amanar Abdilah 7

Saya baru tahu Amanar ini penyerang. Ku kira dia pemain tengah. Jujur kurang tahu permainannya dia gimana soalnya kalau nonton Timnas fokusnya ke David *halah.

  1. Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri 20

Penyerang kembarannya Bagas Kaffa. Bagus ini berhasil menjadi top skorer AFF U-16 2018 dengan torehan 12 gol dari 6 laga (semoga nggak keliru). Bagus punya skill individu dan finishing yang bagus. Gol favorit saya yang di cetak bagus itu di laga lawan Myanmar yang gol kedua Indonesia. Waktu itu Indonesia hampir kebobolan tapi ternyata bola yang di tendang pemain Myanmar membentur tiang gawang dan di sepak sama―saya lupa siapa dan kemudian di ambil bagus dan menjadi gol kedua. Proses berlangsungnya gol itu dari mulai di sepak, di ambil bagus sampai gol itu cuma butuh waktu 8 detik. Saat itu dia satu-satunya pemain Indonesia yang ada di area lawan. Yang lain sibuk bertahan di area sendiri. Jadi dia mencetak gol satu lawan 2 pemain bertahan Myanmar dan satu penjaga gawang. Big applause for Bagus.

  1. Sutan Diego Armando Ondriano Zico 9

Terakhir, penyerang Timnas yang satu ini pernah menjadi top skorer di kualifikasi Piala Asia dengan torehan 10 gol dari 4 laga. Zico ini sama seperti Bagus. Skill individu-nya luar biasa dan finishing-nya juga bagus. Zico ikut menyumbang dua gol untuk Timnas U-16 di AFF 2018. Zico masih belum pulih benar dari cidera dan belum berada di performa terbaiknya. Zico juga menjadi eksekutor di momen adu pinalti di final kemarin bersama Bagus, David, dan Rendy. Get well soon Zico.

So, apapun atau bagaimana pun skill yang dimiliki setiap pemain dan apakah selalu dimainkan atau tidak mereka semua telah berkontribusi untuk membawa Indonesia juara di AFF Cup 2018. Momen mereka memegang trofi itu udah pengen banget saya lihat sejak 2010. Sempat takut mereka akan―tahu kan mengulangi pola yang sama. Bermain bagus di pertandingan-pertandingan awal dan menurun di semifinal dan final. Tetapi ternyata tidak dan mereka berhasil mempersembahkan kado terbaik untuk Dirgahayu Indonesia ke-73. Satu hal lagi yang mencuri perhatian saya adalah kesolidan mereka sebagai tim. Itu saya pengen tahu rahasianya.

Saya itu suka pesimis dengan Indonesia tapi kalau ada orang lain yang pesimis saya jadi kesel banget. Di semifinal lawan Malaysia itu kan kebetulan di rumah lagi kebagian giliran gelar acara Yasinan. Itu gara-gara Timnas, orang-orang tiba-tiba jadi pada tepat waktu semua, biar cepetan selesai dan bisa nonton Timnas kayaknya. Saya sampai curiga mereka baca Yasin sambil mikir Timnas soalnya sebelum mulai pada heboh Timnas mau main. Saking euforia-nya selesai Yasin tiba-tiba udah ada motor nyala dan kabur pulang. Bagi yang agak sabar sambil ngopi mereka pada taruhan. Rata-rata yakin Timnas itu nggak bakal pernah menang dari Malaysia. Di rumah pun saya aja yang percaya Timnas bakal menang dari Malaysia dan memang menang kan. Insting saya itu akurasinya suka lebih tinggi dari otak saya sih.

Terakhir, saya pengen memilih laga paling seru di AFF Cup U-16 2018. Favorit saya di laga kedua melawan Myanmar. Itu pertama kalinya saya nonton bola tapi jadi stress gara-gara pakai additional time segala. Tahu kan bagaimana Indonesia hampir kebobolan berkali-kali sampai Ernando berkali-kali juga jatuh bangun demi menyelamatkan gawang Indonesia. Itu rasanya jantung saya mau copot. Walau pun sempat spot jantung di laga melawan Myanmar Di AFF Cup 2018 ini Indonesia menjadi tim dengan torehan gol terbanyak yakni 23 gol, paling sedikit kebobolan yaitu 4 gol, dan memenagi semua pertandingan. Itupun yang dua gol karena terpancing emosi atau bahkan tidak perlu pinalti tetapi di putuskan pinalti. Kalian yang nonton Timnas, laga favoritnya yang mana atau mungkin pemain favorit-nya siapa? Share here.

Sekali lagi selamat untuk Timnas U-16. You are all great. GARUDA ASIA JUARA!

 

*Corret if i’m wrong

 

Edda

Iklan

Instagramable tourism

“Instagramable Tourism” itu istilah yang saya sematkan karena terlalu pengen ke pantai, nggak kesampaian, dan delusional. Nggak bohong sih kalimatnya, tapi bukan itu deskripsinya loh ya. Instagramable tourism itu istilah yang saya berikan untuk tempat-tempat yang acap kali terlihat terlalu cantik di instagram tapi tak bagus-bagus amat kalau didatangi betulan. Saya nggak tahu apa udah ada yang pernah pakai istilah itu atau belum tapi yang ini murni dari kepala saya.

Hal itu bermula, seperti yang udah saya bilang tadi saya itu pengen banget ke pantai― Ini mungkin pertama kalinya saya pengen banget ke pantai karena pada dasarnya saya nggak suka pantai―nggak sengaja terpeleset terus terjun ke laut deh. Oh, nggak…nggak…nggak…jangan sampai. Saya belum makan permen kapas untuk kedua kalinya.

Berisik. Itu saja yang bisa saya deskripsikan alasannya.  Sedikit aja saya dengar suara berisik rasanya pengen saya gebukin itu pelakunya. Walaupun saya nggak masalah jika memang keramaiannya klik sama saya, misalnya festival atau SS7 Indonesia *uhuk.

Balik lagi, jadi pagi itu bunda tiba-tiba ngajakin jalan sekalian nganter adek buat meninjau sekolah baru. Adek saya bilang ada tempat wisata namanya “Sentono Genthong”. Apa coba? Genthong aja dirumah banyak ngapain jauh-jauh jalan cuma buat datangin si genthong. Dia bilang lagi hits-hitsnya gitu. Saya mana tahu yang begituan. Berhubung yang namanya Pacitan 80% wisatanya pantai, saya iyain aja itu. Pikir saya akhirnya bisa ke pantai juga.

Di perjalanan saya mulai merasa ada keanehan. Jadi, laut kan dibawah biasanya. Lah ini mobil malah nanjak ke bukit terus. Masa iya mentang-mentang abad ke-21 laut jadi ikutan di atas gitu. Bener-bener nanjak bukit macam naik trem ke Mt.Rigi. Nggak lama, sekitar 10 menitan dari jalan raya sampailah kami di tempat yang namanya Sentono Genthong tadi, dan TADAAAA…..memang ada lautnya sih…. tapi jauh di bawah sana. Lebih tepatnya lihatin laut dari bukit. Huh!!! Shock berat saya. Jadi gagal ke pantai lagi nih. Udah deh nyerah saya, lagian udah Gone With The Wind juga kok mood saya ke pantai.

Jadi, apa itu Sentono Genthong?

Sentono Genthong adalah sebuah tempat wisata di perbukitan berbentuk ¼ lingkaran yang menghadap ke pantai Pacitan di kejauhan. Bagian tengahnya berlubang yang di bawahnya berisi rumah-rumah penduduk dan persawahan atau hutan. Sederhananya bukit batu nggak terlau luas yang menjorok keluar sehingga dikarenakan ketinggiannya kita seperti akan menyentuh awan semacam di Rigi Mountain, Swiss gitu. Dan itu satu-satunya poin yang saya suka dari Sentono Genthong karena dia memberi kesan bahwa langit tidak setinggi itu dan masih mungkin tergapai. Sejak pemilu kemarin saya merasa kalau langit itu begitu tingginya sampai saya jadi goyah dengan keyakinan saya sendiri. Sudahlah bukan itu yang ingin saya katakan.

Menurut pengamatan saya Sentono Genthong ini adalah bagian dari hal yang saya sebut sebelumnya sebagai “Instagramable Tourism”. Beberapa waktu sebelumnya saya sempat membaca sebuah artikel dari sebuah situs luar negeri yang saya lupa namanya. Intinya artikel itu memuat opini tentang bagaimana mengembangkan tempat wisata yang didasarkan atas riset terhadap instagram. Kira-kira seperti itu. Maka akhirnya saya berpikir bahwa untuk mengembangkan sebuah tempat wisata yang menguntungkan hari ini maka perlu memerhatikan satu poin penting yakni mereka-mereka pengguna instagram. Kita tahu donk ya kalau sekarang ini mengupload foto di akun instagram itu udah seperti sebuah keharusan because somehow it’s looks cool. Well, I don’t think same because I never post any so. It’s about people point of view anyway.

IMG20180710143634IMG20180710145256IMG20180710150414

Dan alasan saya memasukkan Sentono Genthong sebagai bagian dari “Instagramable Tourism” adalah karena tempat wisata ini terlihat sangat futuristik sekali ketika difoto, padahal sebetulnya tidak bagus-bagus amat. Bisa saya bilang pembangunan fasilitas di Sentono Genthong masih dibawah 50%. Masih sangat baru sekali. Jalanannya pun masih bebatuan yang dibeberapa bagian sudah di―saya nggak tahu istilahnya dalam bahasa indonesia tapi kalau di Jawa dibilangnya pradenan. Pradenan itu jalan yang di cor semen tapi hanya di kedua sisnya aja, sedang bagian tengahnya masih batuan. Jadi belum di aspal atau blok. Tapi meski masih sangat baru menurut penuturan petugas Sentono Genthong yang ngobrol sama ayah saya, income dari tiket masuknya (Rp 10000 per-orang) itu sudah mencapai puluhan juta rupiah per harinya. Kalau saya nggak salah ingat angkanya sekitar 40 juta rupiah. Untuk sebuah wisata yang masih embrio saya pikir luar biasa sekali.

IMG20180710144843IMG20180710144416IMG20180710145857IMG20180710145016

Terakhir, saya memilih untuk merekomendasikan tempat wisata ini karena saya pikir tempat ini cukup bisa memenuhi hasrat kalian untuk kelihatan keren di instagram. So, have any opinion?

p.s Sorry for ugly photo. Teman-teman jangan lupa membaca buku ya. Saya udah merasakan efek buruknya karena kurang baca, dan penutupnya writer block x mood swing selama 2 bulan.

Edda

This Earth of Mankind: A Way to See Cool Indonesia

Saya pernah mendengar kalimat seperti ini “Seorang penulis pemula akan berbicara tentang dirinya sendiri sedangkan seorang penulis hebat akan berbicara tentang orang lain”.

Memang. Lagian apa sih yang lebih menarik bagi seorang penulis pemula selain dirinya sendiri? Hanya itu topik yang kita tahu betul kebenarannya. Karena itu Pram bagi saya adalah bagian dari si penulis hebat yang telah dengan sukses meneriakkan harapan banyak orang.

Bumi Manusia (This Earth of Mankind) merupakan buku pertama dari seri Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Di dalamnya ada tiga buku lainnya yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Dari keempatnya kayaknya saya bakal suka yang buku keempat, soalnya di buku keempat ini tokoh aku-nya akan berubah dari Minke ke Pangemanann dengan dua n. Bukan karena saya nggak suka dengan Minke, justru karena saya yakin emosi saya bakal habis di buku keempat. Selain itu, buku keempat ini juga lebih sedikit konten romansanya dan lebih banyak berbicara tentang politik dan pemerintahan. Topik favorit saya.

So, lupakan dulu seri lainnya, saya belum selesai dengan itu jadi ke Bumi Manusia dulu. Sederhanya Bumi Manusia ini adalah perkenalan awal kita dengan tokoh-tokoh di dalam Tetralogi Buru diantaranya Minke si tokoh utama, Nyai Ontosoroh, Annelis Mellema, Robert Surrhof, May, Jean Marrais dan banyak lainnya. Dan dari sekian banyak itu favorit saya hanya ada satu yaitu Minke. Saya orang yang sangat pilih kasih. So,…

Minke itu tokoh kesayangan saya karena Minke adalah gambaran diri saya sendiri. Seorang yang kadang cukup bijak, kadang juga ingin memaki, ingin tahunya besar, sesekali juga naif, selfish, dangkal, pemarah, dan banyak hal menggelikan lainnya. Pertumbuhan itu memang diisi dengan hal-hal menggelikan dan memalukan kan ya. Saya pikir kita pun seperti itu, bukan begitu?


“Harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar tidaknya.” (p.105)

 

“Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri begini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenek-moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampai hati mewariskan adat semacam ini?” (p.181)

 

“Beruntung aku suka mencatat, mempunyai perbendaharaan yang setiap waktu bisa memberi petunjuk dan peringatan.” (p.220-221)

 

“Guru yang membosankan cukup menganiaya, kataku.” (p.332)

 

“Selama ada kemungkinan aku akan terus belajar sebagaimana kukehendaki sejak semula. Kalau pintu di buka kembali untukku, tentu akan kumasuki! Kalau ditutup bagiku, aku pun tiada keberatan tidak memasuki.” (p.435)

 

“Ternyata semakin banyak bergaul semakin banyak pula persoalan.” (p.439)


Saya merasa saya cukup memahami Minke. Bagaimana rumitnya ketika hati kita berkonfrontasi dengan setiap hal. Ketika sudut pandang kita terus berbenturan dengan kebiasaan yang ada. Bagaimana tidak nyamannya dunia semacam itu. Perasaan-perasaan terpendam yang kapan waktu bisa membuat kita gila. Sangat menjengkelkan sekali. Ajaibnya baik saya maupun Minke memilih solusi yang sama, hanya saya pikir Minke melakukannya lebih baik dari saya. Disitu saya sangat iri karena dia jauh lebih hebat. Saya berharap bisa melakukannya sebaik dia.

Selain Minke, hal-hal yang bagi saya menarik dari buku ini adalah luapan perasaan yang ditimbulkan. Ketika saya membaca ini saya merasa seperti saya adalah bagian dari zaman itu, tetapi ternyata tidak, saya ada di zaman ini hanya saja culture yang tersaji dihadapan saya persis seperti saat itu bahkan setelah sekian puluh tahun berlalu. Kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya, cara berpikir, kehidupan sosial dan lainnya. Nyaris tak ada yang berubah kecuali permodelannya yang mengikuti perkembangan zaman, tetapi untuk hal mendasarnya sama saja. Jadi memang apa yang kita lihat hari ini ada asal-usulnya ya. Pantas susah buat diubah, lha ya udah mengakar kuat sejak zaman kapan itu.

Satu lagi yang saya suka dari buku ini adalah rasa-rasa Eropa yang secuil itu. Unik aja gitu ada buku karya orang Indonesia tetapi di dalamnya ngomongin perpustakaan. Sejauh yang saya tahu dan dari sekian banyak buku karya orang Indonesia yang pernah saya baca, sangat sedikit sekali yang berbicara tentang buku maupun perpustakaan. Coba deh kalian baca buku klasik Inggris, mereka itu pengetahuannya luas sekali. Dalam percakapan mereka menyelipkan buku-buku dan perpustakaan. Tapi memang kita nggak punya budaya semacam itu juga sih. Mungkin poin ini juga salah satu alasan tulisannya Pram terasa seperti tulisannya Dicknes.

Kebetulan sekali sebelum membaca Tetralogi Buru saya membaca A Tale of Two Cities-nya Charles Dicknes dulu dan rasanya saya kok kayak berjumpa dengan Dicknes lainnya ya. Hal itu diperkuat dengan sambutan pembuka di Tetralogi Buru terjemahan inggris oleh Max Lane dan Penguin. Disitu Max juga bilang kalau karyanya Pram itu terasa seperti tulisannya Dicknes. Jadi memang ada alasan kuat mengapa buku ini layak disejajarkan dengan penulis-penulis hebat dunia dan masuk dalam nominasi Nobel Sastra hingga berkali-kali. Kalau bagi saya sih buku ini adalah versi Indonesia luar biasa, karena setiap kali saya membaca buku ini saya merasa Indonesia itu keren dan saya nggak pengen beranjak. Di waktu bersamaan saya pun menyadari bahwa mungkin Indonesia yang saya mau hanya ada di buku-buku dan Planet Mars. *Apa ini waktunya menyerah?

Oh ya, untuk tiga buku lainnya saya memang mencoba membaca yang versi Inggris. Alasannya sangat nggak jelas sekali. Pertama saya suka cover-nya, cantik aja gitu. Saya itu jenis pembaca yang kadang-kadang suka menilai buku dari cover-nya. Kedua, halamannya lebih sedikit (ini agak bangsat). Ketiga, saya pengen bandingin versi asli versus terjemahan (sok tahu), terus pengen tahu juga sudut pandang orang luar tentang buku ini, dan yang terakhir saya nggak pengen merasa satu negara dengan Pangemanann dengan dua n. Saya merasa jengkel aja tiap dengar namanya disebut dan meski pun dia hanya tokoh rekaan semata.

Satu kata untuk versi terjemahan inggris, masih kurang bisa menyampaikan gaya tulisannya Pram sekaligus rasa ke-Indonesiannya. Mungkin memang rasa Indonesia itu sulit untuk disampaikan kali ya. Saya aja sebagai orang Indonesia juga bingung kalau harus menerjemahkan buku ini ke Inggris, saya harus ngomong gimana kalau saya menjadi penerjemahnya. Dari review teman-teman yang pernah saya baca banyak juga kok yang terseok-seok saat pertama kali membaca bukunya (entah di seri manapun kalian memulai) sebelum akhirnya terbiasa. Jadi untuk para penerjemah kalian telah bekerja keras dan bagi yang belum membaca nggak usah takut buat nyoba.

So, sudah pernah membaca Tetralogi Buru? Have an opinion? Share here!

Edda

‘Heroine’ Story With Jane Austen

I don’treally remember the day when I bought her famous heroine “Pride & Prejudice”. Maybe it’s 2016. Books that had entered this banned list successfully steal my attention at a time, in years and different places and certainly unexpected. How could she do that to me? That seems to be a pretty silly story.


While reading this book for the first time, I confidently stopped everything on page 20 and made a statement that I was so confident that I would never like it anyway. Funnily enough, out of sudden I gave sweet compliments to a book that even entered my banned list. I praise it as a book with a beautiful medieval background. This means that I could praise this book even though I don’t like it and even just read it no more than 20 pages. If I think back “Am I making imagery or what exactly?”.


Seeing what happened two years later, it felt very stupid as well as funny. The compliment struck back. Laughing at me wholeheartedly about the silliness to praise a future. I praised that before I loved that and then fell in endless love. How to forgive myself for being careless. Ha ha ha. I just want to laugh really. This fog is still in my head. Dancing mocked me about that silly taste.


There is nothing to blame, it certainly happens for a reason, Jane is too genius and I’m too fragile. The heroin addict who met heroin traffickers, wishing what else?


Then what is it that makes me fall in love with Jane?


Besides the fact that I gave more attention to the victorian era daily life, I think her writing is really genius. The characters are very human. You have a chance to hate them whatever they are, just hate it if you want. Austen also talks a lot about social critique in her books. And Austen certainly showed me a lot of things I really wanted to show too. “Hey! look at this!”. She doesn’t talk openly but it will be quite visible. I love to be straight, but for this I want to look like “I’m here without here”.


Austen’s writings are very lively, the social criticism in her book is still very relevant today after more than 200 years since she wrote her books. Time may pass, year may change but things like this is what humans do all the time no matter when. People never change. They do the same thing, only the level and model that follows it changes with time, but for the most basic things are the same. I think humans are really interesting. I hope to have a great opportunity to learn them. 


Now I’m thinking like “Could Austen tell me something?”. Hey, our meeting isn’t possible nonsense, right?. There must be, I’m sure I read something. And it’s interesting when time gives me a chance to get to know her more.


“I was quiet, but I was not blind.” – Jane Austen

I’m…


Edda

How To enjoy J. Austen – Pride & Prejudice? Upgrade Ver.

“Jemariku,” kata Elizabeth,“tidak menari di atas piano ini selincah jemari banyak wanita lain. Kekuatan dan kecepatannya berbeda, dan ekspresi yang dihasilkannya pun berbeda. Tapi, aku selalu menganggap hal ini sebagai kesalahanku sendirikarena aku tidak mau repot-repot berlatih, bukan karena aku percaya bahwa jemariku tidak memiliki kemampuan yang sama dengan jemari para wanita yang lebih mahir.” (p.269)

Baiklah, kalimat favorit saya di Pride & Prejudice. Darcy…you are not alone.

Jane Austen…One of the famous author from England. Ada yang bilang Jane ini nenek moyangnya love-hate relationship. Tidak diragukan lagi karena setidaknya ada sekitar 100 fanfiksi/ buku yang pernah aku baca mengandung sebagian atau keseluruhan kalimat pembuka dalam buku ini.

“Faktanya adalah, kau sudah lelah menerima kesopanan, kehormatan, dan perhatian yang berlebihan. Kau sudah muak dengan para wanita yang berbicara, memandang, dan berusaha keras untuk mencari persetujuan darimu. Lalu aku datang, dan kau langsung tertarik karena aku sangat berbeda dari mereka.”- Elizabeth Bennet

You must have heard it, right?

Tidak perlu berbelit-belit, saya tahu kalian pasti mengenal beliau atau setidaknya pernah mendengar nama beliau. Jane ini hidup di era Georgia Inggris (awal abad ke-18 dan akhir abad ke-19) sehingga kebanyakan tulisan-tulisannya berlatar era Georgia.

Berbicara tentang Jane, Pride & Prejudice tentu tidak bisa dilewatkan karena jelas sejarah menyebut Pride & Prejudice sebagai karya terbesar Jane. Menariknya, Pride & Prejudice ini bisa menciptakan dua kubu penikmat yakni pecinta  dan pembenci dengan kadar sama besarnya. Artinya jika seseorang menyukai Pride & Prejudice maka akan sangat menyukainya dan jika tidak suka maka juga sangat tidak menyukainya. Namanya juga selera, tidak masalah apakah ingin menyukai atau pun tidak menyukai. Seperti kata Rumi “Tak mungkin untuk senangkan setiap orang, Tuhan saja dibenci setan.”

Kalau harus menggambarkan hubunganku dengan Pride & Prejudice, itu seperti pecandu kokain yang akhirnya berjumpa dengan pengedar kokain. Bayangkan saja bagaimana euforianya. Bukan karena topik ceritanya yang berisi love-hate relationship tetapi karena kebetulan saya sedang mendalami sejarah era Georgia dan Victoria beberapa bulan terkahir ini. Tentu itu menjadikan Pride & Prejudice memiliki tempat tersendiri untukku.

Dari sekian banyak karya Jane, sebetulnya saya baru membaca Pride & Prejudice saja. Yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya adalah bahwa saya akan tergila-gila dengan Roman ini. Cukup surprise karena sebetulnya saya sudah berniat membaca buku ini sejak 2016 silam, tetapi sayangnya begitu mulai membaca beberapa lembar sayanya malah udah nggak suka dulu. Setelah selang 2 tahun akhirnya dorongan besar untuk membaca buku ini datang kembali dan sialnya sukses menenggelamkanku dalam euforia tak berujung. Bahkan, setelah sekian hari berlalu kepalaku masih diselimuti kabut Pride & Prejudice. Guys, save me, I’m dying.

But…well, mungkin 2016 lalu belum waktunya Jane Austen kali ya. Momentum kan memang suka seenaknya. So, mengingat momentumku akhirnya datang dan karya ini cukup menarik maka saya akan berbagi tips tentang bagaimana menikmati karya Austen – Pride & Prejudice.

Penting untuk di ingat bahwa Roman ini berlatar waktu di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, era Georgia Inggris. Artinya, apa yang ada di dalam cerita ini tentu berisi hal-hal yang memang menjadi tradisi era Georgia seperti pesta di A, pesta di B, undangan makan malam A, undangan makan malam B, dsb. Sangat membosankan memang. Saya lihat banyak yang protes di bagian plot ceritanya ini yang isinya cuma pesta, makan, pesta lagi. Tetapi ya itulah Georgian era.

Bagi yang belum tahu, era Georgia itu memang nyaris sama uniknya dengan era Victoria. Mereka ini memiliki etiket yang akan terasa aneh jika kita perbandingkan dengan etiket modern. Contoh-contohnya seperti menyambut tetangga setiap kali mereka kembali dari bepergian, pesta dan undangan makan malam yang banyak sekali, fashion yang harus memenuhi standar tertentu, dsb.

Kembali ke Pride & Prejudice, menurut saya apa yang menjadikan Pride & Prejudice ini sangat dicintai, bahkan hingga disebut sebagai karya terbesar Jane bukan tentang menarik atau tidak menariknya plot cerita, tetapi lebih kepada kandungan historis dan kritik sosial yang terkandung di dalamnya.

Pada era Georgia tidak banyak perempuan yang menulis, bukan karena tidak mau, tetapi lebih dikarenakan kepercayaan masa itu. Kebanyakan hal di era Georgia memang didominasi oleh kaum laki-laki. Tentu sebagai salah satu dari sedikit penulis perempuan dari era Georgia, Jane akan sangat dihargai. Selain itu, kehidupan era Georgia yang nyaris keseluruhannya diisi oleh pesta dan undangan makan malam pun juga menjadi daya tarik yang sounds really nonsense but…okay, this is how Georgian era daily life. So, what? Nggak bisa protes kan ya.

Oh, tentang inap-menginap, saya pikir itu juga menarik. Di era Georgia ketika mereka berkunjung ke rumah teman mereka atau pun saudara mereka, lama waktu menginapnya sangat panjang sekali, bahkan hingga berminggu-minggu. Hari ini, tidak ada culture semacam itu. Keanehan lainnya tentu tentang pernikahan antar saudara. Kalau masih ingat, di dalam Pride & Prejudice, Lady Catherine, yang merupakan bibi dari Mr. Darcy begitu menggebu ingin menikahkan putrinya dengan keponakannya sendiri, yaitu Mr. Darcy. Kalau dipandang dari tata nilai yang dianut sekarang, hal itu tentu tidak bisa dibenarkan.

Walau kebanyakan hal terdengar membosankan dan aneh bukan berarti tidak ada yang cukup menarik. Tentu saja ada dan ini favorit saya, kecintaan membaca. Jika di amati lagi, banyak sekali percakapan terkait buku dan perpustakaan di dalam Pride & Prejudice. Saya pikir memang orang Inggris itu kental sekali budaya membacanya bahkan hingga sekarang. Menarik. Negara saya bisa begitu nggak ya di masa depan? This is so sadly here, by the way.

Kesimpulannya, jika ingin menikmati Pride & Prejudice pastikan untuk memahami sejarah era Georgia terlebih dahulu, karena jika tidak, kalian akan menjadi sangat bosan dikarenakan kehidupan di era Georgia yang pada dasarnya memang membosakan bagi kita generasi “apa sih artinya hidup tanpa gadget”. Saya yakin jika kalian bisa memahami sejarah era Georgia kalian pasti bisa merasakan ke-autentikan Pride & Prejudice. Even if you don’t like it after, you will got the feeling. Try it!


P.s Ada fakta menarik tentang adaptasi miniseri Pride & Prejudice ini yang menurut salah satu situs merupakan miniseri favorit Kate Middelton dan bahkan Kate sendiri menyebut Pangeran William sebagai Mr. Darcy, ya, ya. Tapi memang sih nama tokoh utama laki-laki di Pride & Prejudice iniFitzwilliam Darcy, sangat berkesan sekali. Bukan karakternya yang dingin loh ya, tapi namanya.

Well, that’s all. So, what do you think about Pride & Prejudice? Have a thought?

 

Edda

Fabulous 18

“Season Greeting and A Letter For Myself …”
The years passed then passed, changed again, then passed again and so on. I think I’m growing. The proof of the journey had given me the meaning that I kept learning and thinking. No mistake, I did.

I am aware of some of the things I need to improve from myself, including every word in my past writing. Often I thought “this one is too childish … superficial … unworthy …” and what surprises me is my courage to share it with the world. It’s crazy for that growth, there are also times when I want to strangle myself, but … does not everyone who writes really feel it? Carelessness does exist. Just learn, thanks for visiting and sorry for some of the inadequacy that might be quite annoying. Bow.

Nothing felt, year back to January 11th. Repeating my age for the umpteenth time. Time passes, shift, then move on to the next time. I just had to make sure that the move would not mess with me and give me a chance to get organized. I will work better even though misunderstanding checks me, my cultivation works hard to drown me, and my disbelief at many things fulfills me like air. I look for myself and I believe. Happy Birthday and of course something unforgettable, my birthday anthem “It has to be you” by Super Junior Yesung (it’s already running for 5 years). Hope for Fabolous Eighteen.

“Queen … You did well and always.”

Edda

Story of The Blacksuit 2

Masih tentang Balcksuit, this is the second part. Enjoy…

Tentang Music Video

Berbicara tentang music video ada beberapa hal yang membuat aku kurang puas. Pertama tentang alur MV-nya yang terbalik tapi kurang sistematis, semacam flashback. Analisaku sih, mereka memilih alur mundur karena mereka ingin menyembunyikan pelaku pencurian Blacksuit dalam sebuah acara pelelangan. Anehnya, begitu MV dibuka, situasinya sudah chaos dulu tanpa kita tahu itu apa dan dimana. Nggak ada angin, nggak ada hujan, chaos aja gitu. Kita kan jadi mikir “mwoya?”.

chaos
Chaos moment on Blacksuit MV

Menurut aku akan lebih baik jika mereka memulainya dengan menampilkan acara pelelangan terlebih dahulu – Setelah itu, situasi chaos – baru kemudian apa dan kenapa bisa terjadi. Jadi nggak tiba-tiba chaos gitu aja. Setidaknya kita harus tahu itu dimana, acara apa. Kalau yang ditampilkan chaos-nya dulu kan kita jadi mikir “Ini apaan sih?”. Selain itu, dengan penyusunan seperti itu pelaku pencurian berserta kronologinya tetap bisa disembunyikan dengan apik tetapi tetap sistematis.

Kedua, secara keseluruhan MV-nya seru meskipun kalau dibanding Devil dan Mamacita, MV kali ini tingkatannya masih di bawah keduanya. Artinya yang dua itu lebih bagus karena, misal untuk Mamacita, konsepnya juga tentang pencurian dan alurnya mundur juga, tetapi penataannya jauh lebih sistematis dan menarik dibandingkan Blacksuit.

Ketiga, aku agak surprise dengan sekumpulan dancer celana dalam yang cuma muncul beberapa detik itu. Meski member SJ sudah sangat dewasa, nggak tahu kenapa aku kurang suka dengan kemunculan itu. Kesannya seperti MV boygroup-nya YG yang banyak mengeksplorasi perempuan. Mungkin karena aku menganut budaya ketimuran jadi agak sedikit gimana gitu.

Keempat, aku kecewa dengan di cut-nya adegannya Donghae yang baca buku “Romeo & Juliet” itu. Yang masih bingung kenapa aku tahu, itu karena di SJ Returns ditampilkan behind the scenes pembuatan MV Blacksuit.

Padahal ya, itu seru loh kalau ditampilkan karena akan menciptakan kontradiksi. Di satu sisi begitu chaos tetapi begitu tenang disisi lainnya. Sayang sekali malah di cut. Selain itu, adegan Heechul yang kedua (yang pertama tidak memuaskan jadi di ulang), itu juga di cut tanpa kita tahu adegan all age seperti apa yang dilakukan Heechul sampai membuat SJ members dan staff tertawa keras. Di SJ Returns mereka menulis seakan-akan bakal ditampilkan nantinya (mungkin di MV) tetapi justru malah di cut. Ending-nya kita nggak tahu apa-apa. Ya, sudah. Kepalang penasaran tapi nggak ada jawaban. Lupakan.

SJ Event and ELF Event

Di comeback kali ini ELF memberikan banyak sekali dukungan dan kejutan seru untuk Super Junior. Yang paling menarik tentunya yang dilakukan ELF China dimana demi menggaet perhatian publik untuk comeback SJ mereka melakukan promosi di salah satu subway dengan mengubah interior subway menjadi super junior sekali. Keseluruhan gerbong subway dihiasi dengan teaser-teraser terbaru dari album “PLAY”, kemudian lantainya dan dinding subway di ubah menjadi biru sapphire dengan tulisan Super Junior di atasnya. Selain itu, mereka juga menampilkan poster dari album-album SJ terdahulu dan beberapa kata terkait perayaan 12 tahun Super Junior.

DNrAI8_U8AA17j0DNrAD5HV4AAL0RNDNrAD5FVoAI9F44

Dari sekian banyak project yang dilakukan oleh ELF seluruh dunia, promosi di bagian subway inilah yang paling menarik perhatian bahkan bagi member SJ sekali pun. Eunhyuk dan Donghae oppa bahkan sempat memposting foto-foto subway ini di akun SNS mereka.

Tidak cukup dengan itu saja, ELF juga memasang banyak iklan terkait comeback SJ dalam berbagai bentuk yang jumlahnya kalau tidak salah ada sekitar 700 an.

Dengan banyaknya dukungan yang diberikan ELF ke Super Junior mereka jadi nggak mau kalah dan memberi kejutan balik di SM COEX Artium berupa poster album “PLAY” Blacksuit version dengan tulisan…

To. E.L.F.

Gomabgo

Mianhago

Saranghaeyo

From.SJ

DNriheRWsAA2lNu

Ringkas memang, tapi jangan salah banyak yang sekarat. SJ tahu bagaimana caranya berbicara ‘kan?

Selain banner gula-gula itu SJ juga mengadakan jumpa fans ‘gila’ yang ditayangkan secara live melalui V Live. Mereka benar-benar berperan sebagai komedian disana. Setiap kali mereka mulai agak gila, setiap kali itu pula aku akan mengingat perjalanan mereka di Swiss tahun 2014 silam. Waktu itu Eunhyuk dan Leeteuk berencana melakukan ski di Mattehorn. Sebelum itu mereka menyewa beberapa peralatan ski di sebuah ski rent. Karena mereka tidak hanya liburan saja tetapi juga syuting, mode broadcast mereka pun menyala terang and making fun here and there sampai kemudian si petugas di toko penyewaan alat ski itu berbisik satu sama lain “Are they comedian?”. Lucunya Leeteuk mendengar itu karena saat itu mereka sedang berada di meja kasir untuk membayar. Tidak terima dikatai comedian Leeteuk dengan bahasa inggris yang sok keren menjawab “I’m korean singer, I’m not komedian” with the serious face. Jangankan aku yang nonton, dia sendiri aja sadar betapa itu sangat lucu.

Setiap mereka mulai menggila aku selalu teringat wajah seriusnya Leeteuk dan bahasa inggris sok kerennya itu. Bukan komedian apaan, you are a half korean singer and a half korean comedian. If you want to know how funny that, just check the video and you will laugh loudly. I’m sure about that.

Tidak cukup itu saja, setelah selesai broadcast mereka juga membagikan cookies dan minuman bagi ELF yang turut hadir dalam acara tersebut.

DN8wkf_VwAAxPyL
Drink and cookies from SJ

Update terbaru, ELF kembali memberikan kejutan berupa bus Super Junior. Kejutan ini diupload oleh Eunhyuk di akun SNS-nya @eunhyukee44. Selain itu juga ada pedistribusian album ke kafe-kafe, pembagian snack kepada wartawan dan ELF (ELF China make this) dan masih banyak lainnya.

twitter2twitter1

DOK_l8wUMAMW18kDOK_jlZVoAAjSKq

Aku dan “PLAY” Album

Awalnya aku tidak berencana membeli album ini dikarenakan beberapa hal. Sayangnya begitu album resmi dirilis aku nggak bisa menolak godaan, tetapi sebetulnya tidak sesederhana itu. Aku itu tipe orang yang mencintai proses penciptaan sesuatu hal. Ketika aku tahu dengan pasti bagaimana sesuatu hal itu terjadi maka aku menjadi ber-empathy. Oh, they are working hard to make this great thing. So, I’m proud of them and blablabla.

Seperti juga penulis yang berbagai cerita tentang bagaimana mereka menulis buku-buku mereka, tentang bagaimana seseorang meraih mimpi mereka, bagaimana seseorang mengubah diri mereka menjadi sesuatu yang baru, bagaimana seseorang belajar memahami kehidupan mereka yang mengundang tanya, dan banyak lainnya. Itu menjadi topik yang begitu berkesan untukku karena dengan mengetahui sebuah proses, sebuah kronologi sejarah, maka  aku akan mendapat banyak sudut pandang baru yang tidak bisa aku dapatkan tanpa mau terjun kedalamnya.

Aku mulai melakukan hal itu sejak pertama kali belajar Bahasa Inggris dengan tutor Bahasa Inggrisku yang super keren. Beliau mengajar bahasa inggris dengan memperkenalkan kronologi terciptanya bahasa itu. Sejak itu aku mulai menerapkannya ke banyak sekali topik, karena dengan memahami latar belakang sebuah topik kita bisa menjadi lebih andal dalam memahami keseluruhan topik tersebut.

Nah, apa itu juga berlaku untuk album “PLAY”? Jawabannya iya karena melalui SJ Returns aku jadi tahu bagaimana suatu album diciptakan untuk kemudian dirilis ke publik. Tentang bagaimana menariknya mendengarkan sebuah demo lagu hingga kemudian menjadi lagu sebenarnya. Tentang bagaimana mereka belajar sebuah koreografi baru, memonitor penampilan hingga menyempurnakan kekurangan-kekurangan. Tentang bagaimana mereka menghadiri banyaknya meeting demi menciptakan album yang sempurna. Tentang proses recording yang ternyata memakan waktu yang tidak sedikit dan banyak lainnya. Hal-hal itulah yang kemudian menarikku untuk memberikan apresiasi terhadap kerja keras mereka dengan membeli album yang mereka rilis. Selain itu, aku pun jatuh cinta dengan desain album ini yang terkesan simple tetapi menarik dan berkelas. Desain cover albumnya piringan hitam ‘kan, nah aku suka banget piringan hitam makannya memutuskan untuk membelinya.

DOMFKvjUMAAwQIl
I bought One More Chance version and Jaehyun did it too. It’s called seduction.

Maybe that’s all, 7 pages,  2,789 words,  and I’m tired. So, What do you think about this album? Have a unique story? Share here, I will waiting for your feedback. Bye-bye…

Edda

Story of The Blacksuit 1

Warning: Tulisan ini akan sangat panjang jadi aku akan menjelaskan rinciannya kepada kalian. So, gini, comeback Super Junior kali ini bagi aku pribadi sangat special banget. Banyak sekali momen luar biasa yang terjadi selama proses pembuatan album “PLAY”, maka dari itu aku akan membaginya menjadi 2 bab besar Blacksuit Part dan One More Chance Part. Tolong dicatat pembagian bab ini bukan untuk membahas OMC dan Blacksuit secara terpisah, tetapi hanya sekedar penamaan saja karena album SJ kali ini memiliki 2 versi album yakni OMC dan Blacksuit. Blacksuit Part sendiri akan berisi short words seputar 12 tahun perjalanan Super Junior, sedangkan One More Chance Part akan dibagi menjadi beberapa sub bab kecil untuk lebih memudahkan kalian membaca dan memahami alurnya. Khusus sub bab-nya silahkan lihat detailnya di full article nanti. Dengan pembagian ini, aku berharap arah tulisan akan lebih mudah dipahami. So, let’s started… 

Super Junior X ELF ~~~ PLAYYY!!!


ONE MORE CHANCE PART

Super Junior baru saja merilis album terbarunya “PLAY” 4 hari yang lalu. Cukhaederimida! (Leeteuk style). Udah pada stream ‘kan? Iya…belum. Mwo? Masih ada yang belum stream juga? Buruan pergi sono deh, stream sekarang juga, nggak mau tahu, harus stream (mode nyuruh2). Hey…I don’t mean anything okay, forget it. We will making fun time here. Don’t worry.

By the waySuper Junior udah segini tuanya ya, kita (ELF) tentu saja turut menua bersama (we aren’t vampire). Dari 12 tahun perjalanan Super Junior, tentu tidak setiap dari kita berdiri bersama mereka sedari awal. Aku sendiri berdiri bersama mereka baru 5 tahun 6 bulan saja (katakan aku turut larut dalam euforia SS4 Indonesia 2012 lalu). Mungkin kalian pun sama, ada yang berdiri sedari awal, pergi sebentar, kembali lagi, pergi selamanya, atau pun datang baru-baru ini. Tidak masalah. Tidak ada keharusan untuk bersama sedari awal. Mulailah kapan pun kalian ingin, tetapi jika bisa berdirilah sampai akhir. Meski sekali lagi tidak ada keharusan juga untuk itu. Hanya saja, akan sangat menarik jika kita bisa terus bersama hingga nanti. So, sebisa mungkin ayo tetap bersama dan…

Selamat Ulang Tahun untuk yang ke-12 tahun Super Junior. We love you ♥♥.

Sudah terlalu panjang ya, jadi ayo berjalan ke topik selanjutnya.


BLACKSUIT PART

Tentang Album “PLAY”

Untuk album terbaru kali ini, seperti biasa, Super Junior memilih merilis full album seperti sebelum-sebelumnya (mereka sempat terpikir untuk merilis mini album soalnya). Album ini memiliki 2 versi album, Blacksuit dan One More Chance yang di dalamnya termuat 10 lagu yaitu…

  1. Blacksuit (tittle track)

Lagu ini lagu favorit aku di album “PLAY”. Sejak pertama kali denger demo Eng ver dari lagu ini aku udah jatuh cinta. Saat itu aku langsung terpikir mereka pasti bakal memilih lagu ini juga, karena hanya lagu ini saja yang menciptakan respon serentak di wajah mereka, dan ternyata di kemudian hari dugaan aku terbukti. Selain itu, Eunhyuk oppa juga yang menulis lirik untuk korean version-nya. Sebetulnya sudah ada yang menulis lirik koreanya, tetapi karena nggak puas, sama dia di tulis ulang deh itu lirik dan ternyata jadinya lebih bagus. Hal itu berlaku juga untuk track ke-2 Scene Stealer. Oh ya, penulis lagu ini orang Denmark.

  1. Scene Stealer

Kalau ini agak unik. Waktu denger demo Eng ver dari lagu ini aku nggak terlalu suka, tetapi begitu demo Korean ver keluar aku malah takjub karena jadinya beda banget. Bener yang SJ bilang lagu Eng ver bisa jadi sangat berbeda jika di translate ke Korean ver. Setelah aku analisis lebih jauh sebenarnya alasan ketidaksukaanku itu subjektif banget, yang Eng ver aku nggak suka suara penyanyinya dan untuk Korean ver aku pro sama penyanyi demonya. Kkkkk. Nggak jelas banget ‘kan. Habis begitu Eunhyuk sama Yesung oppa yang nyanyi, rasanya jadi Super Junior banget (iyalah, masa jadi twice banget…TT).

Yo (Whats up?) Get ready (Ok!)…

Oh ya, seperti yang udah aku bilang di review Blacksuit, lirik lagu ini ditulis sama Eunhyuk oppa juga. Alasannya agak sedikit berbeda dari Blacksuit, kalau di Blacksuit karena nggak puas, maka ini karena waktu Eunhyuk oppa nulis rap part-nya dan digabung menjadi satu kesatuan ternyata jadinya nggak match. Oleh karena itu, sekalian saja dia ubah semua lirik lagunya dan produsernya bilang hasilnya jauh lebih bagus.

  1. 비처럼 가지 마요 (One More Chance)

Ini sih nggak usah ditanya, cukup satu kata “Johayong”. Lagu ini tuh kerasa banget sedihnya, ciri-ciri pengalaman pribadi penulis (Lee Donghae, I caught you kkkkk). Ada konsep yang menyatakan bahwa “seorang penulis akan memasukkan pengalaman pribadiya ke dalam karya yang diciptakannya”. Tetapi beneran loh, dia sendiri bilang gitu di Live Vapp kemarin kalau itu pengalaman pribadinya dia. Aura-aura ditinggalin gitu aja, kayak hujan. Kkkkkk. I’m I right, Lee Donghae?

Oh ya, selain aku ada yang terpesona dengan rap part lagu ini nggak? Kalau iya berarti kalian udah terjebak bujuk rayunya National Anchovy Byun Hyuk (byuntae Eunhyuk). Jangankan kalian, Donghae aja blushing. Kkkk. Tapi ada yang lucu dari lagu ini, pas di recording time-nya Yesung, lagu ini sempat di rated 29 hanya karena satu kata “oh”. Tahu kan lirik yang “Idero bichereom gajimayo…oh”. Nah, Yesung nyanyinya terlalu sensual gara-gara disuruh ngulang berkali-kali sama Donghae yang nggak puas-puas juga. Saking terlalu banyaknya percobaan demi feeling lagu yang lebih ‘sakit”, malah sensual deh jadinya. Kehabisan pilihan soalnya. Lee Donghae sih, banyak maunya. Kkkk. Sejak itu setiap dengar lagu ini aku malah jadi pengen ketawa dibanding sedih. Sempat nangis sih pas pertama denger full lagunya tapi habis itu ya ketawa doank.

  1. Good Day for a Good Day

Yang ini simple aja, melodinya cantik dan western sekali …with you..u..u..u. Lagu ini juga masuk 5 kandidat tittle track.

  1. Runaway

Kalau nggak salah denger ada lirik soal “good on me…” gitu. Molla, aku belum baca terjemahnya tetapi mungkin lagu soal penampilan diri. Mari dikonfirmasi nanti.

  1. The Lucky Ones

Gara-gara byong…byong-nya Byunhyuk di recording time, aku sampai penasaran tingkat akut. Pikirku itu pasti point lagunya, eh…point apaan, melodi sekian detik doank juga iya. Ternyata…I’m NOT the lucky lucky lucky lucky.

  1. 예뻐 보여 (Girlfriend)

Pembuka lagunya Kyuhyun, makannya moodku terhadap lagu ini jadi terjun ke jurang. Tolong dicatat aku bukan haters-nya Kyuhyun, hanya saja beberapa waktu lalu aku sempat terlibat insiden dengan 14 fansnya Kyuhyun. Sebenarnya hanya kesalahpahaman kecil yang dikarenakan oleh ambiguitas kalimat + beragam POV yang menciptakan complicated situation, dimana akhirnya aku dituduh membully Kyuhyun dengan making fun of his body. But i’m not. I don’t mean anything. Tetapi ya gitu warganet memang sedikit sulit, mana tingkatannya internasional lagi.

Tapi yang pasti aku sudah memberi penjelasan kepada mereka dengan sikap yang aku tahan baik-baik, jangan sampai meledak, tetapi ternyata malah aku diteriakin dan dilempari beberapa kata makian dalam berbagai bahasa (Spain, English, Arabic, Vietnam, dll). Aku memberi kesempatan selama nyaris satu minggu untuk mereka menanggapi penjelasan aku, tetapi mereka malah menghindar. Aku pikir, ah mungkin aku di block, ternyata enggak, berarti mereka aja yang pengecut karena mustahil jika tidak block dan mereka tidak menerima pesanku. Namun, setidaknya dari 15 orang, ada satu yang membalas pesanku dengan pikiran terbuka, makannya hanya aku sebutkan 14 orang yang berkonfrontasi.

Sudah aku beri penjelasan, tidak ada tanggapan, ya sudah, yang paham pesanku bukan pesan berisi pembullyan saja ada ratusan. Kenapa harus khawatir. Aku block saja mereka dan semuanya selesai…secara teknis, tetapi apa yang mereka perbuat tidak bisa terlupa begitu saja bahkan setelah 2 minggu lamanya. Akibatnya aku jadi benci banget denger nama Kyuhyun disebut dengan alasan apapun itu. Mungkin untuk saat ini Kyuhyun ditiadakan dulu. Nanti ketika dia kembali di 2019, aku berharap aku sudah melupakan segalanya dan bisa kembali seperti biasa. Ah, malah curhat lagi. Lupakan! Ayo kembali ke tujuan awal.

Jadi, bagaimana lagunya? Girlfriend itu…jenis lagu medium yang asik buat bersantai. Cantik. Bukan begitu?

  1. Spin Up!

Melodinya oke. Saudaranya tirinya Blacksuit (karena miripnya dikit aja).

  1. 시간 차 (Too late)

Ini favorit aku juga. Reff partnya cantik.

“…Naneun maebeon neujgo akkapge neol nohchyeo. Nae mameun tto Too Late…no way…”

  1. I do (두 번째 고백)

Yang ini juga favorit kkkk. Sebenarnya aku suka semua lagu di album ini. Addictive ke aku soalnya, apalagi yang “I do” ini ‘kan khusus untul ELF jadi ya makin suka (klise). Nggak gitu juga sih, lagu ini memang sudah aku suka sejak masih berupa potongan recording di SJ Returns. Selain itu, melodinya juga enak dan liriknya gula-gula. So,….

Pencapaian Album “PLAY”

Soal pencapaian, album kali ini menurut aku udah sangat bagus dibandingkan semua comeback Super Junior baik grup maupun solo selama hampir 3 tahun terakhir. Sejak pertama kali dirilis, tittle track lagu ini, Blacksuit memulai debutnya di posisi 20 melon chart dan bahkan sempat berada di  posisi 1 Soribada (sekarang no 2). Hingga hari ketiga setelah perilisan, Blacksuit masih berada di TOP 100 di semua chart musik. Give applause.

Pencapaian lainnya, album ini juga menempati posisi satu chart iTunes di 23 negara. Ini tentu jauh lebih baik dibandingkan Devil yang hanya sekitar 15 negara saja. Tidak hanya itu, penjualan album fisik “PLAY” pun menempati puncak Hanteo dengan total penjualan 106.713 copy.

IMG_20171107_091541

IMG_20171107_091618
Ini penjualan hari pertama. Sampai hari ke -3 perilisan jumlah penjualannya sudah mencapai 106.713 copy album

Berbicara tentang pencapaian, viewers youtube tentu tidak bisa diabaikan. Seperti yang kalian tahu bahwa sebelum merilis Blacksuit, SJ sempat merilis pre-release song, One More Chance. Nah, untuk OMC, MV lagu itu sudah ditonton sebanyak 1 juta kali hanya dalam 7 jam saja, sedangkan Blacksuit berhasil ditonton 2,9 juta kali dalam 24 jam. Sedikit tentang Blacksuit, aku nggak tahu pasti dalam berapa jam MV itu berhasil ditonton sebanyak 1 juta kali karena viewers youtube-nya sempat frozen selama lebih dari 6 jam dan karena bete, aku tinggal tidur deh. Nyebelin tahu because we did something but like doing nothing. Meskipun itu ter-count juga, tapi ‘kan nggak kelihatan. Jangan lupakan konsep zaman ini no pic = hoax. Jadi, kalau nggak bisa dibuktikan yang nggak bakal dipercaya. Sekarang sih nggak perlu khawatir karena udah nggak frozen lagi dan MV blacksuit sudah ditonton lebih dari 5  juta kali. So, keep streaming guys.

11
Blacksuit MV
1111
One More Chance MV

Oh ya, tentang pencapaian ini aku memiliki beberapa hal untuk dikatakan. Selama 5 tahun 6 bulan bersama Super Junior rasanya baru kali ini aku melihat ELF melakukan hal yang sangat luar biasa. Bukan berarti tidak dengan yang dulu-dulu, kalau mereka nggak kerja keras mana bisa SJ sukses besar di zaman itu ‘kan. Tetapi begini, yang membuat ini keren adalah karena situasinya yang sangat berbeda sekali dibanding dulu, dimana Super Junior hari ini bukanlah toko baru yang sedang naik daun, tetapi hanya toko lama yang tetap memiliki pengunjung setia mereka. Disisi lain toko-toko baru terus bermunculan dan tidak bisa dipungkiri bahwa kemunculan itu berarti terciptanya pilihan-pilihan baru yang mungkin lebih baik dan lebih menarik. Lalu melihat ELF yang masih setia dengan toko lamanya, itu luar biasa. Selain itu, ELF juga jauh lebih dewasa dalam menanggapi berbagai masalah. Salah satu yang klasik tentu fanwar ya, kemarin sempat ada seseorang yang menulis kalimat provokasi seperti ini “SVT (Seventeen) making comeback in the same time and will destroy Super Junior”.

Kalau itu terjadi di waktu lampau mungkin kebanyakan ELF akan menanggapinya dengan meledak-ledak, tetapi hari ini mereka jauh lebih tenang dan tidak mudah terpancing apalagi mengumbar kebencian. Itu sangat menarik untuk aku karena ternyata dengan menciptakan situasi positif maka akan diperoleh hasil yang positif juga. Akhir-akhir ini juga mereka (ELF) terus menebarkan cinta dan itu menjadikan streaming hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Hati juga menjadi jauh lebih ringan dan kita bisa merasakan kebahagiaan meski hasilnya tidak sebaik yang kita harapkan. Harusnya sejak Devil udah gitu ya, but It’s okay for #Too Late, now we are not. Itu hari lalu, fokuskan saja ke hari sekarang. Fighting!

See you on the second part…

 

Edda

Is There “One More Chance”?

Caution: This is nothing. Just the thing in my mind that coming out. So, becarefull, I’m warning you, this is nothing.

Ada ribuan pertanyaan di dalam kepala ini setiap waktunya. Tentang mengapa aku ingin? Mengapa aku harus jatuh cinta? Mengapa aku harus peduli? Mengapa aku tidak jadi orang yang tidak mau tahu saja? Mengapa aku tidak hidup normal dalam ketidaktahuan saja? Dan mengapa-mengapa lainnya.

Kemuakan ini kian menumpuk, menarik semua emosi dari dalam kepala. Aku nyaris meledak tetapi aku belum juga bisa berbuat sesuatu hal. Itu sangat menjengkelkan sungguh. Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu akan berubah menjadi bagaimana aku menemukan cara untuk mengubahnya? Oh, apakah aku bersungguh-sungguh? Apakah aku hanya berteriak omong kosong? Bisakah aku melakukannya? atau apakah aku sudah melakukan suatu kerja? Entahlah. Jika bagan rencana termasuk kerja, maka ya, berarti aku mungkin sedang bekerja.

Pendidikan itu betul-betul, bisakah tidak menghantuiku seumur hidup? Aku benar-benar sangat muak sekali. Tetapi tahukah kalian, melihat sesuatu yang melenceng setiap harinya nyatanya tak semudah itu terlupa. Hal itu seperti mengakar di dalam otakmu, muncul secara berkala, dan berbisik di telingamu “kamu yakin ini benar? Tidak ingin ada perubahan, eh? Hey, lihatlah dirimu yang payah itu?”. Tidak bisa kamu berpura-pura tidak mendengarnya, tidak melihatnya, dan yang terburuk momen itu tidak akan pernah membiarkanmu menjadi orang normal kembali dengan rutinitas “yes, it’s okay”. You can’t say anything okay after that for sure. Seperti yang dikatakan Haruki Murakami,

Seseorang yang melewati badai tidak akan pernah menjadi orang yang sama.

Terkadang kita berharap suatu pengertian dari orang lain, tetapi itu tidak bisa terjadi karena apa yang kamu cemaskan tidak lebih dari kenormalan bagi mereka. Lalu siapa? Kepada siapa kita harus berbicara? Ini sesuatu yang sulit untuk dikerjakan sendirian. Dari seribu orang, hanya satu diantara mereka yang sejalan dengan apa yang kita pikirkan, dan menemukan satu itu bukanlah perkara mudah.

Sejak 2016 lalu aku mengikuti beberapa forum berita online internasional. Banyak hal-hal tidak biasa yang tertulis di sana. Sesuatu yang tidak terlalu bisa aku pahami karena kontennya yang bersifat future. Kemudian bulan ini, oktober, salah seorang Profesor yang bukunya menjadi langgananku tiba-tiba mengumumkan peluncuran buku. Masih di minggu yang sama aku pikir aku harus bergegas untuk mendapatkan buku itu, tetapi ternyata masih belum beredar di toko buku. Setelah menunggu selama 2 minggu lamanya buku itu akhirnya kutemukan juga. Selalu seperti itu, ketika mulai ada hal yang mengganjal di hati dan keinginan pergi ke toko buku membuatku tidak bisa tidur berarti ada sesuatu yang bisa aku dapatkan di sana.

Lalu apa keterkaitan buku itu dengan semuanya? Sesuatu yang istimewa karena buku itu berisi penjelasan lebih mendetail tentang berita-berita ‘aneh’ yang aku baca di beberapa forum berita internasional tersebut. Tomorrow is Today  ini merupakan seri selanjutnya dari Disruption yang dirilis pada Februari 2017 lalu oleh Prof. Rhenald Kasali. Jika Disruption masih sekedar arus sungai  bergelombang ringan maka Tomorrow is Today adalah gelombang lautan dikala badai. Lebih menyalak.

Setelah membaca buku tersebut satu yang bisa aku pikirkan adalah, kali ini presentase kemungkinan perubahan akan naik tinggi, dalam hal ini yang aku maksudkan adalah khusus dunia pendidikan. Dari sekian banyak hal di dunia Disruption, yang paling ingin aku lihat hanya ada satu yaitu disruption di dunia pendidikan. Bagaimana pendidikan akan berjalan setelah disruption itu? Apa kiranya yang akan terjadi dengan incumbent-incumbent itu nantinya? Tentu akan sangat menarik. Aku ingin mereka tersadar bahwa pendidikan hari ini bukanlah masa lalu yang mereka tuhankan itu. Aku ingin mereka tahu bahwa ada begitu banyak hal yang harus dibenahi di dalam institusi pendidikan. Roh yang melayang entah di belahan dunia manakah itulah yang harus di tarik kembali.

Kalian ingat kronologi penangkapan bupati Buol, Sulawesi Tengah 2012 lalu? Aku harap kalian masih mengingatnya. Beberapa hari lalu aku memutar video penangkapan si terdakwa korupsi tersebut yang sangat menegangkan sekaligus mengherankan. Jadi, jika kalian masih ingat, si terdakwa korupsi ini berhasil melarikan diri ketika akan ditangkap pada 26 Juni 2017. Bahkan mobil yang ditumpanginya bersama para pengawalnya sempat menabrak mobil dan motor yang dipakai oleh para penyidik KPK. Tidak berhenti sampai disana, bupati koruptor ini setelah berhasil melarikan diri kerumah dinasnya (sebelumnya beliau berada di villanya di tengah perkebunan sawit untuk melakukan transaksi korupsi), rumah itu telah dijaga oleh para pendukungnya yang siap mati untuknya (nah, nggak ngerti, ada yang begituan ya?). Mereka membawa barang-barang berbahaya seperti pisau dan sebagainya. Hal itu kemudian memaksa KPK mundur demi keamanan dan kembali pada bulan Juli bersama pasukan elit polri, Densus 88. Luar biasa ‘kan? Menangkap koruptor saja layaknya menangkap teroris.

Setelah melihat itu aku pikir, pendidikan di Indonesia tidak bisa dibiarkan seperti ini secara terus-menerus. Generasi muda Indonesia tidak boleh menjadi seperti mereka lagi. Pendidikan harus bisa membangun nurani, karakter, dan etika para generasi penerus. Tidak cukup dengan gemuruh pengetahuan saja. Jika dibiarkan, masa depan Indonesia sudah pasti akan menjadi seperti apa.

Jadi, bagaimana membawa masa depan itu ke hari ini? Pasti ada suatu cara ‘kan? This is my imagination.

Edda

One More Chance (슈퍼주니어) on Review

Semalam Super Junior merilis Pre-realese song “One More Chance” untuk  album ke-8 mereka “PLAY”. Jujur agak kaget karena schedule perilisan dan teaser lagu One More Chance keluar di waktu yang bersamaan. Sedangkan antara teaser dengan full music video hanya berjeda selama beberapa jam saja. Awalnya aku pikir, mungkin masih besok sore seperti yang biasa mereka lakukan beberapa tahun terakhir, tetapi ternyata mereka kembali ke kebiasaan lama dengan merilis album di tengah malam.

22857772_312649499142178_6274110486812295168_n

So, now let’s talking about this song.

Pertama, lagu ini diciptakan oleh Donghae Super Junior. Untuk lriknya aku kurang tahu siapa penulisnya, tetapi khusus rap part itu ditulis oleh Eunhyuk oppa. Lagu ini sempat menjadi kandidat kuat tittle track, akan tetapi Super Junior signature itu Dance song maka dari itu setelah melalui beberapa diskusi panjang (kalian bisa menontonnya di SJ Returns) akhirnya lagu ini dipilih sebagai pre-realese song. Lagu ini, seperti yang dikatakan Donghae oppa, akan menunjukkan warna dari masing-masing member. I think that’s true. This song is suit them well.

Sebetulnya kalau pun mereka memilih ini sebagai tittle track aku pikir tidak masalah juga karena lagu ini sangat bagus, hanya saja tentu akan ada cukup perubahan pada image mereka. Oleh karena itulah, diantara dua kemungkinan tersebut Super Junior lebih memilih mengikuti identitas lama mereka daripada menciptakan image baru dan memilih Blacksuit dibandingkan One More Chance.


Kedua, tentang pembagian part di lagu ini. Ada yang seru, jadi aku pikir aku mendengar suara Yesung oppa nyaris sepanjang lagu untuk pertama kalinya. I’m really surprised. Sebagai main vocalist Yesung Oppa jarang mendapat banyak part menyanyi di album Super Junior sebelum-sebelumnya. So, I’m really happy to hear his voice often in this song, his friends is also think like that. His voice is suit this song well (sorrow voice).

Untitled

16

Selain itu, untuk member lain masing-masing dari mereka memperoleh part yang sesuai dengan warna suara mereka. For example, Eunhyuk dengan rap part-nya yang memesona, Donghae sebagai pembuka lagu sekaligus tokoh utama yang merasa paling kesepian (I think he want to getting married ㅋㅋㅋㅋ), Heechul yang sejak Narcissus suaranya berhasil merebut perhatianku dari Kyuhyun (sorry Kyuhyun, selesaikan saja wamil-mu itu), Siwon yang suaranya sesekali masih terkontainasi ingatakanku sebagai Byun Hyuk yang suka merengek di Revolutionary Love (Your image is surely something), Shindong yang kayaknya part-nya masih sedikit aja, dan Leeteuk yang mungkin selama recording berhasil menurunkan 5 Kg berat Donghae dan J-dub (he said that in SJ Returns). It’s comes out well, maybe Donghae and J-dub is surely lose their weight, ㅋㅋㅋㅋ.


Ketiga, tentang Music Video. Entah perasaanku aja atau bukan tetapi aku pikir MV kali ini contains YG Style. Konsep MV seperti ini biasanya banyak digunakan oleh artis-artis YG, dark, smoke, and many aisles. Selain itu, MV ini agak mirip juga dengan MV D&E Growing Pains, empty and show the lonelieness.


Sekarang agak subjektif (dari awal udah subjektif kali), soal scence favorit. Scene favorit aku di MV ini itu di part-nya Eunhyuk oppa pas lari di bawah hujan with the slow motion effect. Oh, that’s damn cool. He manage his face well, eh. Like what he said in today’s SJ Returns episode. He afraid to be more ugly. ㅋㅋㅋㅋ.

19

Sadar atau enggak di MV ini dari 7 member yang lari cuma tiga member aja (Eunhyuk, Yesung, Donghae). Sebenarnya Shindong juga lari sih, tapi abaikan aja, nanti konsep Tom and Jerry-nya jadi nggak match. Masih ingat nggak, di SJ Returns konsep relationship mereka itu seperti Tom and Jerry. Yesung Tom and D&E Jerry, Jadi ya mereka emang harus lari-lari terus, yang lain kan manusia normal jadi jalan santai aja. Okay!

Terakhir, masih di SJ style, modelnya lagi-lagi mukannya nggak di shoot. ㅋㅋㅋㅋ.

So, What do you think about thier new song? They look differently, right?

Edda


P.s. Siwon nggak akan ikut promosi di album kali ini. I don’t know why? tetapi mungkin itu berkaitan dengan kasus Bugsy. Kalau memang itu alasannya, aku pikir itu adalah yang terbaik karena sangat tidak etis jika setelah kasus penggigitan oleh Bugsy yang menyebabkan kematian itu, Siwon oppa berdiri di atas panggung untuk promosi album. So, it’s okay. We will waiting for you like what we did to Sungmin and Kangin, also the boys in the army Kyuhyun and Ryeowook. Gidaryeo. Hakuna matata!

DNbRkG-VAAA92rf

비처럼 가지마요 mean Don’t Leave Like The Rain. But they make another tittle “One More Chance”.

Actually a few months ago (on January 9, 2017) I wrote that I was looking forward to their comeback and I hope they make a good song. I want an official soundtrack, that means I hope they make a song that fits my situation and it’s ‘One More Chance.’ Yes, I hope “One More Chance’ today for something. So, thank you for this perfect timing Donghae oppa. Your song is suit me well. Good luck Super Junior. The most lovable ahjussi. Please becarefull with Blacksuit dance. Don’t break your bones. Fighting!

xx

For Terra Incognito

Today it will all reach a clear ending point that no one will agree with except myself and God (I hope).

I’m finished

Enough

No more doubts like yesterday

Cloudy slowly blurred

The sun shines

I believe in my decision

At least I will not kill myself for the second time

Yes, quite once and not anymore

Crowded

I think something has taken away all my oxygen

It’s hard, my leg broke

I know my decision sounds crazy, but I just stop for this, not for any plan of my life

Please let me

Not a single tree lives under the ocean

And this is not a fictional story about the famous mermaid

Trees must grow on the ground or die

Oxygen is getting thinner and I know that all I have to do is run to the mainland before I no longer have a chance

Just wait, I will prove that my decision is the wisest among them

So, again, let it


Edda

Penjajahan Era Kini

Hari-hari ini PKI sedang hits-hitsnya menjadi topik perbincangan di Indonesia. Apa menariknya coba? Suju lebih populer ‘kan? Ah lupakan, bukan itu juga yang ingin aku bicarakan.

Karena PKI sedang berada di puncak popularitas (aku membicarakannya ternyata), banyak orang berpikir “oh ini situasi yang sangat berbahaya, bagaimana jika yang terjadi dimasa lampau terulang kembali? Akan dibawa kemana masa depan bangsa ini? (kalau itu, nggak usah nunggu PKI hits pun sudah ada pertanyaan mau dibawa kemana masa depan bangsa ini?) dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya”. Ya, itu menakutkan sih meski hanya dalam imajinasi, tetapi mengapa aku lebih takut dengan matinya literasi? Dari sana aku berpikir, oh tidak hanya PKI saja yang ingin bangkit, masa lalu memang sedang dibangkit-bangkitkan sekarang ini.

Pernah mendengar larangan membaca beberapa jenis buku bagi perempuan di masa lalu? Larangan mengenyam pendidikan? Atau stigma tentang perempuan yang identik dengan kasur, dapur, dan sumur? Tolong cacat, aku tidak berbicara tentang kesetaraan oke. Aku salah satu yang tidak mempercayainya jika ingin tahu. Jadi tolong jangan membawanya kesana.

Jadi bagaimana? Tidak asing, bukan? Aku mengalami beberapa situasi yang bahkan meski menarik untuk ditulis tetapi sama sekali tidak asik juga untuk dibanggakan.

Aku mendapat larangan membaca buku.

Oh why? Tahun berapa sih ini? Kolonial zaman apalagi sekarang? Yang pasti tidak terlalu mengejutkan. Indonesia kan negara zero literasi, aku saja yang agaknya berlebihan. Tetapi begini, alasan kenapa aku dilarang membaca adalah karena aku dinilai berpikir terlalu out of the box, menghayal, dan menjadi gila. Spinoza mengalaminya, seorang laki-laki memang, tetapi pemikirannya yang membuatnya dianggap gila dan dicoret dari daftar warisan (sial, bahasanya sinetron sekali) dan bahkan keanggotaan keluarga. Spinoza memang rumit, tetapi aku tidak sampai di level itu. Ingin pendidikan terbaik, membaca banyak buku, dan traveling, tidakkah itu terdengar wajar? Termasuk juga membuat passport. Bagaimana itu dianggap suatu kegilaan? Jadi siapa yang gila sebetulnya? Terlalu banyak pertanyaan, dan selalu hanya ada sedikit jawaban.

Catatan juga, buku yang aku baca pun masih buku yang wajar-wajar saja dan tentu dengan porsi yang tidak berlebihan. Kita aja milih sayur di pasar sampai pusing, bagaimana nutrisi otak dipilih secara sembarangan? Buku adalah salah satu guide kita untuk melihat dunia, yang mungkin akan mempengaruhi cara pandang kita. Akankah buruknya jika itu dipilih secara sembarangan.

Oh, ayolah, wajar bukan sih ketika kamu banyak belajar kemudian kamu mendapati bahwa beberapa hal memang salah? Apa menurutmu mencontek itu benar? Bermoral? Tidak kan? Begitupun kebiasaan tidak tepat waktu. Itu tentu hal yang salah, setidaknya menurutku? Hey, ingin mendengar kontradiksi tidak?

Ini…

Perbedaan definisi tidak tepat waktu bagi aku dan mantan dosen bapak di kampus.

Me: Tidak tepat waktu itu mental illness.

Mr. Dosen: Tidak tepat waktu itu adalah salah satu cara pembentukan mental bagi mahasiswa.

Nah loh. Sinting memang sih. Begitulah ketika hal yang tidak benar dibiasakan, ya akhirnya dibenar-benarkan. Mentang-mentang sudah jadi signature culture masyarakat Indonesia, jadi dianggap fine fine saja. Ada nasehat seperti ini…

“Jangan benarkan kebiasaan, tetapi biasakanlah yang benar”.

Kata-kata memang selalu lebih mudah, sedangkan praktik adalah bagian dari definisi kerumitan.

So, what do you think? Mental illness atau pembentukan mental? Hahaha, kalau tidak tepat waktu adalah pembentukan mental, revolusi mentalnya Pak Jokowi nggak guna donk ya? Kan sudah mendarah daging itu.


p.s picture source: https://i.pinimg.com/

Edda

What I talk About When I Talk About Bullying

Topik bullying itu untuk aku sama membosankannya dengan topik pendidikan di Indonesia. Seperti tidak ada solusinya. Jadi lupakan saja.

Oh, tidak. Baiklah.

Tentu bullying sesuatu yang sudah seharusnya tidak boleh terjadi. Akan tetapi akhir-akhir ini kasus bullying semakin gencar saja dilakukan begitupun level bullying-nya yang kian sadis. Naik level ceritanya, menyesuaikan diri dengan era millenial.

Tujuan aku menulis ini sebetulnya untuk menindaklanjuti artikel yang ditulis oleh seorang teman blog aku karena setelah aku pikir-pikir lagi aku tidak terpikir solusi apapun dan hanya meninggalkan like saja. Karena itu bukan gayaku (meninggalkan like saja) jadi harus ada tindak lanjut.

Apakah aku pernah menjadi korban bully?

Ya, aku pikir beberapa tindakan bisa dikategorikan sebagai pembullyan. Saat itu di Sekolah Menengah Pertama, ada seseorang yang sangat tidak menyukaiku. I don’t care of course, tetapi sikapnya semakin hari semakin tidak sopan. Dengan aku yang pendiam, dia cukup gencar bertindak tetapi aku pikir aku berhasil mengenyahkannya. Caranya? Dengan otak tentu saja. Ah, peringkat maksudku. Aku cukup baik, seperti itu.

Memasuki Sekolah Menengah Atas, aku kembali mengalami bullying. Kasusnya serupa dengan yang aku alami di Sekolah Menengah Pertama, hanya saja aku bisa menyingkirkannya lebih cepat. Dia cukup cerobah sehingga kami tidak bisa berjumpa dalam waktu yang lama. Saat itu dia keluar di kelas 1 SMA karena sebab yang aku tidak tahu pasti. Entah hamil di luar nikah kemudian dinikahkan atau hanya menikah saja. Sayang sekali, padahal aku menyiapkan banyak kejutan. Apa sekarang gantian aku yang terdengar jahat? Tetapi aku cukup manis kok. Maksudku aku tahu cara bermain peran yang baik, dengan manner tentunya.

Lagi, di bangku kuliah aku kembali mendapat masalah yang sama. Aku pikir aku memiliki wajah yang tepat untuk di bully. Pembullyan yang aku alami di bangku kuliah ini aku pikir adalah yang terburuk diantara yang lainnya. Bermula dari sebuah kesalahpahaman yang seharusnya bisa diselesaikan tetapi justru berkahir dengan pembullyan. Bukan tentang laki-laki tentunya, aku tidak cukup peduli dengan topik semacam itu. Itu mungkin kali pertama juga dimana aku memendam sedikit rasa takut atas suatu pembullyan. Dia menyebarkan hal yang kemudian memojokkanku hingga setiap orang akan menilaiku tepat seperti yang dia katakan. IPK-ku hampir terjun bebas saat itu karena di waktu yang sama aku mengalami masalah lainnya. Kombinasi yang sangat tepat untuk destruksi pokoknya.

Namun, bukan aku jika tidak bisa bangkit. Aku melakukannya dan aku tidak yakin kapan tepatnya itu berakhir. Saat itu semester keduaku ketika aku mengalami bullying. Yang lucu adalah si pembully ini jadi pengen dekat-dekat sama aku karena sebelum membully, kami berteman cukup baik sebetulnya. Sayangnya aku tidak sebaik itu sepertinya. Bukan berarti aku tidak pemaaf, kami selesai tetapi tidak untuk berteman kembali. Maaf untuk bahasa yang kasar tetapi ada perasaan semacam jijik seperti itu. Mustahil sekali untuk berteman kembali.

Aku tidak mencoba mencontohkan hal yang buruk. Kalian memiliki pilihan sendiri akan bagaimana tetapi untuk aku berteman kembali itu tidak mungkin. Kalau pernah nonton drama Korea The Heirs, sikap korban bully Choi Young Do pas Young Do minta maaf, ya seperti itu juga yang aku lakukan.

Terakhir, aku tidak tahu pasti solusi menghadapi bullying secara khusus meskipun aku mengalaminya cukup banyak. Aku pikir jadilah lebih kuat saja. Tunjukkan siapa kamu karena kita tidak bisa berharap orang lain untuk membela. Selalu ada titik buta seberapa pun takutnya kamu. Aku punya pikiran seperti ini, sebetulnya mereka yang membully itu adalah yang paling lemah diantaranya. Mereka hanya sedang menutup-nutupi sesuatu. Contohnya orang yang membullyku di bangku kuliah, dia mendapat tekanan besar dari kedua orang tuanya. Sikap otoriter gagal eksis seperti biasa. Jika kalian bertanya bagaimana aku tahu, sebetulnya tidak sengaja, dia saja yang ceroboh.

So, what do you think about bullying?


P.s Judul artikel memimjam judul buku Haruki Murakami “What I Talk About When I Talk About Running”.

Photo source: http://affinitymagazine.us


Edda

The word of pessimistic (?)

17881787_222303091598852_1747763724799705088_n

Something what I think about my self?

I just killed my self like 3 years ago and I realized this time. Now, I just  someone without nothing inside.

So, can I still claim my name?

Can I intoduce my self like before?

Can I still talking like what I did in the past time?

Can I still claim, oh they are my parents?

Can I still claim, Oh they are my friends?

Can I still claim all of my books?

Can I still like coffee with pastry in the morning rain?

Can I still love Super Junior?

Can I still claim my bank account?

Can I still hate my phone exsistence?

Can I still staying in the way to my biggest dream?

or

Am I still exsis in the world or just invisible?

Aku dan Hilangnya Sevel (7 Eleven)

Jika kalian berpikir seperti perasaan jatuh cinta ala konsumerisme, maka bukan itu. Aku tidak mencintai franchise asing seperti Sevel, tentu saja, hanya kukira aku mencintainya tetapi dari sudut pandang berbeda. Terkadang pun aku berharap Indonesia bisa seberani Kuba untuk berdiri sendiri tanpa ada ribuan produk asing yang menyerbu negeri tanpa ampun setiap tahunnya. Tetapi Indonesia tampaknya tidak akan seberani itu ‘kan?

Sekali lagi aku katakan, aku bukan pecinta Sevel, tetapi aku cukup bersedih untuk kehilangannya karena kisahnya yang membuatku  banyak terkesan. Perasaan cinta semacam itulah yang kumaksudkan.

Mungkin banyak yang belum tahu sejarah berdirinya Sevel di Indonesia? Ingin mendengarnya? Aku tidak keberatan untuk menceritakan sedikit.

Ada ungkapan seperti ini di dalam sebuah film (dibintangi Maudy Ayunda) yang sayangnya telah kulupa judulnya.

“Yang paling menyedihkan bagi orang tua adalah ketika mereka melihat anaknya lahir sekaligus melihatnya mati”.

Terdengar berlebihan tetapi itu yang kurasakan terhadap Sevel. Aku mempelajari kasus kelahirannya dan sekaligus juga mempelajari kasus kematiannya.

Tersebutlah, Henri Honoris, pewaris generasi ketiga dari pemegang hak distribusi Fuji Film di Indonesia. Saat itu, dunia sudah memasuki era digital dan peminat rol film menurun demikian tajam. Bahkan pada kurun waktu 2002 hingga 2010,  bisnis fotografi Fuji Film di Indonesia mengalami penurunan keuntungan dari Rp2 Triliun (2002) menjadi Rp212 miliar pada 2010.

Tentu ini kondisi yang sangat menguncang, maka dipanggilah Henri untuk pulang menyelamatkan bisnis keluarga yang memulai masa sekarat. Banyak sekali outlet-outlet Fuji Film yang ditutup dan sebagian asetnya menganggur saat itu. Henri hanya terpikir dua jenis penyelesaian saja, apakah akan dijual atau diperbaiki, karena jelas bisnis itu tidak bisa dilanjutkan dengan cara yang sama, dan kalau tidak dilakukan diantara dua hal tersebut bisnis keluarga mereka akan mati.

Pada 2006, Henri mumutuskan untuk melakukan change. Maka dia pun menyurati kantor pusat Seven-Eleven di Dallas, Texas. Namun, karena masih dalam masa guncagan krisis moneter, Henri pun mendapat penolakan karena Sevel ingin memfokuskan diri di Brazil, India, dan Vietnam.

Henri tidak putus asa, iya terus menyusun proposal untuk meyakinkan Sevel bahwa pembukaan outlet-nya di Indonesia nanti akan menguntungkan. Henri menangkap insight nongkrong dalam bentuk outlet yang nantinya akan disesuaikan dengan kondisi pasar Indonesia. Henri terus berpikir bagaimana agar keberadaan outlet nanti tidak menganggu keberadaan pasar tradisional dan dapat hidup berdampingan. Cukup menarik, namun, Sevel masih kukuh pada kehati-hatian mereka. Sejak 1993, Sevel hanya membuka outlet baru di area yang sudah dimasukinya. Artinya dalam kurun waktu 17 tahun, Sevel tidak pernah memasuki negara baru. Namun, jangan salah, dengan begitu saja Sevel sudah memiliki 40.000 outlet, melebihi jumlah outlet yang dibuka MCDonald’s dan Starbucks. Ingin mendengar fakta? Di Thailand Sevel memiliki 7000 outlet, sedang di negara sekecil singapura Sevel memiliki 5000 outlet. Jumlah yang menakjubkan, bukan?

Singkat cerita setelah melalui perjalanan panjang, Sevel akhirnya memanggil Henri untuk berunding pada 2008. Konsep yang diusung sederhana saja, nongkrong. Orang Indonesia itu sukanya nongkrong. Mall memiliki fasilitas yang higienis, tetapi masih cukup mahal untuk nongkrong. Disanalah kemudian sevel membangun peluang, yakni menciptakan tempat nongkrong yang higienis tetapi murah. Jadilah Sevel versi Indonesia, 50% kafe dan 50% convenient store.

Henri menyebutnya Afordable Luxury.

Karena dengan fasilitas yang higienis, AC yang dingin, makanan, free charges, dan free Wifi, Sevel bisa menjual dengan harga yang murah. Tentu ini sangat diminati anak-anak Indonesia yang mulai nggak betah di rumah karena AC yang nggak dingin dan paketan data yang makin mahal (sebut saja kata depannya Tel, belakangnya Sel) #Nahitu. Free Wifi bung, katakan dimana itu surga? di Sevel pastinya. Bahkan yang lebih lucu, ada sebutan nieh untuk mereka-mereka yang suka nongki di Sevel “Alayeven”. Anak-anak Alay dan orang tua Alay yang gemar nongki sampai pagi di gerai Seven-eleven. Hayo, kamu salah satunya bukan?

Satu fakta lagi, gara-gara Sevel Indonesia ini, kata nongkrong menghiasi halaman depan The New York Times. Selain itu, konsep nongkrong ini juga hanya diterapkan di gerai Sevel di Indonesia saja. Kalau di negara lain gerai sevel konsepnya masih semacam Indopiiip itu, grab and bite.

Pembukaan Sevel dengan konsep 50% kafe dan 50% convenient store ini juga memberi keuntungan kepada mereka yang memasok makanan dan minuman seperti kopi dan nasi goreng. Bisa dikatakan Sevel ini menjadi penggerak roda ekonomi di Indonesia, namun sayang Sevel akhirnya terguncang juga lantaran birokrasi tidak bersahabat di Indonesia.

Sevel dengan konsep awal 50% kafe dan 50% convenient store, dipaksa untuk menjadi grab and bite seperti layaknya Indo**** dan Alfa****. Hal itu dikarenakan pemerintah berpikir tidak ada kompromi untuk Sevel yang mengantongi double izin yakni satu izin retail dari Kemendag dan satu izin restoran dari Dinas Pariwisata DKI. Akhirnya karena birokrasi keparat tersebut Sevel tidak bisa menjalankan konsep bisnis yang telah disusunnya. Akhirnya Sevel terus mengalami penurunan penjualan. Pada 2012 Sevel telah membuka toko ke-100 nya di Indonesia dan meraup keuntungan yang baik. Namun semenjak regulator berulah pada september 2012, Sevel mulai mengalami penurunan keuntungan yang signifikan.

Pasca 2013, Sevel tidak bisa menjalankan model bisnisnya lagi karena ulah birokrasi, namun meski begitu di 2014 Sevel masih mencatat keuntungan yang cukup baik. Sayangnya, di tahun-tahun berikutnya kondisi Sevel kian memburuk dan kemudian ditutup pada 30 Juni 2017. Bayangkan saja berapa banyak orang yang akan kehilangan lapangan pekerjaan karena penutupan Sevel ini. Jangan lupakan juga anak-anak dan orang tua alay yang akhirnya nongkrong di pinggir trotoar karena tempat nongki kesayangan harus ditutup.

Yang paling membuat aku sedih selain kekonyolan birokrasi Indonesia adalah aku belum pernah sekalipun nongkrong di Sevel (katakan norak, iya). Belum juga membuktikan konsep bisnis mereka yang membawa kata nongkrong menduduki halaman depan The New York Times. Dan masih aku ingat juga, beberapa bulan sebelum Sevel tutup aku masih memperbincangkan kekagumanku pada konsep bisnis Sevel di sebuah Kedai Kopi di Sore yang gerimis. BGM-nya At Gwanghwamun lagi. Makin sedih kan jadinya. The last word,

—Goodbye Sevel, I cry for you

(Source: Self Driving, hlm: 210 – 213)

P.S Pengen nulis ini sejak Juli lalu tetapi karena masih sedih (bohong, males aja sebenarnya) jadi baru bisa menulis ini sekarang. So, what do you think about Seven-Eleven? Merasa kehilangan?

The Different of Language

Pernah mengamati Facebook? Sadar nggak kalau Facebook tidak pernah bertanya “Apa yang ingin kamu tuliskan” tetapi bertanya apa yang kamu pikirkan. Dengan begitu, sebetulnya Facebook membangun konsep, kumpulan banyak pikiran dalam komunitas sosial (sumber: Tuhan dalam Secangkir Kopi, kata pengantar).

BAHASA FACEBOOK

Tahun 2016 lalu, seorang teman penaku merilis sebuah buku. Saat itu aku menulis review bukunya. Sebenarnya tidak tepat juga disebut review karena aku tidak memakai sistematika review, sebut saja sekedar ungkapan perasaan pembaca. Dalam ‘review’ tersebut aku menulis sedikit kekecewaanku karena tulisan itu telah kehilangan hal yang cukup mendasar. Sesuatu daya magis yang mampu menarik setiap orang untuk membaca. Sampai-sampai aku bertanya-tanya, kemana perginya tulisan yang pernah aku baca di blog beberapa bulan lalu? This is…too different.

Sejak kejadian itu aku menjadi jauh lebih waspada dengan tulisan-tulisan blog yang dibukukan. Memang tidak selalu seperti itu, banyak juga yang justru semakin baik setelah dibukukan. Tidak bisa di generalisasi. Karena kekecewaan tersebut jugalah aku menarik kesimpulan bahwa tulisan yang baik di blog belum tentu akan menarik ketika dibukukan karena bahasa blog dan bahasa buku memang berbeda. Saat itu aku pikir, “Ah ya, mungkin memang seperti itu. Lupakan saja”.

Setelah sekian lama terlupa, tanpa sengaja di suatu hari di musim panas, aku menemukan teori yang memperkuat hipotesisku tersebut. Dalam buku berjudul “Tuhan dalam Secangkir Kopi”, Deni Siregar berbagi pemikiran bahwa tulisan dan pemikiran memiiliki konsep yang berbeda. Bentuk tulisan  biasanya penuh dengan kesantunan serta bahasa yang meliuk, tetapi pikiran cenderung jauh lebih jujur, spontan, dan vulgar.

Itulah mengapa tulisan blog yang dibukukan kebanyakan akan sangat berbeda dari versi aslinya. Hal itu sangat wajar terjadi karena apa yang kita pikirkan harus disesuaikan dengan konsep apa yang kita tuliskan. Tentu saja akan terjadi sebuah pergeseran sehingga berakibat pada output tulisan yang menjadi jauh lebih canggung. Tulisan dalam blog begitu pun sosial media hidup dalam kevulgaran bahasa. Katakan saja, kevulgaran tersebut adalah oksigen bagi tulisan blog dan sosial media. Dan ketika tulisan tersebut disesuaikan dengan konsep media cetak yang penuh kesantunan, maka tulisan tersebut akan kehilangan kevulgarannya, titik pesona dan daya tariknya. Hasilnya tulisan menjadi sangat hambar karena terlalu banyak garam pesona yang dikurangi.

So, penting untuk belajar bagaimana menyampaikan kevulgaran tersebut namun tetap dalam bahasa yang santun, sehingga jika suatu saat nanti tulisan kita dibukukan (berharap boleh donk) apa yang ingin kita sampaikan bisa tersampaikan secara sempurna tanpa mengalami terlalu banyak revisi dan penyesuaian.

P.s I don’t think this is a good article because it’s been a while since I last wrote. I’m just trying to fix my pretty bad mood lately. What do you think? Wanna share?

Cherioo…

Kenapa Dosen bisa Menyandang Gelar Killer?

Hayo, kalian jenis-jenis manusia yang bertanya-tanya tentang hal ini juga nggak sih? Aku sih iya.

Pertama kali mengenal istilah guru killer itu ketika aku masih di kelas 3 Sekolah Dasar. Guru yang mengajar sejak Taman Kanak-Kanak hingga kelas 2 Sekolah Dasar biasanya masih manis-manis. Nah, begitu memasuki kelas tiga berjumpalah aku dengan istilah baru bernama guru killer untuk pertama kalinya. Entah, siapa pencetus gelar killer yang fenomenal itu. Yang aku tahu, begitu memasuki kelas 3 Sekolah Dasar, telah lahir istilah semacam itu.

Waktu berlalu dan aku pun melanjutkan sekolah menuju jenjang yang lebih tinggi. Lucunya istilah killer itu semakin populer saja. Entah dimana pun diri ini berada, ada saja guru yang menyandang gelar killer tersebut. Sangat unik sekali penyebaran guru bergelar killer itu. Terasa terencana. Mungkin perlu diadakan pemilihan guru ter-killer se-Indonesia kali ya. Owch, jangan sampai, tidak menarik. Lupakan. Kembali ke fenomena guru killer. Berhubung penyebarannya yang sangat merata tersebut, akhirnya aku bertanya-tanya juga. Kenapa guru bisa killer ya? Kalian tahu, manusia biasanya akan melakukan sesuatu hal dengan membawa alasan-alasan dibaliknya. Pasti ada alasan yang melatar belakangi gelar tersebut dan alasan itu juga yang membuatku terus bertanya-tanya bahkan ketika akhirnya aku memasuki perguruan tinggi. Menariknya gelar killer itu lagi-lagi muncul seperti tidak ada habisnya. Saat itu, almarhumah dosen salah satu mata kuliah aku di semester 1 yang menyandangnya. Karena sempat memasuki masa jenuh, pertanyaan itu sempat terlupa selama beberapa tahun lamanya hingga kemudian pertanyaan itu kembali menyeruak di semester akhirku.

Ceritanya begini, jadi aku pergi ke toko buku untuk mengadopsi beberapa buku (I call them my baby. That’s why I use “mengadopsi”). Untuk memudahkan kita mencari buku, toko buku biasanya akan menyediakan komputer informasi. Nah, di salah satu Toko buku terbesar di Indonesia (tidak sebut nama), mereka menggunakan aplikasi baru untuk pencarian buku. Karena masih baru dan baru pertama kali pakai juga, aku nggak ngerti cara pengoperasiannya, sebut saja agak gaptek. Setelah aku coba berkali-kali, di pencarian tidak juga muncul informasi yang aku butuhkan. Herannya, itu toko buku, pegawai yang lagi on dikit banget. Entah kemana perginya pegawai yang biasanya bejibun itu. Karena terlalu malas menghampiri petugas yang tinggal satu dua orang saja, aku putuskan untuk berkeliling langsung saja. Siapa tahu nemu buku yang oke. Dan beneran ketemulah aku sama buku barunya Prof. Rhenald Kasali, Strawberry Generation. Beliau ini salah satu penulis favorit aku. Menariknya, di buku barunya ini Prof. Rhenald mengupas tuntas tentang dunia pendidikan. Biasanya buku-buku beliau itu berbau ekonomi. Maklum dosen Pemasaran Internasional, jadi ya bukunya berbau ekonomi donk. Kerennya buku yang ditulis beliau, isinya pemaparan materi dan pemecahan kasus-kasus terkait. Kasus yang dipilih pun bukan hanya kasus lama saja tetapi hingga kasus terkini. Jadi, sangat ter-update juga informatif.

Disalah satu sub bab, Prof. Rhenald membahas seputar guru dan dosen berdasar pengalaman pribadi beliau selama diajar hingga kemudian menjadi pengajar. Uniknya di bab berjudul “Dua Generasi di Dunia Pendidikan Kita”, beliau tiba-tiba menyebut fenomena guru/dosen killer. Jadi, dunia pendidikan kita sekarang ini telah terpecah menjadi dua generasi teman-teman yaitu  digital immigrants dan digital natives.

Apa itu?

Digital Immigrants, sesuai istilahnya, adalah kaum pendatang di dunia digital. Mereka ini adalah orang-orang yang dilahirkan dan dibesarkan sebelum era digital. Dalam dunia pendidikan, Digital Immigrants adalah guru dan dosen-dosen kita saat ini. Sementara, digital natives adalah anak-anak muda yang lahir dan dibesarkan di era digital. Sebut saja generasi Y atau millenials. Mereka ini adalah mahasiswa/i yang berada di kampus-kampus sekarang ini.

Perpecahan itu kemudian melahirkan  dua sudut pandang yang berbeda terkait style dalam belajar mengajar. Bagi digital immigrants yang namanya belajar ya harus seperti dia dulu, fokus, serius, dan sering kali suasana belajarnya menjadi tidak menyenangkan. Sedangkan disisi lain, bagi seorang digital natives cara belajar seperti itu udah nggak jaman sekarang.

Mengapa bisa seperti itu?

Menurut Garry Small, seorang pakar saraf dari University of California, Los Angles, menemukan, anak-anak yang otaknya banyak menerima input secara digital ini secara kognitif bisa menjadi superior (Strawberry Generation, hlm: 68). Maksudnya anak-anak yang dibesarkan di era digital telah dijejali banyak sekali informasi sehingga mereka menjadi lebih cepat menyerap informasi dan cepat pula mengambil keputusan.

Kondisi semacam ini akan menjadikan struktur otak anak-anak tersebut berubah menjadi multitasking. Mereka bisa belajar sambil chatting, berselandar di dunia maya, nonton tv dan bahkan mendengarkan musik. Cara belajar mereka yang demikian ini bagi digital immigrants, bukanlah belajar. Sekali lagi, belajar itu harus seperti apa yang mereka lakukan dahulu yang serius, fokus dan lain sebagainya itu. Akhirnya si digital immigrants ini memaksa anak-anak belajar sebagaimana mereka belajar dahulu. Mereka lupa dunia telah bergerak maju, bukan change lagi tetapi disruption. Cara-cara belajar konvensional seperti itu sudah tidak relevan lagi. Dari sanalah kemudian lahir istilah killer tersebut. Gelar bagi si pemaksa cara belajar yang gagal mengikuti perkembangan zaman. Penjelasan kasarnya seperti itu.

Apakah masih ada orang-orang semacam itu hari ini? Buanyakkk, buannyakk sekali, tiap hari aku ketemu yang begituan. Bahkan ada yang kalaupun salah tetap nggak mau dibantah. Adanya bener terus. Padahal lulusan S2, S3 luar negeri tetapi…Ya begitulah. Walaupun terasa aneh, dunia itu memang menarik. Gelar tidak selalu merefeksikan apapun. Tidak juga bisa menjadi jaminan tingkah laku seseorang. So, ekhm…

Bagaimana menurutmu, pernah berjumpa dengan yang killer-killer? Share your story in the comments bellow. Bye…

pake3
Nemu meme lucu, jadi aku masukin aja. LOL.

Tujuh Puluh ‘70’

Lebih daripada 24 jam yang lalu ada beberapa ingatan yang datang begitu saja ke dalam memori ini. Sesuatu yang kembali membawaku berpikir tentang bagaimana sebenarnya hidup dan bagaimana aku menghabiskan hidupku. Hal itu kemudian membawaku pada kesimpulan bahwa sebenarnya aku menjalani hidupku dengan cukup baik, tidak buruk.

Pernahkah kamu bertanya-tanya apa kebahagiaan itu? Sulit untuk dijawab bukan? Arti sebuah kebahagiaan itu akan sangat berbeda pada setiap orang, seperti “apakah bahagia itu ketika aku mendapat kesempatan untuk pergi berkeliling dunia?” Atau “apakah bahagia itu ketika aku bisa menghadiri konser Super Junior?” Atau bahkan yang paling sederhana, “apakah bahagia itu ketika aku bisa bercengkerama dengan keluarga?” Entahlah.

Lebih dari 24 jam ini aku terus memikirkan tentang satu hal bernama ‘70’. Satu kata yang aku peroleh ketika aku menyelesaikan buku ke 27 ku tahun ini. Dalam buku berjudul The Journey 3, Windy Ariestanty bercerita tentang arti sebuah kebahagiaan menurut sudut pandangnya. Ia mengatakan pernah di suatu masa dalam hidupnya dia mendapat sepatu baru dari sang ibu. Saat itu dia berpikir ini tidak seperti yang aku inginkan. Temanku memiliki lebih baik dari ini dan kemudian dia memutuskan untuk tidak memakainya karena dia merasa sangat kesal. Hingga suatu hari sepulangnya dari sekolah ia berjumpa dengan seorang anak tanpa kaki dan berjuang menyeret dirinya di trotoar depan sekolah. Itu bukan tentang sepatu lagi tapi tentang memiliki sepasang kaki. Akhirnya sesampainya dirumah ia berpikir kembali dan memutuskan untuk memakai sepatu barunya meski dia tahu ada yang memiliki lebih baik dari itu.

Cerita ini menghentakku kembali ke suatu sore ketika aku bercengkerama dengan ayah beberapa belas tahun silam. Saat itu ayah mengajar di sekolah dimana aku juga bersekolah didalamnya. Itu hari-hari yang cukup sulit karena aku harus bersikap sebaik-baiknya demi nama baik ayah. Sore itu kami hanya duduk-duduk sambil berdebat tentang pelajaran apa yang paling kami sukai. Aku jatuh cinta dengan sejarah dan ilmu sosial sedangkan ayah akan terus bersikukuh bahwa IPA dan matematika jauh lebih mudah dan menyenangkan untuk dipelajari. Mana bisa aku menerimanya, benar-benar menyebalkan. Aku tidak habis pikir saja, bagaimana bisa aku mendapat nilai 36 selama 2 tahun berturut-turut di ujian akhir semester. Itu benar-benar menjengkelkan. Aku bisa mendapatkan yang lainnya dengan baik, tetapi kenapa tidak dengan matematika? Bahkan ketika aku mencoba menyukai seperti yang orang katakan, mengikuti les dan belajar dan belajar, tidak ada apapun yang berubah. Akhirnya, kupikir aku menyerah saja (jangan ditiru!). Aku tidak akan membuang-buang waktu lagi (sayangnya aku masih salah jurusan di kemudian hari, jadi apa itu?) dan aku akan memaksimalkan apa yang bisa aku lakukan dan sukai (semoga berhasil!). Keajaibannya aku menyukai banyak hal, jadi aku tidak perlu khawatir dengan kemampuan matematikaku yang terlampau mengerikan itu. Aku memiliki banyak lainnya.

Gara-gara nilai matematikaku yang super konsisten itu, Ayah memberikan sedikit nasehat. Saat itu beliau mengatakan, ketika beliau harus memberi nilai kepada murid-muridnya maka untuk pekerjaan yang terbaik beliau hanya akan memberi 85. Tentu itu membuatku terkejut.

“Kenapa hanya 85?”, tanyaku kemudian.

Tahu tidak angka 90 itu sudah sangat berlebihan untuk memberi sebuah nilai, begitu jawaban beliau. Tidak ada yang benar-benar sempurna, jadi 85 adalah yang paling wajar untuk nilai terbaik. Lalu ketika Windy menyebut 70 itu sebagai representasi dari kebahagiaan, entah mengapa aku menyetujuinya. Windy mengatakan bahwa 70 itu ‘cukup’ karena hal yang akan membuat kita bahagia adalah ketika kita merasa cukup. Jika saja kita menuruti semua hal, standar-standar yang ditetapkan entah siapa, percayalah semuanya akan terasa selalu kurang. Aku pun merasa begitu, kupikir 70 itu posisi ketika kita bisa bersyukur akan apa yang telah kita miliki. Tidak perlu merasa iri karena akan selalu ada yang lebih dari apa yang kita miliki. Ketika kita bisa mensyukuri apa yang kita telah miliki, percayalah hal-hal besar tak terduga akan berdatangan menghampiri. Aku membuktikannya dan aku sangat berterima kasih karena berada diantara kedua orangtua yang luar biasa. Aku tidak mengatakan untukmu berhenti bejuang diantara kesulitan. Yang aku maksudkan adalah lakukan yang terbaik dan terima hasilnya dengan senang hati.

Kesimpulannya, merasa cukup akan mendatangkan hal bernama kebahagiaan. So, feel enough and be happy. Even if you make a big mistake, be happy. You will go to the right way in the other day. Don’t worry. Satu lagi, jangan lupa untuk membaca buku. Itu dunia terbaik bagi orang-orang yang mencintai belajar, dan belajar adalah bagaimana kita akan memahami untuk merasa cukup dan berbahagia. Bye bye….

P.s By the way I miss Kyuhyun Oppa so much this time. I can’t even close my eyes till 2 AM. I become sentimental and I want to meet with him. What should I do? I think it’s because I watched New Journey To The West Season 4. Aishh jinjja! Oh yeah, his new name on NJJTW is a bit of a bitch, right? “DrunkCho”, but I like that (to see him sounds bad, kkkk).

“And what, Kyuhyun curse words sounds catchy?”

“Yeorobeun, neo jigeum michseoseo?” but I’m curious too by the way *Out of your mind*. Fine!

Actually rather than “DrunkCho” I prefer to call him “DrunkKyu”. It’s sounds more cute. The 30th cutie namja. Buing Buing…*Why I say with such a style of language, owh!*

Kyuhyun in Switzerland

Cerita Ngopi di J Coffee

Semua udah pasti tahu J Co kan ya. Nah aku punya cerita soal jalan ke kafe J Co ini. Jadi sebenarnya udah sejak lama aku pengen banget main ke J Co, cuma ya nggak pernah kesampaian aja. Aku ini jenis orang yang punya masalah kalau datang ke tempat baru bernama kafe. Masih nggak ngerti aja gimana cara order dan lainnya. You know, everyplace are different. Selain itu, J Co ini namanya internasional banget. Bahkan logo cafenya kan mirip sama starbucks jadi aku pikir pasti franchise milik negara lain lagi. Indonesia kan gitu.

Suatu hari aku membaca sebuah postingan yang nggak sengaja aku temuin di blog. Dari sana aku tahu kalau J Co ini bukan franchise asing, tapi punya orang Indonesia asli. Ow ow… I don’t know. Habis waktu aku main ke Jogja dulu, itu J Co disana isisnya bule semua, serius. Hampir nggak ada tu manusia Indonesia. Tapi kalau dipikir-pikir lagi harusnya aku curiga. Kalau itu franchise asing bukankah harusnya diminati oarng Indonesia ya? Indonesia kan gitu.

Masih inget nggak beberapa bulan lalu J Co ngadain promo spesial kan. Nah, temen aku ngajakin dateng kesitu. Akhirnya kesampain juga Tuhan itu harapan *overreacting*. Jadi aku ini punya misi untuk mencoba semua produk dalam negeri. Alasannya sih sederhana, cuma pengen tahu aja gimana produk Indonesia itu. Kenapa tidak di percayai dan bahkan dicintai masyarakatnya sendiri dan lainnya.

Kembali ke J Co, berhubung lagi promo dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya (lupa yang ke berapa) J Co ngasih diskon spesial. Pokoknya harganya jadi murah banget. Antriannya jangan ditanya, sampai kemana-mana, nggak abis-abis. Pegawainya pasti bekerja keras banget, sekitar 10 kali limpat dari biasanya, mungkin. Setelah ngantri sekitar sejam (gantian berdua sama temen aku) kita dapet kesempatan juga buat order. Saat itu kita pesen 2 dus donat sama dua gelas kopi. Kopi yang kita pesen itu coffee caramel dingin sama Matcha dingin. Tapi ampun deh aku nggak merekomendasikan kopinya. Kurang enak aja. Masih enakan kopinya Tekodeko yang aku minum di semarang dulu. Aku rekomendasiin, tempatnya di sekitaran kota tua Semarang *promo*.

J.CO-Donuts-Cebu-SM-City-Cebu-Ayala (5)

Kembali ke J Co lagi. Jadi setelah menerima pesanan dan bayar kami berniat buat ngobrol disana juga. Masalahnya itu sampah berhamburan dimana-mana. Mungkin karena pesanan membludak petugas kafe yang harusnya bersihin meja dan lantai jadi ikutan sibuk di dapur. Jadilah kita duduk diantara sampah. Temen aku sempat protes ke petugasnya dan akhirnya ada seorang petugas yang dateng bersihin sampah-sampahnya. Yang mau aku omongin adalah memangnya kenapa sih kalau buang sampah sendiri? Aku yakin ngelihat tempat sampah segede tapir di pojokan ruangan deh. Kalian tinggal buang sendiri kesana kan ya, tapi kenapa nggak ada kesadaran diri semacam itu? Ini analisnya (berdasar sudut pandang aku).

Pertama, beberapa hari sebelum datang ke J Co aku membaca berita di grup travel yang aku join di dalamnya. Ceritanya ada sekelompok orang Indonesia liburan ke Jepang. Mereka makan di kedai cepat saji. Yang menjadi masalah, budaya makan di tempat cepat saji di Jepang, pelanggan harus membersihkan bekas piringnya secara mandiri dan di buang ke tempat sampah yang disediakan. Tetapi si rombongan itu ninggalin gitu aja tumpukan piring bekas makan mereka di meja. Akhirnya itu berita menyebar satu dunia. Malu donk ya. Malah sebelum itu ada juga kasus orang Indonesia yang mukul-mukul pohon sakura biar bungannya berguguran demi photo selfie. Yang ini lebih parah karena diberitakan di media Jepang. Iyalah, bunga sakura kan dianggap sangat spesial oleh orang Jepang, jelas aja itu menimbulkan masalah serius.

Dari kasus diatas nggak beda jauh kan sama J Co. Mereka lupa kalau mereka sedang tidak berada di Indonesia. Menurut aku kalau hanya sekedar buang sampah harusnya ada kesadaran diri lah. It just a simple thing. Kalian kan bukan yang harus buang satu tong sampah, cukup sampah kalian sendiri. Apa sih susahnya? Kenapa nggak bisa melakukan, karena mereka ini tidak memiliki kesadaran diri. Mereka merasa saya dateng ke sini, bayar mahal , kenapa masih saya juga yang harus bersihin *typhically Indonesia*. Kira-kira begitu isi pikiran mereka. Orang Indonesia itu terlalu banyak dilayani jadi tidak memiliki kesadaran bahkan untuk hal yang sederhana sekalipun. Selain itu, mereka menganggap siapa yang punya uang lebih banyak bebas berlaku seenaknya kepada mereka yang berada dibawahnya. Gimana nggak bikin masalah di negara orang, wong kelakuannya di Indonesia aja kayak gitu. Habits teman-teman, kebiasaan yang mendarah daging itulah masalah orang Indoensia. Memang susah untuk dihilangkan, apalagi kalau dibarengi ketidakniatan di dalam hati. Kombinasi yang sempurna sekali. Tetapi hal seperti itu masih bisa diubah kok, asalkan mereka mau untuk berubah. Masalahnya ya karena nggak peduli itu. Jadi…

Lanjut lagi ke J Co, jadi karena kesel dan kasihan juga sama petugas kebersihannya aku pikir kenapa nggak aku buang sendiri aja ke tempat sampah, toh cuma 1 biji gelas plastik doank. Akhirnya aku putusin buat buang sendiri, sekalian melatih kedisiplinan, biar nggak malu-maluin negara kalau lagi jalan di negeri orang. Begitu aku buang sendiri itu sampah, ditanya aku sama temannya temenku, “memang harus buang sendiri ya?”. Aku jawab aja pakai jurusnya Trinity “Kenapa enggak?”. Masih punya tangan ‘kan? Walaupun dari negara berkembang, tunjukkan kalau kalian itu berbudaya. Coba deh, mulai hari ini kalau dateng ke kedai cepat saji kalian buang sampah kalian sendiri ke tempat sampah. Nggak akan bikin patah tulang kok apalagi kena bakteri E-Coli. Jadi, ayo tunjukin kalau kalian ini bermartabat. I’m a person with a good manner even I’m from developing country. Jangan sampai kebiasaan kecil ini akan membawa Indonesia diolok-olok oleh negara lain lagi di masa depan. Budayakan malu and see you next time.

What do you think? Write your opinian please!

P.s I’m back. Nobody await me but I’m back and I said to my self not you, fine.

AIRPLANE 3: Terkesan…Bling Bling

Waktu berlalu dan ini tahun ke 5 menuju 6 ku dari 11 tahun perjalanan Elf. Aku masih disini, tentu saja. Tidak mudah untuk berpaling, bukan? Namun, bukankah dalam setiap perjalanan perjumpaan dengan orang baru dan hal baru adalah sesuatu yang wajar? Itulah tempat kita belajar ditengah perkembangan zaman yang berubah nyaris setiap saat. Menyukai hal baru bukan berarti melupakan yang lalu. Jadi, Selamat Ulang Tahun yang ke-11 ELF. Kalian mengesankan. So, what’s new?

IKON.

Itu mereka, jika Super Junior adalah kapanpun maka Ikon adalah sekedar ingin mampir. Mereka adalah salah satu tempat belajar yang cukup oke. Sempat aku blacklist ini boyband karena takut terpesona tetapi apa daya, mereka berbahaya dan yah… Sulit menampik pesona mereka, bukan?

Lalu alasan aku memilih IKON? Awalnya aku pikir aku menemukan Super Junior didalamnya, tetapi Super Junior memang tidak bisa ditemukan dimanapun selain di dalam Super Junior sendiri. Just like One of Kind. Sedikit persamaannya mungkin, mereka sama-sama kurang disukai di pasar korea dan lebih dicintai di pasar global, down to earth, memiliki sisi humor yang kuat dan skill variety show yang baik (suju lebih baik sebetulnya tapi mereka lumayan), serta membuatku jatuh hati (walau sekarang tidak lagi). Point lainnya, usia kami tidak berbeda jauh. Dari 7 member IKON, 3 diantaranya lebih tua satu hingga dua tahun dariku, 1 seusia dan 3 lebih muda dengan rentang yang sama, 1 hingga 2 tahun. Sehingga tidak heran jika banyak diantara pemikiran kami yang sejalan.

Kalian mungkin nonton acara seperti WIN (Who Is Next?) atau Mix & Match. Di sana kan mereka kelihatan masih…ya samalah seperti kita di rentang usia yang sama, awal 20 an. Emosi yang masih kemana-mana, problem-problem besar yang membuat kita pengen nyerah aja, masih suka stress atau kabur sesaat untuk menghindari masalah dsb. We have similar problem. So, it is easy to understand them. Dibandingkan dengan Super Junior, jelas berbeda sekali. Gap usia antara aku dan maknae (member termuda) mereka aja 9 tahun dan yang paling tua 13 tahun. Jadi, tentu bagaimana mereka bertindak sangat jauh berbeda dengan kita yang masih diawal 20an. Menariknya, usia 30an itu memiliki sudut pandang yang unik dan seru untuk diikuti. That’s why I stand beside them till now.

Memiliki kesamaan bukan berarti tidak memiliki perbedaan, bukan? Begitu juga IKON dan Super Junior. Jika Super junior membawaku mencintai lebih banyak hal di dunia, maka IKON mengajarkanku lebih dalam tentang musik yang dulunya tak kuketahui. Jelas saja, aku tidak memahami aliran musik mereka (lebih tepat disebut sense musik aku zero) diawal waktu, karena sangat berbeda dengan selera musik yang aku minati. Namun, di sanalah ketika untuk pertama kalinya aku mempertanyakan banyak hal tentang dunia musik karena aliran musik mereka yang tidak familiar untukku. Hal-hal kecil seputar pembagian lagu seperti intro, outro, reff hingga perbedaan antara track dan final track, sketsa musik, seluk beluk hip hop, how to make music, lyric, dan banyak lainnya. Banyak istilah-istilah baru di dunia musik yang akhirnya aku tahu berkat IKON ini (+review dari para pengamat musik). Mereka kan composer jadi expert sekali masalah begituan.

Beberapa waktu lalu, IKON meluncurkan album keduanya setelah Welcome Back Half ver dan Full ver yakni New Kids: Begin. Album ini terdiri dari 4 lagu Bling Bling, B-day, Bling Bling Intrumental ver dan B-Day Instrumental Ver. Di album baru ini IKON kembali menunjukkan sisi hip hop mereka yang kuat dan memang telah menjadi ciri khas IKON sejak sebelum debut. Sayangnya lagu ini tidak mendapat respon baik dari pendengar.

iKON-bling-bling-teaser

ikon_1495156330_DAJpv4YUwAEsSGz

Jujur aku sendiri kurang suka dengan Bling Bling karena lagu ini terdengar sangat datar dan tidak ada catchy point-nya, kecuali rap Hanbin di awal lagu yang banyak bahasa inggrisnya. Entah mengapa tiba-tiba skill English-nya Hanbin yeah...This is how we celebrate man. Sampai deg-degan nggak jelas tiap kali denger part itu. Sebenarnya aku menyukai komponen musik dan dance mereka di Bling Bling yang menurut aku trendy dan fresh, tetapi reff part-nya nggak addictive sehingga banyak orang mengatakan lagu ini sangat annoying.

Lalu bagaimana dengan B-Day? Untuk aku, lagu ini catchy banget. Melodinya lebih menyatu daripada Bling Bling dan jelas dia memiliki point reff yang lebih addictive. Ide lagunya menurut aku mirip dengan Mr. Simple dan Sexy Free & Single-nya Super Junior. Tentang hal-hal yang dilakuin anak muda di usia itu. Untuk pendapat member IKON, kebanyakan dari mereka sebenarnya lebih pro ke Bling Bling, cuma Bobby yang suka B-Day. Konsepnya sama, tentang party cuma B-Day itu menurut Bobby semacam beatnya dapet dan cocok buat musik klub (punya sense untuk membuat orang ngedance) (source: Pops in Seoul). Karena aku pun lebih pro ke B-Day, jadi aku punya pandangan yang sama kayak Bobby. Aku suka lagu-lagu yang punya sense ribut, semacam tiap denger pengen langsung gerak, ngedance-ngedance nggak jelas gitu. Aku kan rada laidback jadi butuh yang begituan. Namun, lagi-lagi lagu ini dianggap annoying. Jajeungna. Mereka disebut-sebut netizen gagal total dan mencatatkan sejarah terburuk di YG.

Sudut pandangku, menganalisis beberapa komentar yang ditulis oleh K-Net menurut aku lagu ini nggak diterima dengan baik karena 2 hal. Pertama, di album ini IKON menonjolkan konsep awal musik mereka dan itu bukan jenis musik yang disukai pasar Korea. Sesuai judul albumnya New Kids: Begin. Jadi ya memang baru dan sepertinya itu  jenis yang sekali lagi kurang diminati di Korea tetapi cukup dicintai pencinta musik global. Buktinya lagu mereka memuncaki I Tunes di 10 Negara. Mungkin orang korea itu sukanya yang jirit jirit macam SIGNAL, molla.

Kedua, IKON melakukan promosi panjang di Jepang dan terkesan mengabaikan Korea (konser DOME di Kyocera Dome dan Seibu Prince Dome pada Februari 2017 yang dihadiri 90.000 penggemar). IKON ini disebut-sebut sebagai grup yang paling cepat menggelar konser Dome. Kebanyakan, sebuah idol grup di korea baru akan menggelar konser, apalagi dome ketika anniv ke 2 atau 3 mereka. Selain itu, mereka juga disambut lebih hangat di Jepang dan itu beralasan jika mereka memfokuskan diri untuk promosi di Jepang. Menjangkau yang pasti (paling menguntungkan) dulu lah istilahnya (konsep dasar ekonomi). Tentang promosi panjang mereka di Jepang, mereka sendiri mengakui kalau mereka memang lebih banyak melakukan promosi overseas. Jadi, dengan dirilisnya album baru ini, IKON ingin lebih banyak melakukan promosi di Korea, tetapi sayang sekali sambutannya kurang menyenangkan.

Nah, yang aku takutkan adalah lagu ini down di situs musik Korea karena sentimen anti Jepang yang kental di Korea. Aku pernah membaca disebuah buku tentang do and don’t di Korea Selatan dan salah satu hal yang tabu dibicarakan kepada orang Korea Selatan adalah Jepang. Korea Selatan dulu sempat diinvansi oleh Jepang sehingga mereka sangat sensitif sekali jika menyangkut Jepang. Contoh paling sederhananya adalah tentang penyebutan bunga Sakura. Orang Korea sangat benci istilah bunga sakura karena itu sekali lagi mengandung unsur Jepang. Mereka memiliki istilah sendiri untuk menyebut bunga sakura, tetapi aku lupa sebutannya apa. Check by yourself.

Pernah juga beberapa tahun yang lalu Jepang menanamkan Investasi di LOTTE dan akhirnya LOTTE malah di demo dan diboikot oleh warga Korea Selatan. Ini artikel yang aku tulis tentang pemboikotan LOTTE. Jadi, mereka ini sentimen anti Jepang-nya sangat kuat. Mereka bisa hidup berdampingan namun ingatan akan Invansi Jepang selalu membuat mereka berang. Mereka tidak mendiskriminasi orang Jepang kok, buktinya ada beberapa anggota girl grup ataupun boy grup dari Jepang dan mereka biasa aja. Cuma ya, mereka sensitif aja sama topik Jepang.

Agak beda ya sama negara kita. Kalau Korea bersaing, kita malah baikan sama Belanda dan Jepang setelah dijajah habis-habisan. Hipotesis aku sih karena Korea bisa melampaui Jepang di banyak sektor sekarang ini, jadi mereka jelas memiliki confident lebih untuk bertarung dengan Jepang. Hal itu berbeda dengan Indonesia, kita kan ketergantungan sama Jepang jadi ya….gimana mau fight? There is no space to do, right?

Kembali ke IKON, yang aku takutkan adalah album barunya IKON tidak disambut baik ini dikarenakan oleh sentimen itu disamping aliran musik mereka yang tidak disukai. Tentang kecemburuan K-Fans yang merasa di nomor duakan oleh IKON. Aku sempat membaca komentar yang mengatakan “Kalian promosi panjang di Jepang, mengabaikan pasar korea dan begitu comeback berharap disambut baik? Jangan bermimpi, kalian bukan Big Bang.” Tidak hanya satu, ada banyak sekali komentar serupa. Paling banyak sih soal annoying song (Bling Bling and B-Day).

Ini hipotesis aku aja, faktanya bisa saja berbeda. Namun, bagaimana pun IKON keren sekali di comebacknya kali ini. Koreografi dancenya lebih atraktif dibanding koreo dance di lagu-lagu lama mereka. Musik mereka juga jauh lebih ngebeat, kreatif dan tentu IKON banget. Yeay, ketika IKON kembali menjadi IKON. Welcome Back. Terus, ide lebahnya itu di MV B-Day (lagunya emang ngomongin lebah sih).  Ya ampun, cute sekali dan mengingatkan aku ke kartun masa kecil yang pernah aku tonton dulu, Ha…ha…haji…ani…hachi. Pokoknya itulah cerita tentang si lebah dan ibu lebah itu loh yang katanya bikin orang nangis keras, tapi sukses bikin aku ketawa jahat. Eh tunggu, tadi sempet cek satu MV reaction soal lagu ini dan baru sadar, judul lagunya B-Day kan? Terus isi lagunya tentang lebah-lebah gitu. Bahasa inggrisnya lebah kan Bee. That’s why it’s called B-Day (similar intonation). Ah, i got it.

Satu lagi di MV B-Day yang membuat aku terkesan, soal kanguru dancenya itu. So, chic. I think it’s also the point dance. Aku curiganya ini Koreo terinspirasi dari acaranya Hanbin sama Jihwan Mari and I. Disana kan mereka merawat kelinci, nah ini koreo rada mirip pose kelinci juga kalau lagi waspada. Juga ide soal jajanan pasar korea (I don’t know the name) di MV Bling Bling, nice promotion. Meskipun Bling Bling identik dengan baju yang dipakai JYP tetapi IKON, you may not win on Music Show this time, but you know… you are BLING BLING too. Your music is BLING BLING. So, don’t worry to stay BLING BLING.

QueenDya

AIRPLANE 2: PERKENALANKU YANG TERLAMBAT

Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, sungguh, tetapi ini tahun ketigaku di dunia blog dan aku bahkan belum sekalipun memperkenalkan diriku. Jadi, bagaimana dengan memperkenalkan diriku terlebih dahulu? Tidak? Bagaimanapun aku akan melakukannya. Kalian tidak lihat judul tulisanku, itu tentang perkenalan dan aku akan melakukannya.

My name is Widya, W i d y a (spell in english!), tetapi sejak 5 tahun lalu aku memilih menggunakan nama koreaku (Han Yong Ra) di semua akun media sosialku dan entah bagaimana setiap orang mulai memanggilku demikian bahkan di kehidupan sehari-hariku. They always call me like that.

Aku jenis orang dengan pemikiran yang sedikit aneh dan nyentrik, seperti aku lebih menyukai jika orang-orang memberiku hadiah satu kardus cotton bud dari pada buket bunga di hari-hari spesial. Aku tidak menyukai ceremony wisuda karena itu menumpuk banyak sampah dan ketidaksadaran semua orang akan menyusahkan para petugas kebersihan. Sial, so disgusting. Kupikir lulus saja cukup (your experience and knowledge is more important), tidak perlu berfoto disegala penjuru dengan toga, buket bunga, dan calon pendamping hidup yang mendekap mesra. Tidak perlu (in my opinion). Selain itu, aku menyukai hal-hal yang penting dan aku sedikit ‘Wangja (Yang Mulia)’ like full of myself. Aku juga lebih menyukai kata “ingin” daripada “harus” karena itu menunjukkan bahwa aku memiliki pendirian dan tentu aku memahami koridornya. Aku cukup straightforward dan mencintai banyak hal khususnya negara-negara di dunia dan laki-laki tampan di usia 30an (astaga aku membicarakannya, kukira aku hanya menyebutnya dalam pikiranku).

buket-peach-4
 flowerbe.co

Sejauh ini aku tidak merasa diriku keren, hanya saja aku menyukai dunia yang kuciptakan dan aku merasa itu cukup bisa kusebut keren (self hypothesis). Aku jenis orang yang tidak memiliki cukup banyak teman karena aku terlalu sering bercengkerama dengan pikiranku juga tumpukan bukuku yang bahkan tidak memiliki 1 detik waktu pun untuk menghakimi, namun dengan senang hati berbagi pengetahuannya denganku. Terdengar antisosial memang, tetapi bukan itu, aku hanya introvet (pemilih) atau lebih tepatnya disebut Weird Introvet (pemilih yang aneh).

Aku tidak tahu apa ini berlebihan, tetapi aku banyak membaca buku dan itu membuatku cukup analitis dalam banyak hal (kamu harus membiarkan orang lain yang mengatakannya Widya). Aku tahu itu benar-benar wangja tetapi begitulah aku merasakan diriku. Aku mencintai banyak hal, mulai dari hal sederhana seperti yang sudah kukatakan tadi, cotton bud hingga hal-hal menyenangkan (new knowledge, travel, language, coffee, etc), serius (Hukum, kedokteran, psikologi) dan sangat serius seperti politik, humanistic, science, dan filsafat. Keterbatasanku dimasa lalu lah yang menumbuhkan rasa penasaran dalam diriku yang pada akhirnya membawaku membuka diri untuk mencintai banyak hal.

Bud1
http://www.nubimagazine.com

Tunggu, kamu bertanya seberapa terbataskah?

Uhm…bayangkan saja daerah pedalaman terisolasi. Itu deskripsi paling realistis dari kampung halamanku. Cobblestone street (jalan batu) and no internet access. Yang aku ingat, jika aku tidak pernah berjumpa dengan buku juga pengalaman traveling yang ditawarkan ibuku maka aku mungkin masih akan hidup dibawah batu sekarang. Big thankful to my beloved eomma. Mungkin juga aku tidak akan memiliki kesempatan berteriak “Oppa, neomu paboya”, “Michigeda”. Jangankan itu, kabar negaraku saja, tidak yakin aku mendengarnya tepat waktu, apalagi kabar dari negara lain. It sounds just impossible, but…I make it. Jika harus menyebutkan my hwa ya yeong hwa (the most beautiful moment in life) maka itu adalah pertemuan pertamaku dengan buku dan traveling belasan tahun lalu. Terkadang sulit untuk mempercayainya tetapi ini nyata, dan aku melihatnya. Itu selalu terdengar luar biasa untukku.

Seperti yang sempat kusebutkan diatas, aku cukup aneh dan banyak orang bertanya-tanya mengapa aku demikian. Baiklah, aku akan menjawabnya. Hal yang membuatku terdengar aneh ada dua hal. Pertama, aku membaca banyak buku dan aku mengoleksi banyak pengetahuan dan info terbaru. Side effecnya banyak orang tidak bisa mengerti jalan pikiranku karena perbedaan kebiasaan. Aku tidak sedang menyebutkan bahwa aku smart dan rajin. Aku cenderung malas dan laidback namun confident dan curiosity-ku lah yang membuatku terdengar seperti aku mengetahui banyak hal. Setiap kali aku membaca, yang aku rasakan adalah aku semakin tidak tahu karena setelah selesai membaca aku akan mempertanyakan hal itu. Kemudian ketika itu terjawab dia akan kembali menciptakan pertanyaan lainnya, terjawab lagi, timbul pertanyaan lagi dan begitu seterusnya.

Kedua, aku cukup imajinatif dan tidak menutup kemungkinan aku berpikir sangat dalam tentang keanehan. Sialnya, terkadang aku tidak bisa menyembunyikannya dengan baik dalam otakku dan malah membicarakannya dihadapan orang lain, dari sanalah kemudian mereka menilaiku aneh karena apa yang seharusnya hanya kuimajinasikan malah aku bicarakan dihadapan kelompok orang normal. Tentu saja aku di cap aneh. Sangat beralasan.

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, pemikiranku sulit untuk dimengerti orang lain. Sekali lagi aku membaca banyak buku dengan beragam genre dan itu meningkatkan kepekaanku juga wawasanku. Dari sana aku mulai menggelisahkan banyak hal yang berdasar banyak buku yang kupelajari tidak sesuai tempat. Terkadang aku bisa secara instan dan cepat menempatkan diriku untuk memahami, namun ada kalanya aku mengkritisinya cukup dalam dan aku belum bisa mengatakan “Ah igeo gwenchana (Ah, ini tidak apa-apa), aku bisa menerimanya”. Akhirnya aku bersikap – yang dianggap orang lain sebagai keluhan.

Dari sana aku mendapat banyak pelajaran nyata bahwa, memang tidak mudah bersikap empatik. Itu terlalu seperti mimpi. Men-judge dengan kecepatan cahaya memang lebih mudah dilakukan (dan memang banyak dilakukan) dari pada mendengar secara empatik, Kalian mungkin tidak sadar bahwa kalian sedang memaparkan autobiografi kalian pada masalah orang lain. Padahal berdasar pengamatanku “Satu masalah yang sama, yang terjadi pada dua individu berbeda tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama karena faktor pendukungnya yang juga berbeda pada setiap individu”. Jadi, tolong telusuri lagi jika kalian memberi nasihat pada orang lain.

“Oh, apakah aku telah mendengar secara empatik ataukah aku sedang memaparkan autobiografiku yang tidak ada menarik-menariknya itu. Damn, that’s terrible.”

Jujur, aku juga pernah melakukannya dan aku memperbaikinya.

Aku punya cerita aneh, jadi aku sedikit bermasalah dengan dosen pembimbing Tugas Akhirku. Beliau ini lebih menyukai jalan yang berkelok-kelok meskipun ada jalan lurus yang bisa memangkas waktu tempuh. Aku selalu bertanya AADB (Ada Apa dengan Beliau?). Ini merugikanku dan aku tidak bisa menerimanya. Kami sama-sama sibuk dan jika kami bisa sama-sama mengefektifkan waktu, jelas itu akan menjadi keuntungan menarik bagi kedua belah pihak. Herannya itu tidak bekerja. Kupikir budaya negaraku memang demikian.

Lebih menyebalkan lagi, beliau mengkritik hal-hal tidak penting seperti kenapa aku tidak menghadiri seminar A dan lainnya? Kalau begitu aku juga ingin bertanya “mengapa aku harus melakukannya (menghadiri seminar)? Aku mengetahui adanya seminar itu tetapi aku tidak berpikir itu menguntungkanku. Seminar tentang kecap.

Sejauh ini aku selalu memilih banyak hal dengan intuisiku dan aku merasa itu tidak akan menarik. Faktanya, itu bahkan tidak meleset sedikitpun. Oh ayolah, si seminar kecap itu, yang memaparkan cara pembuatan kecap. Aku bahkan telah mendengarnya selama satu semester penuh dan saking muaknya aku bahkan tidak bisa memakan kecap lagi.

Aku ingin bercerita satu hal lagi, dalam buku The 7 Habits for Highly Effective People, Steven menyebutkan tentang lingkar pengaruh atau menciptakan lingkar pengaruh. Itu terdengar sangat menarik dan aku pikir itu bisa menjadi salah satu solusi masalahku, akhirnya aku memutuskan untuk mencobanya.

-skip-

Hasil akhirnya, itu berhasil pada banyak orang dan yang paling membuatku surprise dan ingin kuceritakan adalah uji cobaku dengan ibuku.

Kami jenis orang yang aneh (indeed). Ibuku cukup terbuka namun dibeberapa topik masih sering membawa pengalaman masa lalunya (generasi X). Sedangkan aku, cukup terbuka juga namun dalam beberapa hal kami benar-benar akan sangat sengit meskipun kami bercengkerama yang sesekali disisipi tawa. Berdasar hasil pemindaian diatas, akan sangat menarik jika aku berbicara dengan warna baru pada beliau demi menuntaskan rasa penasaran yang terkadang membuatku tercekik.

Mulailah aksi remake ala-ala Widya zaman masih jadi anggota reporter majalah SMA dulu. Aku bikin tuh daftar pertanyaan seperti ketika kita akan mewawancarai seseorang yang cukup berpengaruh. Telepon kami tersambung dan aku mengawalinya dengan menyepakati MOU. Setelah kami saling memahami peran kami masing-masing, mulailah prosesi tanya jawab itu. Singkat cerita, kami sama-sama straightforward dan aku mendapat semua jawaban yang kuperlukan.

Waktu berlalu dan teleponku berdering kembali, namun seperti yang sudah terduga, aku melewatkannya. Aku cenderung tidak menyukai ponsel karena aku merasa terganggu dengan keberadaanya dan aku selalu melupakan dimana aku meletakkannya. Beberapa jam kemudian aku menyadari notifikasi panggilan tak terjawab di ponselku, Eomma (bunda). Aku memutuskan untuk memanggil kembali, seperti biasa beliau selalu menjawabnya setepat jadwal sholat lima waktu. Percakapan kami mengalir dan tiba-tiba beliau menyampaikan banyak hal. Tahu apa, aku terkejut karena mendapati beliau yang empatik. Beliau menyebutkan banyak referensi yang dibacanya dan mulai memahami jalan pikiranku yang terlihat selalu melenceng di mata orang lain. Itu menarik dan disisi lain aku mendapat momen yang tepat untuk mengekspresikan diriku. Aku berhasil menciptakan lingkar pengaruhku dan kami berjalan di titik yang sama winwin solution.

Ini bukan pertama kalinya winwin solutionku berhasil, namun ini yang paling luar biasa dan aku cukup terkejut. Kami memiliki gap generasi yang tidak tanggung-tanggung jauhnya. Generasi X akan memuja pengalaman hidupnya yang dipenuhi dramatisme pasca penjajahan, sedangkan generasi milenial percaya dengan dunia milenialnya yang tentunya sangat jauh berbeda dengan generasi X. Kemudian ketika kami bisa menyepakati winwin solution, itu terdengar seperti keajaiban saja. Terkadang sulit untuk mempercayainya namun ini menyenangkan, seperti kami sedang berkemah di bawah pohon skaura di musim semi. Nilai plusnya, masalah teratasi.

Aku masih memiliki banyak hal untuk kukatakan tentang diriku, namun kupikir ini cukup untuk sekedar perkenalan. Jadi, tarik kesimpulanmu sendiri. Itu akan membantumu berpikir, dan berpikir akan membuka duniamu yang berkabut. Selamat mencoba, selamat berpikir dan senang berkenalan dengan kalian. Terima kasih untuk mengunjungi duniaku yang aneh ini. Ini membuatku tersentuh. Kiss ya…Cherioo..

P.s For my close friend Haha, Please, forgive me to be a wangja. Kemudian kenapa gambar utamanya kereta? Karena kereta perlu menempuh perjalanan selama beberapa waktu untuk sampai di tujuan dan aku juga sedang melakukannya. Melewati kantor imigrasi dan check in sebelum memasuki pesawatku yang akan take off sesuai jadwal keberangkatan. Hey, Mr. Airplane

AIRPLANE 1: CINTA ITU…KEBINGUNGANKU

Diantara banyak hal yang tidak kupahami, cinta adalah salah satunya. Aku pernah menonton sebuah drama Taiwan di tahun 2012 lalu yang mengisahkan tentang seseorang yang ingin menjadi Idol. Drama yang karenanya membuatku membenci Donghae oppa dikarenakan pendalaman perannya yang membuat frustrasi. Pada akhirnya aku berhenti melihatnya karena kehabisan kata makian. Kembali ke drama tadi – Skip Beat, sebagai idol tentu dia membutuhkan sebuah cinta, cinta dari para penggemarnya. Namun, hal yang melatarbelakangi mimpinya tersebut adalah keinginannya untuk membalas dendam masa lalunya, dan semuanya hanya menjadi kekacauan belaka. Akhirnya, dia belajar banyak hal dan mencari makna dari sebuah cinta. Aku tidak yakin apa dia mendapatkannya atau tidak karena drama itu berakhir dengan tanda tanya.

Pelajaran yang bisa diambil dari drama ini tentunya kita sebagai manusia memang membutuhkan cinta, mungkin, atau lebih tepat dikatakan berbagi cinta. Entahlah. Bagi banyak orang love is interesting but for me love is like depresing and confusing. So, I don’t think I understand…

By the way, tentang cinta para penggemar itu, aku jadi keinget iKON di WIN sampai Mix & Match. Disitu terbukti bahwa cinta para penggemarlah yang akhirnya menyatukan iKON setelah drama dua kali perang saudara. Yang Hyung Suk Sajangnim, terima kasih untuk pertunjukkan yang sangat sentimental dan adegan hilangannya kepercayaanku pada produk penghilang mata panda. Ini gagal, aku melihatnya dibalik cermin. Ouh…sangat mengerikan.

Sedikit tentang iKON, mereka ini luar biasa sekali perjuangannya untuk debut karena kisah sukses dua kali perang saudara yang diadakan Yang Hyung Suk Sajangnim. Astaga, sampai sekarang masih kesel banget dengan sistemnya YG ini. Meskipun bisa di cerna dengan jelas maksud dan tujuannya namun, tetap saja sistemnya lumayan kejam. WIN (Who is Next?) itu sangat kompetitif, sentimental juga tetapi M&M jauh lebih kejam. Bagaimana jika kalian yang awalnya berada di satu tim yang sama, berjuang bersama selama berbulan-bulan kemudian kalah dan diadu dengan teman satu tim? Masih gitu ada penambahan 3 orang baru dan hanya 3 dari 6 member lama yang dipastikan lolos. Padahal perjuangan mereka di WIN udah nggak kehitung lagi, belum lagi ditambah training biasa yang mereka jalani selama 2.5 tahun. Pada akhirnya aku paham alasan kaburnya B.I selama 4 jam. Kita yang nonton aja ikut frustrasi, apalagi mereka yang menjalani. iKON jjang!

wpid-screenshot_2015-10-11-17-06-40
iKON – AIRPLANE

Untuk aku, iKON ini sebenarnya sama membingungkannya dengan cinta, tidak bisa aku pahami. Pertama kali jatuh cinta dengan Winner (pemenang WIN), aku pikir Winner itu sudah cukup luar biasa dan pastinya aku masih memahami aliran musik mereka, tetapi iKON, they just like danger flowers in spring day.

tumblr_nvw6w0YMBU1qamp90o4_1280

Saking takutnya jatuh, aku pernah mengatakan ke temanku bahwa aku nggak ingin lihat iKON karena mereka terdengar berbahaya… berbahaya untuk masa hidup memori laptopku yang nyaris tak terselamatkan lagi. Namun, Pesawat (Airplane – salah satu judul lagu iKON) itu membuatku jatuh… jatuh pada pesona mereka. Hey Mr. Airplane.

tumblr_nvw6w0YMBU1qamp90o3_1280

Lucunya, Hip Hop yang dulunya tak ku pahami, akhirnya malah membuatku kalang kabut terpesona. Rhythm Ta-nya catchy-able, WYD-nya spring-able. Airplane-nya…Astaga gue udah di conter check ini, Cuma masih cek cok aja sama petugasnya yang sialan itu.

잠깐 멈춰봐 비가 오잖아
바람 불잖아
지금 가면 위험하니까
Hey Mr. Airplane
잠깐 멈춰봐 시간 많잖아…

[TRANS]
Berhenti sejenak, hari sedang hujan
Angin bertiup, akan berbahaya jika kamu pergi sekarang
Hey Mr Airplane
Berhenti sejenak, ada banyak waktu…

Tolong tunggu aku.

Kembali ke cinta, entah mengapa, menghadapi orang yang tidak menyukaiku terasa jauh lebih mudah dapipada orang yang membagi cintanya untukku. Itu membuat depresi, sungguh. I think a lot about it and I just more confuse than understand. Temanku pernah menulis di akun twitternya “Terlalu lama mandiri, akan membuatmu bingung begitu bertemu dengan cinta”. Entah bagaimana, itu terdengar benar.

Aku sempat mengirim pesan ke dia yang isinya “Oh, merinding”.

Terus dia bales “Serem ya?”

“Mimpi buruk.”

Kalau dipikir lagi, rasanya lebih mudah berbicara tentang filsafat dan politik daripada cinta. Lebih mudah lagi untuk beramah tamah dengan haters daripada lovers because haters make me thinking, but lovers make me confusing. Tidak perlu jauh-jauh berbicara hingga cinta, tersenyum saja aku pernah berlatih private ke seseorang dan itu benar-benar terasa sangat lucu sekarang. Hey, mungkin kamu masih ingat, Sanggar Tari Srikandi, jam 4 sore untuk syuting film tugas akhir kita “Me and K pop”.

Berbicara tentang film ini, ada cinta juga diantara kita…Yesung oppa, bogoshipda. Kyuhyun oppa…ppali na ga…25 5 2017 – 25 5 2019. 내가 있잖아 (I’m With You).

Forget it. It just too embarrassing. I can’t even watch my face after watched that movie. The amazing one is I still love it. Chingu-ya bogoshipda. Nonton film ini bareng-bareng yuk 10 tahun lagi, aku pastikan kita akan mengalami diare 7 hari saking cringing-nya. Don’t forget to prepare your medicine.

Okay, Let’s finished right now, cinta… aku menyerah tetapi aku akan mencari titik yang bisa kupahami, Hey Mr. Airplane. Thanks for everyone who give their love to me. Saranghamida. La li la di dada la li da…

Itu ceritaku tentang cinta, neo?

P.s Tentang kenapa Mr. Airplane, itu karena pilotnya diasumsikan (sialan bahasa teknik kimia) laki-laki.

Upcoming Teaser: AIRPLANE ✈

Sulit dipercaya, “Patah hatilah jika ingin menjadi penulis hebat”. Jadi katakan, pernyataan bodoh macam apa itu? Aku bahkan sangat yakin masih mengutuknya dari satu bulan lalu hingga satu menit yang lalu tetapi…Baiklah, kukira aku patah hati pada akhirnya. Ya, aku patah hati…Patah hati pada segala hal, kebijakan di negaraku, diriku, buku-buku yang tak juga kutahu sisinya, dan mereka yang tidak bisa kupilih diantaranya. Pada akhirnya aku memilih keduanya, untuk tersipu sesaat dan menjauh. Kembali berlalu pada ketinggian yang kuhitung. Jauh diantara kekacauan dan sendunya langit senja, juga kelap kelip lampu yang mengucap perpisahan. – Airplane.

Aku mencintai kereta, itu benar tetapi,…Bukankah kita sedang berbicara tentang siapa yang jauh lebih cepat. Aku ingin yang paling cepat diantara semuanya. Sesuatu yang membawaku jauh tinggi meninggalkan segala kapenatan ini. Membuatku melihatnya sebagai hal kecil tak berarti. Aku melepasnya, bisakah? Tidak, aku tidak bertanya apa kau menyetujuinya. Aku memutuskannya, melepas genggaman yang telah lama mencekikku erat. Aku hampir kehilangan nafas kau tahu, terlalu sesak. Bahkan jika kau menawarkan sebuah pelukan, aku memilih untuk berlari pada kemungkinan yang tidak ku tahu. Aku hanya berharap itu lebih baik, lebih baik daripada aku tercekik mati secara perlahan dalam harapan. – Airplane.

Pesawatku menanti… ✈

5 Detik Kedua

Setidaknya ini sudah 20 tahunan saya hidup di Indonesia, berbaur dengan masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang. Namun… iya, namun ada beberapa hal yang masih nggak bisa aku mengerti sampai hari ini, bahkan untuk aku yang orang pribumi yakni “hobi orang Indonesia men-judgement tanpa berpikir, yang mulia, dan selalu ingin ikut campur masalah orang lain”. Nggak ngerti aku topik begituan.

Pernah suatu waktu ada beberapa orang yang dengan berkoar-koar membanggakan pem…em…em…a karena mereka dekat, bisa saling berkirim pesan dan sesuatu se…se..hmm…umm itu lah. Mereka bercerita terus tanpa henti seakan kami nggak memiliki moment semanis mereka. Pamer lah istilahnya dengan nada-nada yang menggembung tinggi. Saking tingginya leher aku mungkin bisa patah karena terlalu banyak mendongak. U…u…dimana itu, nggak kelihatan. Wuihh!! tinggi banget.

Apa saya terpesona?

Wah, dia terlalu keren sampai tidak bisa dikategorikan lagi. Wah, gue iri sampai mau gila. Daebakk!!! Nggak ada tiganya itu. Keren banget loe, dll.

Sepertinya respon seperti itu yang (mungkin) saja diharapkan sama si pencerita. Ini masih mungkin, jadi bisa saja berbeda. Tetapi…sekali lagi, apa saya terpesona?

OH MAY GOODNESS! AKU NGGAK PENASARAN. UAHAHAHAHA…HA…HA. AKU NGGAK PENASARAN. SERIUS, AKU NGGAK PENASARAN, terus ketawa sampai mata berair.

Itu responku sebenarnya, tetapi karena budaya ketimuran tidak bisa straight forward begitu saja, maka biasanya aku senyumin aja. Paling banter aku cerita ke bunda dengan nada datar tanpa emosi, tetapi bundaku ketawanya malah lebih seru. Aku-nya kedip-kedip doank sambil merenung “sial mamiku lebih heboh, runner up donk aku.”

Kejadian aneh kedua adalah soal tindakan-tindakan mencampuri urusan orang lain. Nah, ini lebih aneh dari yang pertama. Suatu hari aku mendapat beberapa pesan yang isinya kalimat-kalimat kepedulian dari beberapa orang yang berbeda. Yang satu, kita lumayan berbicara banyak, yang satunya lagi sinisnya minta ampun sama aku. Aku nggak ngapa-ngapain pun disinisin sama dia. Lah, patut curiga donk saya. Ada badai apa wahai Tuan Paduka?

Lucunya, mereka ini ternyata ngomongin masalahku yang bahkan aku sendiri aja nggak tahu dan merasa tidak ada masalah. Akhirnya, bingung kan aku harus memberi balasan seperti apa maka aku balas aja…

“Iya.”

Entah apa yang aku iyain. Yang pasti kalimat itu akan mengakhiri argumen-argumen kedepannya. Yang aku tangkap dari fenomena ini, sebenarnya mereka ini mau peduli, sepertinya. Terlepas tulus atau tidak. Hanya saja, mereka salah betindak dan malah jadi annoying. Aku nggak tahu apa aku pernah melakukan hal semacam itu dimasa lalu, tetapi aku sendiri nggak punya minat untuk mencampuri masalah kalian, dengan harapan kalian mau melakukan hal yang sama. Tetapi…ya.

Kejadian aneh ketiga adalah men-judge terlampau cepat. Kecepatan cahaya malah. Aku pernah menjadi orang yang gegabah dalam menilai seperti nggak mau ah makan ini, namanya aneh. Pernah juga aku nggak suka begitu saja dengan seseorang karena suaranya nyebelin atau bajunya atas dan bawah motifnya tabrakan. Itu contoh jelatanya. Contoh agak bangsawannya, saat pertama kali aku menonton video Briptu Norman. Video itu dimulai dari seorang polisi yang sedang duduk di post jaga sepertinya. Didepannya ada sebuah meja dan mengalunlah musik India berserta seorang polisi yang sedang merokok. Tanpa berpikir panjang aku langsung bilang “Apa-apaan ini polisi, sikapnya itu loh!Ckckckckck”. Tetapi setelah menonton full videonya, saya baru tahu kalau dia mau lypsinc lagu india plus jogetnya juga. Ow…!!

Wah, betapa buruknya sikap aku. Sejak hari itu aku mulai belajar untuk mengerem komentarku dan memberi waktu untuk diriku sendiri berpikir sejenak, setidaknya lima detik sebelum melontarkan respon. Itu waktu yang sudah cukup memadai untuk berpikir sejenak. Kemudian aku juga membaca lebih banyak buku, dari berbagai genre berbeda dengan tujuan melihat kontras yang lebih banyak sehingga aku bisa lebih bijak dan berhati-hati dalam menilai, dan itu terbukti berhasil. Aku menjadi jauh lebih terkendali dan tidak seliar dulu.

Tetapi ada satu masalah lagi, membaca buku artinya kamu menambah pengetahuanmu. Yang menakutkan adalah bisa saja aku terjangkit penyakit “Yang mulia”. Yang Mulia itu sebutan yang aku gunakan untuk menyebut orang-orang yang merasa dirinya mulia karena lebih tahu, lebih rajin, lebih pandai dan lainnya dibandingkan yang lain. Dia merasa paling benar. Sesuatu seperti itu. Padahal moment ketika kita merasa paling mulia maka disitulah timbul perpecahan. Maka dari itu membaca buku tidaklah cukup, harus bisa juga mengendalikan diri. Tahu kapan harus mengerem.

Sikap merasa lebih mulia bisa menghancurkan banyak hal dan itu bukan hal yang diharapkan. Dulu, jika ada suatu masalah aku meresponnya dengan kemarahan, tetapi ternyata itu menambah keriput di wajah, sial. Maka sekarang aku mengubahnya dengan senyum. Hey, setidaknya aku harus menyelamatkan reputasi produk perawatan kulit yang aku pakai, yang katanya mengurangi kerutan itu. Hasilnya akhir 2016 hingga 2017 bulan ini, kadar stressku menurun tajam. Aku hidup lebih baik. Lebih banyak tersenyum dari tahun-tahun sebelumnya, original version, no fake. Wajahku juga jauh lebih bersinar dan tidak lagi terlihat seperti manusia yang mati karena diracuni arsenik dan ditemukan setelah 24 jam. Semua berjalan sesuai harapan, masalah tentu selalu ada, hanya saja bisa terselesaikan dengan tepat. Aku juga jauh lebih terkendali dan tertawa dengan cukup.

2017, tindakan orang makin beragam saja, beberapa waktu lalu aku mengupload sebuah tautan Music Videonya SEENROOT – Oppaya (Sweet Heart). Lagu ini melodinya, liriknya bahkan suara penyanyinya itu unik dan lucu aja, makanya aku merespon dengan memposting tautanya. Aku nggak berharap di like, di komentari atau semacamnya. Cuma pengen nautin aja pokoknya. Tiba-tiba saya dikirimi emot seperti ini…

2

Ya, nggak masalah sebenarnya. Kebebasan untuk berkomentar kok. Yang membuat itu jadi bermasalah dalam sudut pandangku adalah, akhir-akhir ini aku sering mendapat emot itu dari seseorang dan itu berkahir dengan kalimat bodoh karena dia tidak menerapkan lima detik tadi untuk berpikir. Kasarnya gegabah, sok tahu tetapi bego. Akhirnya karena vaksin generalisasiku sedang menurun, aku langsung mengeneralisasikan orang dengan emot itu adalah orang yang gegabah, sok tahu, dan tidak memakai otaknya untuk berpikir. Tambahan, aku sebenarnya benar-benar nggak suka dengan emot ini tanpa maksud bercanda. It just like serious.

Sesungguhnya aku cukup merasa bersalah mengeneralisasikan seperti itu, tetapi disisi lain aku juga berpikiran negatif. Hampir saja kalimat keramatku keluar. Jika aku sampai menulis “Aku tidak tahu harus merespon seperti apa!” itu berarti aku sudah cukup kesal dan sangat mungkin sudah berpikir negatif hingga dititik yang tidak kamu pikirkan lagi. Akhirnya hanya aku balas seperti ini…

3

Itu salah satu upayaku untuk mengerem apapun yang aku pikirkan sejauh dan senegatif apapun itu. Maka harapanku adalah setidaknya sebelum merespon tolong pakai 5 detik itu untuk sejenak berpikir. Kalau 5 detik terlalu banyak, setidaknya 2 detiklah. Dua detik itu pemikiran kamu seharusnya sudah sampai di “Eung…”. Dari sana seharusnya kamu sudah sedikit sadar sebelum melakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Walaupun pada akhirnya negatif juga, setidaknya tidak akan seburuk yang pertama. I hope you will understand.

Ada kalimat yang selalu aku ingat dari Mas Pandji, yang beliau katakan di Tur dunianya 2016 – Juru Bicara, bahwa “Kunci Pendidikan yang sukses adalah rasa penasaran yang genuine dari anak-anaknya…Nggak ada motivasi belajar lebih besar dari rasa penasaran yang nyata. Tetapi pendidikan sekarang semua anak-anak, dihajar sama semua hal sehingga mereka nggak sempat penasaran. Sekalinya mereka penasaran, sama hal-hal diluar sekolah, tetapi kalau mereka fokus pada hal-hal itu dianggap nggak fokus sama pelajaran.”

Terdengar tidak nyambung dengan topik di atas, tetapi jika hipotesa aku benar (saya berharap tidak), semoga kalimat itu bisa memberi pengertian. Dan tolong 5 detik tadi…bisa diterapkan. Aku udah tulisin disini, kalian nggak perlu susah payah membaca buku The 7 Habits-nya Steven R. Covey yang tebalnya ratusan halaman. Dia tidak spesifik mengatakan berpikir 5 detik (itu teori saya aja berdasar pengalaman pribadi), tetapi hanya menghimbau seseorang untuk berpikir sebelum merespon sesuatu. Itu saja dan Cheerio…

Judul-Judul ‘Putus Asa’

Ada fenomena cukup menarik di Toko Buku selama beberapa bulan terakhir ini, dimana ada banyak sekali buku baru berlabel dibaca X juta kali. Hal itu dilatarbelakangi oleh penerbitan tulisan-tulisan di situs Wattpad oleh penerbit dalam negeri. Uniknya semua tulisan yang di terbitkan dari wattpad selalu dilabeli dibaca X juta kali. Memang tulisan yang di upload di wattpad akan selalu ter-count berapa jumlah pembacanya sehingga kita sebagai pembaca baru bisa melihat jumlah viewers untuk menentukan pilihan bacaan. Jujur bagi aku itu tidak bisa dijadikan patokan.

Karena…

Menurut pengalamanku sebagai pembaca wattpad, jumlah viewers tidak bisa menjamin bahwa suatu cerita itu bagus baik secara diksi, tata bahasa maupun jalan cerita. Bahkan tulisan yang masih berantakan sekalipun bisa dibaca hingga ribuan kali. Aku pernah membaca tulisan yang jumlah viewers-nya sudah 17ribu tetapi isinya masih acak adul. Tetapi ini bukan jaminan bagi cerita lainnya dengan viewers yang sama.

Kembali ke label X Juta kali tadi, bisa saja memang isinya bagus tetapi bisa juga tidak. Sepertinya itu bagian dari promosi penerbit untuk memberi review singkat kepada pembeli saja bahwa tulisan itu telah dibaca X Juta kali. Tapi jangan lupa untuk tetap berhati-hati dalam memilih karena label tidak bisa menjamin apapun. Tahu kan bahwa label seperti misalnya bestseller artinya penjulannya tinggi dan itu berarti juga bahwa mayoritas orang menyukai hal itu. Tetapi ingat bisa saja selera kalian minoritas seperti aku sehingga label-label seperti itu tidak bisa mewakili pilihan buku kita. Sejauh ini  aku tidak pernah membeli buku karena label bestseller atau dibaca X juta kali. Ketika memilih sebuah buku yang aku pertimbangkan adalah isinya, manfaatnya, dan penting tidaknya buku tersebut.

Jika hari ini kalian membaca buku karena takut dinilai kurang berbobot hanya karena membaca buku yang kelihatan ece-ece, abaikan saja. Atau bagi kalian yang membaca buku berlabel bestseller dan terkenal hanya untuk kelihatan keren. Lupakan! Berhenti melakukannya dan baca buku yang penting bagimu untuk dibaca karena dari sana citra keren itu akan muncul dengan sendirinya.

Aku memiliki teman di IG yang dulunya jika membaca buku yang dia baca hanya yang banyak dibaca orang dan terkenal. Namun, pada akhirnya dia bercerita tidak memperoleh apapun. Aku memberinya saran untuk membaca apa yang ingin dan penting untuk dia baca. Akhirnya dia mulai melakukannya dan dia merasa lebih baik sekarang. Lagian apasih tujuan kita membaca buku, mengetahui sesuatu, memahami dan memperluas pengetahuan. Jika kita saja tidak nyaman dan terpaksa membacanya hanya demi gengsi maka apa gunanya. Sia-sia saja.

Aku memiliki pengalaman juga soal pilihan buku ini. Jadi aku selalu membaca dimanapun tempat yang memungkinkan. Bacaanku pun beragam. Faktanya cover buku terbitan Indonesia itu tipis-tipis. Jarang sekali yang memiliki hard cover. Akhirnya banyak orang mengira aku membaca novel padahal buku yang aku baca bisa saja hukum, politik, kebijakan publik, travel atau bahkan Manajemen ekonomi dan lainnya. Ending-nya saya dianggap remaja galau pencinta novel romance picisan. Tapi siapa peduli, I’m not what they are thinking about. So, I don’t care. Aku tidak berpikir perlu untuk memperbaiki kesalahpahaman tersebut.

Kesimpulannya jangan terkoceh memilih buku hanya karena label atau karena buku tersebut banyak dibaca. Pilih yang perlu dan ingin kamu baca saja, jangan pusing dengan penilaian orang lain. Ambil keputusanmu sendiri karena hanya dengan begitu kamu mendapatkan manfaat yang kamu harapkan dari buku tersebut. So, good luck…

Image by https://img.clipartfest.com

Galeri

#Hardiknas: Keputusasaan yang tidak dibolehkan

Pendidikan…

Pendidikan…

Ya, Pendidikan adalah salah satu hal yang keputusasaan tidak dibolehkan didalamnya. Tidak dan tidak bisa.

Kenapa?

Sederhana saja, mengacu ke tulisan aku kemarin…karena pembangunan manusia adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Sejauh ini tidak ada satu bangsa pun yang maju tanpa pendidikan yang baik. Lihat Jerman, pendidikan di negara itu sangat ketat dengan kurikulum yang tidak main-main. Semua tersusun secara sempurna. Hasilnya, jelas sekali. Jerman merupakan salah satu negara maju di dunia.

Memang sempat ada isu tentang efek buruk dari sekolah yang digratiskan di Jerman dan Amerika. Entahlah kebenaran kabar tersebut, tetapi sekarang Jerman mulai memungut biaya pendidikan.

C-yP4duW0AARC3P
Education

Kedua, contoh paling dekat, Thailand. Negara yang akhirnya mencuri hati saya bersama Amerika Latin. Eropa??? Hmm…untuk Eropa…aku telah masuk ke halaman buku yang baru dan sudut pandang baru.

So, jadi tahu tidak bagaimana berkembang pesatnya Thailand sekarang? Luar biasa. Yang masih menganggap Thailand selevel Asia Tenggara, harus cek ulang deh. Thailand itu, pendidikannya jauh lebih maju sekarang. Saya baca di beberapa buku tentang Thailand dan memang Thailand memiliki misi untuk menjadi yang terdepan di Asia Tenggara. Untuk mewujudkan itu Thailand memajukan sekolah-sekolah mereka dengan merekrut guru-guru terbaik. Selain itu, jika ingin menjadi guru di Thailand tidak perlu magang seperti di Indonesia dan jelas diberikan kesejahteraan yang baik oleh pemerintah. Sepertinya Thailand sadar bahwa guru sangat berperan penting bagi pendidikan anak-anak di Thailand, maka mereka mempersiapkannya dengan baik.

Mungkin kalian belum tahu bahwa di Thailand mereka diajarkan bahasa Indonesia dan sejarah Indonesia. Anak-anak Thailand itu tahu sejarah Majapahit guys. Kalian gimana? Masih ingat? Kenapa mereka mengajarkan itu? Ya, untuk memenuhi visi Thailand menjadi yang terdepan di Asia Tenggara tadi. Sepertinya salah satu cara menjadi yang lebih maju adalah dengan ‘tahu’ tentang negara-negara lain. Mereka sedang mempelajari Indonesia, itu proses yang pernah dan masih terus mereka lakukan. Buktinya sudah ada, kemajuan yang kita lihat hari ini. Salah satu yang mencolok, tentunya jumlah wisatawan mereka yang jauh lebih tinggi dari Indonesia, padahal jumlah tempat wisatanya jauh lebih sedikit. Selain itu, mereka menjunjung tinggi budaya, kecintaan, dan kepedulian terhadap negara mereka tanpa menutup diri dari dunia Internasional. Itu kunci mengapa Thailand melejit sekarang – Pembangunan Manusia.

Lalu kenapa Indonesia? Karena Indonesia dianggap cukup berpengaruh di Asia Tenggara, makannya mereka menargetkan Indonesia. Sadar nggak kalau sekarang produk Thailand membanjiri Indonesia. Coba deh keluar rumah, kalian mungkin bakal lihat kedai-kedai minum berlabel Thailand.

Satu lagi, seperti yang pernah aku tulis di artikelku yang berjudul #World Book Day: Keterlambatan yang Mengubah bahwa Thailand disebut WEF sebagai calon bintang baru di dunia pendidikan. WEF nggak salah. Kalau tidak percaya, kupas saja Thailand dan jangan terkejut.

lyH6pvZDC9yXDqBm8ZW0jOEt_ydPABOv_MTkJK11RzY
Source: WEF

Kemarin aku lihat acara Korea, Battle Trip dan salah satu pesertanya memilih Thailand sebagai destinasi. Tiba-tiba saat lagi jalan kaki di Chiang Mai, Thailand, disebuah trotoar di tepi sungai yang bersih dia bilang “Wah, ige Europe ida” (Trans: Wah, ini seperti Eropa). Responku: Matjayo (Benar sekali).

Kembali ke pendidikan Indonesia. Sejujurnya membicarakan pendidikan Indoensia itu bagi aku “나 지금 센치해 (Na jigeum senchihae)” (Aku sekarang merasa sentimental). Sentimental itu suatu perasaan bosan sampai kita jadi sangat sensitif terhadap segala hal. Terkadang aku ingin nggak usah peduli, biarin aja mau apa saking keselnya, tetapi kok nggak bener juga ya. Saya jauh cinta dengan pendidikan Indonesia seburuk apapun itu. Setiap aku baca bukunya Mas Pandji juga Tour dunianya itu, tiba-tiba selalu muncul harapan dan keinginan-keinginan baru dalam diri aku. Aku benci anak-anak, tetapi aku tidak suka melihat anak-anak Indonesia dipermainkan sistem pendidikan. Nggak adil sekali jika kita membunuh kesempatan mereka untuk berkembang. Jadi, ayo jangan putus asa. Diantara banyak ketidakpedulian masyarakat Indonesia, ada sebagian kecil yang berjuang untuk pendidikan Indonesia, dan saya malu jika berencana berganti kewarganegaraan saja.

Hardiknas bagi aku adalah hal yang sangat precious, bahkan lebih dari ulang tahunku sendiri. I don’t really care about my birthday but Indonesian Education Day…I hope to be a person who make Indonesian Education brightly like the sun someday. Satu yang ingin aku yakini adalah aku memiliki harapan dan aku ingin kalian juga.

Terakhir, jika ingin tahu lebih dalam masalah pendidikan Indonesia bisa membaca buku barunya Prof. Rhenald Kasali – Disruption hal 397 “Universitas yang Harus Berubah”.

cropped-c4iagevueaa4dwf.jpg
This is the book

Memang itu membahas perguruan tinggi saja tetapi aku berharap dengan membaca itu kalian akan melihat kontras yang aku, Prof. Rhenald dan mungkin sebagian kecil orang lihat. Tujuannya dengan melihat kontras itu kalian akan bisa mengaplikasikan untuk hal-hal lain termasuk fakta-fakta pendidikan di bawahnya. Tentang inilah sesungguhnya wajah pendidikan Indonesia sekaligus alasan mengapa Indonesia selalu jalan di tempat. Tambahan, bisa juga membaca bukunya Pandji Pragiwaksono dan video tur dunianya.

EDUCATION is the most powerful weapon which you can use to change the world – Nelson Mandela

So, Selamat Hari Pendidikan Nasional. Matahari bersinar sangat cerah hari ini, semoga itu gambaran pendidikan Indonesia kedepannya. Jangan lupa juga bahwa Keputusasaan tidak dibolehkan dalam pendidikan. Bye…

#SelamatHariPendidikanNasional #Hardiknas

P.s By the way playlist saya tiba-tiba…

Five Minutes – Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh? *Kenapa? Ada apa?

iKON – Rythm TA

Winner – FOOL X REALLY REALLY

Yesung – 봄날의소나기

Galeri

#World Book Day: Keterlambatan yang Mengubah

World Book Day atau Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April, awalnya adalah sebuah perayaan Hari Saint George di wilayah Kolombia. Pada perayaan ini seorang pria akan memberikan mawar kepada perempuan mereka. Namun, sejak tahun 1923 para pedagang buku mulai mewarnai festival ini sebagai penghormatan kepada Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal pada tanggal yang sama, yakni 23 April. Sejak tahun 1925, kebiasaan pun berubah dimana wanita-wanita akan memberikan ganti bunga mawar yang mereka terima dengan sebuah buku.

Puncaknya, pada tahun 1995, UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Penetapan tanggal itu tidak saja karena penghormatan kepada Miguel de Cervantes, tetapi juga karena pada tanggal itulah banyak penulis besar dunia seperti William Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vegadan Josep Pla, Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejía Vallejoand Halldór Laxness menghembuskan nafas terakhir.

So, bagaimana harus memaknai Hari Buku Sedunia? Setiap orang tentu memiliki jawaban mereka sendiri. Untuk aku, singkatnya buku itu adalah kunci bagaimana si kumal dari kampung pedalaman terisolasi ini menjadi seperti sekarang. Tidak heroik-heroik amat, apalagi prestisus dengan jutaan prestasi atau apalah sebutannya. Tetapi yang pasti buku itu adalah jalan pertamaku melihat dunia selain traveling.

Hidup di pedalaman yang terisolasi tentu something yang like ‘Oh May Goodness”. Yah, bayangkan saja di awal abad ke-21 yang segalanya serba cepat, aku masih hidup dalam bayang-bayang internet yang sama sekali tidak ada, sinyal ponsel datang dan pergi, TV masih hitam putih atau sudah berwarna hanya saja dengan pilihan channel terbatas, No PC, dan Jalanan rusak. See, perfect. I will said it’s perfectly bloked. Itu adalah bagaimana aku menghabiskan masa kecilku. Suatu hari bundaku (beliau seorang guru) membawakan sebuah majalah, kalian mungkin sangat familier dengannya, Andaka. Setiap bunda membawa itu, antusiaku akan selalu merebak ke permukaan tanpa aku sadari,  karena aku baru sadar begitu mengingat-ingat kembali sekarang. Saat itu juga pertama kalinya aku mencintai hal baru selain buku yakni tumpukan buku. Pernah aku bilang ke bunda gini “Ma, besok bawain lagi ya, semuanya, tapi habis itu jangan dibalikin”. Kalau diterjemahkan pakai bahasa gaul mamaku balesnya gini “ Lah, lu kira majalah punya nenek buyutmu apa ya”. Dan tentu saja itu tidak berhasil. Say goodbye, Andaka.

Waktu terus berlalu dan majalah itu terus menjadi sahabat sehari-hariku, hingga suatu hari mamaku membawakan majalah baru, kalau tidak salah namanya GENTA. Di sampul belakang bagian dalam majalah itu ada suatu rubik yang masih aku ingat sekali, judulnya “Negeri 1001 Sepeda”. Di bagian kiri atas sang jurnalis laki-laki terlihat berdiri diantara barisan sepeda yang terparkir rapi di Belanda. Kalau diminta untuk menceritakan artikel itu sekarang, aku yakin masih mengingatnya hingga 80%. Tulisan itu sangat berkesan untukku karena saat itulah titik dimana aku jatuh cinta dengan dunia, negara-negara, keragamannya dan memulai petualangan baru dengan pikiranku yang dulunya terbatas.

Memasuki bangku Junior High School, ambisiku mulai nampak nyata. Aku selalu menyukai segala hal berjalan sempurna termasuk sekolah dan aku mendapatkannya, The best school. Tetapi ada kesulitan tersendiri untukku, PC (Personal Computer) aku belum bisa mengoperasikannya karena aku baru saja mempelajarinya beberapa minggu sebelum masuk SMP. I think I’m getting crazy. Jangankan yang rumit, nulis di Ms. Word aja nggak bisa. Sekarang tentunya tidak lagi.

Waktu berlalu dan aku kembali harus naik jenjang pendidikan, meskipun akhirnya tidak mendapat yang terbaik (I got the runner up), I’m okay karena itu ternyata menjadi tempat yang tepat karena aksesku terhadap buku yang dulunya perfectly terbatas, sekarang jauh lebih terbuka. Pada saat kelas dua SMA aku pergi ke kampung inggris dan disanalah pertama kalinya aku mengunjungi toko buku terbesar di Indonesia. Saat itu tahun 2013 bulan Juli. Saking berkesannya, buku yang aku beli menjadi buku yang super spesial, walaupun isinya…yah, nggak spesial-spesial amat sebenarnya. Waktunya saja yang menjadikannya berkesan. Memasuki akhir kelas 3 SMA, perpustakaan mendapat sumbangan buku baru dari alumni. Itulah kali pertama aku membaca karya-karya yang jauh lebih berbobot seperti Mind Power-nya John Kehoe, Mimpi Sejuta Dolar-nya Merry Riana, beberapa buku bahasa perancis dan banyak lainnya. Akses internet yang mulai mudah pun membuatku mengetahui begitu banyak buku-buku keren yang akhirnya aku masukan dalam daftar whishlist. Setahun kemudian daftar whishlist-ku…tentu saja tidak tercapai semuanya, bahkan hingga sekarang, karena ditengah perjalanan aku terus menambahnya. Setiap tercapai beberapa, muncul beberapa lainnya dan sangat mungkin tidak akan ada akhirnya hingga nanti.

Kesimpulannya, seburuk apapun sebuah hal adalah mungkin untuk berubah. Hanya saja cari kesempatan itu, disini buku adalah kata kunciku berubah, kalian bisa saja hal lainnya. Jika kalian tertinggal sebuah kemajuan, kenapa harus panik, kejar saja. Toh setiap orang memiliki kesempatan yang berbeda. Terkadang aku heran dengan perilaku beberapa orang yang menilai sesuatu dengan kesombongan, hanya karena dia tahu terlebih dahulu. Merasa paling pandai, menggurui dan merasa kastanya jauh lebih tinggi. Bagi aku itu tindakan yang sangat bodoh sekali. Kenapa? Sekali lagi ya karena setiap orang kesempatannya berbeda.

Aku ingin cerita satu hal terkahir, beberapa waktu ini aku memikirkan banyak hal dan kemudian aku menemukan fakta bahwa hal-hal  yang aku prediksikan dahulu mulai terjadi sekarang. Contohnya, di kelas 2 SMP aku tidak bisa menerima fakta bahwa “Pengalaman adalah guru terbaik”. Aku pernah mendebatnya saat melakukan diskusi kecil di beranda pada suatu sore dengan beberapa orang, tidak perlu aku sebut siapa. Yang pasti hingga sekarang aku masih tidak bisa menyetujui pernyataan itu 100%. Lalu apa, tumbangnya brand-brand besar dunia seperti Nokia, Blacberry, Kodak dan lainnya kini menjadi bukti bahwa “Pengalaman bukan guru terbaik juga”. Hal itu mungkin masih cukup relevan tujuh tahun lalu, tetapi tidak lagi ketika dunia memasuki dunia baru “Disruption”. Kembali ke Nokia, apa sih yang menyebabkan Nokia yang memiliki perusahaan dan SDM yang bagus, yang direkrut dari seluruh penjuru dunia. Diisi engineering kelas satu, tim pemasaran dan keuangan terbaik. Tidak cukup sampai disitu, Nokia juga memiliki branding kuat, produk berkualitas dibanding pesaingnya, harganya tepat, pemasaran tak bermasalah dan intensif penjualannya bagus. Poin plusnya Nokia juga terus berinovasi.

Apa lagi yang kurang dari Nokia? Nyaris sempurna, tetapi apa… mereka kalah. Di pidato terakhirnya CEO Nokia, Sthephen Elop mengatakan “We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost.”

Oh, bukankah pada akhirnya pengalaman masa lalu bukan segalanya?

Cerita lainnya adalah soal pendidikan. Pendidikan mulai memasuki fase baru sekarang. Dulu bagaimana aku melihat Thailand. Ya, negara yang sama lah dengan Indonesia. Sama-sama berbudaya Asia Tenggara. Pertama kali aku tahu bahwa Thailand bukan yang dulu lagi saat aku mulai menyukai sosok Ten, si Thailand yang terpilih menjadi anggota boyband baru SM Entertainment, NCT U. Saat itu ada acara NCT Life in Bangkok dan mereka mengunjungi sekolah lama Ten, Shrevbury International School, Bangkok. Sekolah ini keren banget, jangankan aku yang belum pernah lihat sekolah macam itu di Indonesia, member NCT lainnya aja yang dari Amerika dan Korea, yang sekolah keren bukan hal baru masih takjub juga.

panorama-content-banner
Shrevbury International School, Bangkok, Thailand

Shrevbury International School ini memiliki Hall yang sangat bagus, perpustakaan dengan koleksi tidak main-main begitu juga fasilitas penunjangnya, kelas-kelas mereka juga luar biasa, sekolahnya hijau, besar, rapi, bersih dan parkir mobilnya bahkan lebih besar dari luas keseluruhan SMA-ku dulu. Berangkat dari sana, dengan momen yang sempurna, aku mendapat buku yang mengupas tuntas Thailand luar dan dalam mulai dari pendidikan, kebiasaan masyarakat, sejarah, visi Thailand kedepannya dan masih banyak lainnya. Selesai membaca buku itu, satu hal yang aku yakini bahwa Thailand tidak selevel Asia Tenggara lagi. Thailand sudah mulai menyusul Singapura dan Malaysia khususnya dalam bidang pendidikan. Lalu puncaknya adalah beberapa hari lalu, World Economic Forum mengungkap negara-negara yang akan menjadi bintang baru dalam dunia pendidikan. Judul artikel mereka sendiri “These Countries could be The World’s New Education Superstars.” Tebak! Yes, Thailand masuk dalam daftar itu. See I tell you. Mereka menyebutnya TACTICS (Thailand, Argentina, Chile, Turkey, Iran, Kolombia, Serbia). Dari ketujuh negara itu, yang sudah aku prediksi akan memiliki kualitas pendidikan yang baik adalah Thailand, Argentina, Chile, Turkey dan Serbia. Aku menebaknya setelah aku banyak membaca buku-buku tentang negara-negara itu sejak 2014 silam. Kalian mungkin tidak percaya, tetapi mereka bahkan lebih dari memesona. Masih ragu? cari saja info-info tentang negara itu. Aku warning, jangan surprise kalau bahkan mereka telah mengalahkan Eropa.

lyH6pvZDC9yXDqBm8ZW0jOEt_ydPABOv_MTkJK11RzY
Photo by World Economic Forum

So, asik bukan mengetahui hal baru? Maka ini saatnya kamu mulai membaca karena buku bisa menjadikan kita jauh lebih analitis, tajam dan melihat kontras yang berbeda ketimbang pandangan orang kebanyakan. Percayalah, kalian akan menemukan banyak sekali hal baru, aku membuktikannya. Jadi, membacalah, buka duniamu. Jangan puas duduk dalam ketidaktahuan.

Jika terlambat pun mengubah, maka ubahlah.- Dya

That’s all and Happy World Book Day…

P.s Hari ini bertepatan dengan World Book Day, ada event buku besar-besaran di ICE BSD City. I hope I’m there, but…the reality is not allow me. So, I just visit bookstore to make me feel differently.

Mencoba ‘Terbuka’

Keragaman memang melahirkan sebuah keindahan menyejukkan. Namun, seperti sebuah kotak persegi panjang, keragaman juga menciptakan sisi lain yang sama sekali berbeda dengan sisi lainnya. Artinya dia memerlukan perlakuan khusus. Ya, sebuah kepekaan untuk saling menghargai demi terciptanya kedamaian diantara perbedaan.

Terkadang ada suatu waktu dimana aku merasa cukup terbuka, namun di situasi lain, ternyata itupun masih belum cukup. Berhubungan dengan manusia, dengan berbagai latar belakang yang jauh berbeda adalah tantangan yang harus sigap dihadapi karena bagaimana pun setiap manusia akan membawa keunikannya yang membedakannya dengan yang lainnya.

Pernah suatu waktu aku berteman dengan seseorang sepulangnya dia dari Jepang. Kami mengobrol santai lewat akun twitter. Saat itu kami mulai berteman dengan cukup baik. Dilatarbelakangi kesamaan minat kami pun menjadi semakin dekat, hingga suatu hari terjadilah demo besar-besaran yang dilakukan oleh umat muslim di Jakarta. Kalian tentu tahu kasus penistaan Qs. Al- Maidah oleh Pak Ahok ‘kan? Ya, disanalah kemudian perpecahan itu merebak diantara hubungan kami yang baru seperaduan senja.

“Entah knp gue ngerasa malu aja sampe demo segini hebohnya.. klo emg dia ngina agama bs lgsg ditindak scra hukum knp hrs sampe demo besar2an?”, begitu tulisnya di twitter hari itu.

Kemudian aku balas “Coba dipikirkan, bagaimana jika agamamu dihina?”

Tak berapa lama pesan itu kembali dia balas “lol aku jg muslim kali. Aku tau ahok itu ga bener uda ngina2 agama kita tp dg demo segini hebohnya bkn agama lain bnci sm kita”.

“Aku kan nggak nanya agama kamu apa, yang aku tanya bagaimana respon kamu ketika agamamu dinistakan!”. Begitu pesan balasan yang aku kirimkan, yang kemudian tidak direspon sama sekali dan dia mulai menjauh, hingga begitulah hubungan kami berakhir. Sampai saat ini aku masih terus berpikir, mungkinkah ada yang salah dari kata-kataku? Atau apa aku terlalu menggurui, terlalu sok bijak, sok tahu dan sebagainya. Namun, sampai sekarang pun aku masih nggak ngerti, tapi ada satu hal yang aku pelajari dari peristiwa ini bahwa aku masih belum se-terbuka yang aku pikirkan. Aku masih harus belajar lebih banyak lagi untuk menjadi jauh lebih terbuka, mendewasakn pikiran jika suatu hari nanti aku menghadapi hal serupa.

Di lain waktu, pernah seorang teman blog merilis artikel bertema agama berjudul “Lost my Religion”. Dalam tulisannya dia mengatakan religion is a history, or religion is a food I like right now. Yeah, pancake is my religion dan itu masih belum seberapa, yang terburuk dia bahkan menganalogikan agama seperti penis. Aku kira aku sudah berada di dunia lain yang ternyata membuat pikiran rasionalku menjadi hal yang sangat aneh disana. Rencana membacaku yang awalnya aku perkirakan akan selesai dalam 15 menit justru berakhir menjadi 3 jam lamannya. Aku paham dengan kegelisahannya, tentang ketidakpercayaannya terhadap agama yang dianutnya. Akan tetapi jika kemudian dia mengeneralisasikan terhadap agama yang lainnya, aku kurang setuju. Sesungguhnya ada banyak sekali hal yang ingin aku katakan, namun pada akhirnya aku tidak menulis apapun di kolom komentar. Pergi begitu saja, menjauh, dan memikirkannya diam-diam.

Lalu bagaimana akhirnya aku menyikapi hal itu? Actually, belajar agama memang tidak mudah, diperlukan sosok orang yang sudah mendalami agama untuk mendampingi kita dalam belajar karena ada banyak hal di dalam agama yang tidak bisa kita sikapi dengan pikiran rasional. Maka sebuah bimbingan itu penting adanya agar persepsi-persepsi yang pada dasarnya melekat pada kita tidak membolak-balikkan kebenaran dalam agama dan kitab suci itu sendiri. Agama memang tidak serta-merta bisa diterima oleh seseorang, karena setiap penganut agama mempercayai kebenaran agamanya masing-masing. Kita sendiripun jika dihadapkan pada ajaran agama lain pasti akan berpikir keras untuk membenarkan atau mungkin tidak membenarkan ajaran agama itu, maka disini aku berusaha demikian. Memahami kegelisahan mereka, dan menjaga hubungan baik terlebih dahulu. Mungkin jika datang kesempatan lain, saat itulah mungkin kita akan berbicara lebih banyak.

Dan dari semua hal tentang perbedaan, yang paling sulit adalah menghadapi penulis favorit yang berseberang pandang dengan kita. Lagi-lagi keterbukaan menjadi kunci penting. Saat ini aku berselisih paham dengan dua penulis favoritku. Tetapi aku tidak ingin gegabah membenci, atau hal lainnya. Yang aku pikirkan jangan sampai perbedaan satu pandangan kita akan mengaburkan banyak hubungan baik kita disisi lainnya atau juga dampak positif dari hubungan kita. Aku mencoba memahami perbedaan pikiran diantara kami dan terus berusaha menjalin hubungan baik, walaupun tentu dalam hati selalu ada penolakan dan rasa was-was. Menjalin hubungan baik pun  bukan berarti membenarkan pandangan mereka, hanya saja berusaha memahami cara pikir mereka yang lain dari kita. Aku tidak ingin mengulang kejadian pemutusan hubungan hanya karena perbedaan sudut pandang. Maka begitulah caraku bersikap karena duniaku bukan Indonesia lagi, tetapi seluruh dunia yang sayangnya tidak bisa aku mintai kesamaan kepercayaan dan pikiran. Aku tidak ingin dipandang agresif atau sejenisnya. Aku hanya ingin bisa menghadapinya dengan lebih bijak dan tidak gegabah menilai atau mengambil kesimpulan.

Hal itu aku terapkan juga untuk menghadapi serbuan media dan pemikiran-pemikiran yang menyinggung tentang pen-chinaan Indonesia, atau apalah itu sebutannya yang dikaitkan dengan desain baru mata uang Indonesia. China memiliki sisi lain yang tidak hanya buruk saja tetapi juga sisi baik yang dari sana bisa kita pelajari. Aku kira membenci bukan respon yang tepat karena biasanya, aku katakan biasanya karena bisa saja berbeda. Biasanya orang yang membenci akan membutakan diri, dan ketika kita membutakan diri maka kita akan menutup akses pengetahuan kita. Pada akhirnya kita malah menjadi antipati, tidak ingin tahu apapun, dan justru melakukan tindakan merugikan karena pikiran agresif kita yang tidak terkontrol. Jadi akan sangat baik menganalisinya dengan kepala dingin dan pikiran yang terbuka agar tercipta energi positif yang akan membawa kita pada keputusan terbaik, penilaian terbaik dan tindakan terbaik. Lagipula tak ada gunanya memendam kebencian, karena semakin dalam kita membenci sesuatu hal, maka sesuatu hal itu lah yang akan menjadi rotasi hidup kita secara terus-menerus dan tentu itu bukan situasi yang baik.

Kebiasaan makan yang sama saja bisa dinilai berbeda karena perbedaan kebudayaan, bagaimana dengan pemikiran kita. It is okay to be different but you need to be open minded person. This is how  you take care about different point of view, culture or anything. But don’t forget to stay still in the right rule.Good Luck and See You…

P.s Photo by http://blog.oxforddictionaries.com